Tiga Surat Cinta untuk Bunga

By at 10 October, 2008, 11:37

1.
Selama sebulan ini, sejak kisah cinta kita putus, aku sudah menulis surat cinta untukmu sebanyak tiga buah. Isinya sama, tentang cinta yang sia-sia. Namun, surat-surat ini tak akan kuberikan padamu. Cukup kutulis saja tentang perasaanku. Selanjutnya surat-surat ini akan kubuang. Aku hanya berharap suatu saat ada orang yang menemukan kemudian ia membaca dan membuangnya kembali. Sampai berkali-kali. Sampai surat-suratku tak terbaca dan menyatu dengan bumi. Kalau ini terjadi, bagiku sudah cukup aku bermimpi kita bisa bersatu kembali.

Saat aku tulis surat yang pertama, aku niati bahwa aku akan melakukan sandiwara untuk diriku. Maka aku memutusmu. Aku katakan padamu; Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Bunga. Kau telah layu setelah setiap malam percintaan kita selalu diakhiri dengan basah rambut. Aku sudah cukup menikmatimu. Kau sudah cukup basah. Aku ingin yang kering seperti saat pertama kau kubuat menangis, meratapi kejadian yang tak pernah kau alami.

Surat yang pertama selanjutnya kutaruh di bangku reot, tempat di mana pertama kali kau menatapku dengan penuh kebencian. Aku ingat, saat itu airmatamu jatuh menimpa bangku reot itu. Bangku tua yang tersudut di taman alun-alun kota. Saat kutaruh surat Ini aku membayangkan orang yang menemukan suratku adalah anak-anak yang tengah mengisi hari sorenya dengan ibunya. Saat anak itu menemukan surat ini ia pasti akan bergembira, mengharap apa yang terisi di dalam amplop putih itu adalah uang. Anak itu akan berteriak, “Aku menemukan uang”.

Ibunya akan merebut sambil berbohong, “Kau masih tidak boleh membuka amplop itu. Amplop ini isinya surat, bukan uang”
Dengan cemberut anak itu menyerahkan apa yang baru ditemukannya.
“Isinya surat apa, Bu?” anak itu bertanya setelah ibunya selesai membuka dan membaca suratku ini.
“Cinta”

“Apa itu cinta, Bu?”
“Kau belum boleh tahu, Nak.”
“Kalau begitu apakah boleh aku minta kertas-kertas yang isinya cinta itu, Bu!”
“Untuk apa?”
“Membuat pesawat kertas untuk mainan.”
“Bagus itu, biar Ibu yang membuatkan.”
Jadilah tulisan-tulisan cintaku menghias sayap, tubuh, dan kepala pesawat kertas mainan itu. Pesawat kertaS itu di lempar ke sana-ke sini, terbang kian-kemari, sampai akhirnya terdampar di ranting pohon beringin.

“Sudah mari kita pulang, Nak. Memang pantas nasib pesawat kertas itu di sana. Biar hancur oleh hujan.”
Aku terhenyak mengembangkan lamunanku. Betapa sia-sia aku menulis surat cinta untukmu, Bunga. Ternyata perasaan cintaku tak bisa menaklukan orang lain. Padahal jelas, dalam surat yang pertama aku juga menulis alasanku untuk meninggalkanmu; Aku tak kuasa percintaan kita dilanjutkan. Kita ditakdirkan saudara, Bunga. Ayahmu ayahku juga. Lelaki bejat yang setelah menitipkan bibitnya kemudian pergi menghilang. Aku kaget saat mendapati foto ayahmu yang tak sengaja kau simpan di buku harianmu. Lelaki dalam foto itu sama dengan lelaki dalam foto keluargaku. Tapi entah di mana dia sekarang. Setelah aku menginjak bangku SD lelaki itu menghilang. Beruntung kau belum pernah berkunjung ke rumahku yang terpencil. Aku berharap, Bunga, semoga kau sampai saat ini belum mengetahui rahasia ini. Seandainya kau tahu, pasti kau tidak akan memaafkan dirimu sendiri. Sama seperti diriku saat ini, ingin sekali membunuh lelaki itu. Dan bila melihat diriku di cermin, rasanya aku ingin juga membunuh diriku sendiri.

