Ini cuplikan dari novel “Ranjang” yg akan diterbitkan Djenar Maesa Ayu
Semoga anda berkenan…
Tubuh perempuan telanjang yang tergolek di atas ranjang itu memancing kembali gairahnya. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum rapat memaksanya pergi. Waktu yang sangat cukup untuk dipakai bercinta dan mandi.
Selalu merasa muda ia di samping perempuan itu. Selalu merasa perkasa ia walaupun segumpal daging yang tumbuh di antara selangkangannya berukuran tak lebih besar dari ukuran bocah laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas satu. Rasa nyaman yang terasa amat mewah dan tak bisa begitu saja didapatkan dari perempuan lain walaupun ia mampu membeli segala jenis perempuan dari berbagai macam jenis profesi. Dari yang bertarif rendah hingga paling tinggi.
Kebanyakan, bahkan bisa dibilang sembilan puluh sembilan persen perempuan yang ditemuinya tak mengenal basi-basi. Mereka datang hanya mengantarkan tubuh untuk digauli, lantas buru-buru pergi usai menerima bagian dari germo yang kerap dipanggil Mami. Membuat harga dirinya sebagai laki-laki runtuh. Membuat rasa percaya dirinya jatuh. Tak jarang waktu dan uang yang sudah terlanjur dikeluarkan menguap begitu saja karena ia urung membuka celana dalamnya. Tak kuat ia setiap kali mengingat berbagai ekspresi perempuan-perempuan saat menatap penisnya. Ada yang terpana. Ada yang sembunyi-sembunyi senyum. Bahkan ada yang tak bisa menahan gelak tawanya. Penghinaan tak hanya sampai di situ saja. Kadang jika ia berhasil mengabaikan ekspresi perempuan-perempuan itu dan akhirnya menggarap mereka sesuai dengan rencana, tetap saja tak terjadi reaksi seperti yang ia harapkan walaupun sudah berupaya habis-habisan menggenjot mereka hingga tulang pinggangnya terasa nyaris copot. Tetap saja tak ia dengar desahan-desahan maut yang dapat menahan agar nafsunya tak lekas melorot. Membuat ia berhenti. Memaksanya lagi-lagi harus berpuas diri dengan cara onani atau melampiaskannya di rumah dengan perempuan yang sudah terlanjur ia nikahi.
Tubuh perempuan telanjang yang tergolek di sebelahnya menggeliat. Menyadarkannya dari sejuta mimpi buruk. Merangkulnya kembali ke pesona cinta nan mabuk. Atau nafsu? Ia tak terlalu peduli. Otak sudah bukan lagi perangkat berpikir yang layak untuk dipakai pada saat masing-masing tubuh mereka dengan leluasa memainkan jarak hingga lava asmara yang sudah sarat tak lagi kuasa terbendung dan muncrat seperti cipratan kembang api nian semarak.
“Sayang, kamu kelewat sering ngelamun.”, kata perempuan itu sambil tertawa manja. Menampakkan baris rapi geliginya.
“Mikirin harus segera jalan ke rapat. Tapi berat rasanya jauh-jauh dari kamu.”, jawabnya.
Kadang ia tak mempercayai pendengarannya sendiri. Sepanjang hidup tak pernah pita suaranya bergetar begitu apik merangkai kalimat seperti yang baru diucapkannya tadi kepada satu pun perempuan, tak terkecuali istri. Tapi kalimat-kalimat seperti itulah yang kini kerap ia dengar. Membuatnya tak jarang merasa gusar. Tak akan pernah lagi ia menemukan perempuan yang begitu tulus menerima segala kekurangan fisiknya. Juga menerima setiap sen yang diberikan kepadanya tanpa pernah lebih dulu meminta. Membuat ia sering merasa bisa dan rela melakukan apapun demi perempuan itu. Jika harus membunuh pun, rasanya ia mampu.
“Sayang, kok ngelamun lagi?”
“Aku cinta kamu.”
Perempuan itu tersenyum dan menjawab pernyataan tadi dengan kecupan di kedua mata, meluncur perlahan ke hidung, terus meluncur melewati bibir hingga leher, terus dan terus menyeret kepalanya hingga sampai di selangkang yang mulai mendidih. Membuatnya merintih. Membuat tiap inci tubuhnya memohon lebih dan lebih.
Ia menatap sayu ke arah kepala yang bergerak timbul tenggelam di sela kedua pahanya. Persis di belakang timbul tenggelamnya kepala itu, terlihat tayangan berita di televisi tentang protes keras terhadap dua orang model yang berpose tanpa busana, di dalam taman indah laksana Adam dan Hawa. Ia menghela nafas lalu melirik ke arah jam tangannya yang melingkar di tangan kiri. Masih ada sisa waktu lima puluh menit lagi sebelum rapat memaksanya pergi. Waktu yang sangat cukup untuk dipakai bercinta dan mandi, sebelum meluncur ke Gedung DPR RI demi membahas Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi.
By. Djenar Maesa Ayu - dari blognya dia sendiri












One Response for "Secuplik bab dari novel Djenar mendatang, “RANJANG” ."
Lumayan menggairahkan, Mbak.
Leave a comment