2.
Bunga, pada suratku yang kedua, aku kisahkan hidupku setelah kita berpisah. Hidupku terasa telah mati. Aku selalu membayangkan di dunia yang kedua kita tak juga bisa untuk bersatu kembali. Padahal kita telah berjanji, bila di dunia kita tak bersatu, kita berkeyakinan di alam baka bisa terus bertemu. Bunga, kau akan hidup di surga, sedangkan aku di neraka. Ini karena kau tak mengerti dengan apa yang telah aku lakukan padamu. Kau tak berdosa dengan persetubuhan kita. Kau melakukannya dengan rela, sedangkan aku memaksa. Kau atas nama cinta, sedangkan aku atas nama birahi membara. Tapi, kau harus tahu, birahi dan cinta bagi lelaki hampir tak ada bedanya.

Setelah surat yang kedua ini kumasukan dalam amplop putih dan kutulis buat Bunga, sama seperti surat pertama. Tapi, pada suratku yang kedua aku sengaja memesang foto kita, sedangkan yang pertama tidak. Aku letakan surat itu di bawah pohon randu yang tinggi, rindang, dan menjulang. Ini tempat kenangan kita. Di tempat ini aku pertama merayumu, memujamu, sampai timbul hasratku untuk memperkosamu. Dan hampir saja terjadi, untunglah, ulah anak kecil yang suka iseng mengintip itu mengagetkan hasratku. Tapi, di tempat ini aku nyata merasakan dan menyaksikan keindahan tubuhmu. Aku tak akan melupakan itu, Bunga. Ternyata keindahan tubuh perempuan yang dicintai itu 1000 kali indahnya dari tubuh perempuan yang kadang kusaksikan dalam film porno. Pantas saja, berawal dari nonton film porno, anak-anak remaja akhirnya memperkosa pacarnya. Padahal mereka baru anak-anak SMA. Apalagi aku padamu, Bunga. Bisa kau bayangkan betapa bernafsunya aku pada tubuhmu yang seksi menarik itu.

Setelah aku letakan surat ini di bawah pohon randu, aku membayangkan anak kecil yang pernah menggagalkan niatku untuk memperkosamu akan menemukan surat ini.
“Ada surat, Kak,” anak kecil itu berteriak pada kakaknya.
“Sini, biar aku yang membuka, kamu masih kecil tidak boleh membaca surat.”
“Memangnya itu surat apa, Kak?”
“Ini pasti surat cinta.”
“Surat cinta itu apa, Kak.”
Lelaki berusia belasan tahun itu tak membalas pertanyaan adiknya. Ia membaca dengan cermat surat itu.
“Isinya apa, Kak?”

“Kau belum boleh mengerti.”
“Tapi, itu foto siapa, Kak?”
“Kakak tidak tahu, apa kau mengenal orang ini.”
Anak kecil itu mengerutkan keningnya.
“Apakah kau mengenalnya?”
“Aku pernah melihatnya di bawah pohon ini, Kak. Tapi, aku tidak tahu mereka itu siapa.”
“Itu namanya kamu tidak mengenal, Bloon.”
Anak kecil itu nyengir dihina kakaknya.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan mencari kambing-kambing kita.”
“Tapi, Kak. Boleh aku menjadikan surat ini sebagai perahu kertas.”
Diberikannya surat itu pada adiknya. Kemudian anak kecil itu secepat kilat melipat-lipat kertas itu menjadi perahu. Dilabuhkannya perahu kertas itu beserta foto sepasang kekasih itu pada sungai yang deras mengalir.

“Hore…, perahunya melaju cepat,” anak kecil itu berteriak girang tentunya.
Tapi, tidak berapa lama kemudian perahu kertas itu hanyut dan tenggelam terbawa arus.
“Kak, perahunya hanyut tenggelam. Kenapa, ya?”
Pertanyaan anak kecil itu seakan-akan nyata dan mengagetkan lamunanku. Ah, Bunga, betapa nasib percintaan kita ditakdirkan hancur. Terus apa yang masih kutunggu darimu, Bunga. Aku tahu kalau kita sudah tidak bisa bersatu, tapi kenapa aku masih berharap keajaiban. Terkadang masih ada hasratku untuk menolak kenyataan. Saat itu anganku akan menghadirkanmu yang tiba-tiba datang dan mengatakan padaku, “Apa yang terjadi pada kita bukan takdir, Raka. Kita memang saudara, tapi cinta tak menghendaki persaudaraan kita. Haruskah kita menanggung salah dari lelaki yang telah jadi ayah kita! Tidak, Raka. Cinta kita lebih berharga dari bapak kita. Lebih mulia dari norma dan agama. Kau tahu itu, Raka… ”

Tidak!!! Aku berteriak keras memecahkan malam yang mulai menjaring bumi. Aku tidak bisa, Bunga. Aku hanya akan memberimu doa, semoga kau tidak akan tahu dengan rahasia ini. Aku lebih baik dibenci olehmu daripada kau tahu rahasia kita yang pilu dan menjijikan.
Dalam tidur malam ini aku dihantui oleh pesawat dan perahu kertas yang nasib naas. Terdampar dan hanyut yang berujung pada kehancuran yang diakibatkan oleh ulah anak kecil. Ini memupus impianku tentang suratku yang kuharap akan dibaca banyak orang. Aku berharap pada suratku yang ketiga bayanganku bisa indah, surat terakhirku paling tidak akan berharga bagi orang yang menemukannya.

3.
Pada suratku yang ketiga ini, aku menuliskan keputusanku yang bulat; Aku akan pergi jauh, Bunga. Aku sudah tidak sanggup lagi dihantui oleh perasaan terluka seperti ini. Selamat jalan, Bunga.
Kau ingat tempat pertama kali kita bertemu, Bunga, sebuah halte yang saat langit mengurai airnya lewat hujan, kau dan aku sama sedang menunggu Bus Kota. Tapi dasar negeri kita amburadul, demo berkali-kali terjadi. Dan hari ini giliran para supir protes dengan kenaikan BBM yang ingin diikuti kenaikan tarif. Ah, celaka kita akibatnya, tersudut di halte dengan di kepung hujan yang amat deras. Hujan pertama yang menakhiri musim kemarau.

“Maaf, di rambut Nona ada kotorannya, boleh kuambil,” kataku.
Kau diam menyilahkan, dan aku mengambil kotoran itu. Sejak saat itu kita terlibat pembicaraan yang sengit dan jadi kita sering buat janjian di halte ini. Sampai kita sepakat untuk menjalin percintaan.
Bunga, suratku yang terakhir untukmu akan aku letakan di kursi halte yang telah menjadi saksi perjumpaan kita. Aku membayangkan kalau suratku yang terakhir ini akan ditemukan seorang pemulung. Oleh pemulung itu suratku akan disimpan karena sepanjang hidupnya ia baru menemukan kertas yang indah dengan tulisan yang indah. Ah, aku akan senang. Betapa ternyata ada yang terselamatkan dari miliku yang paling berharga. Surat cinta untukmu, Bunga.
“Kenapa kau tidak membuka surat itu, Pemulung? Bisa saja isinya uang kan,” kawan si anak pemulung mempotes.

“Tidak. Aku yakin surat ini isinya soal cinta. Dan kata guruku, cinta itu berharga, lebih berharga dari dunia, maka aku harus menjaganya.”
“Siapa gurumu itu pemulung?”
“Guruku sangat cantik, ia Ibu guru yang tengah gagal soal cinta.”
“Harusnya kamu tak usah peduli kata-katanya.”
“Tapi itu benar, karena aku juga sekarang tengah mengenal cinta”
“Dasar edan.”

Bunga, aku tak bisa membayangkan percakapan si pemulung itu. Aku takut kalau Ibu gurunya yang cantik adalah kamu. Bukankah kau pernah bercerita padaku bahwa cita-cita tertinggimu adalah menjadi guru untuk para anak-anak terlantar.

4.
Pada suatu pagi sebuah surat kuterima dari tukang pos. Itu surat darimu, Bunga. Dalam suratmu yang singkat kau menulis, “Kenapa kau memperlakukanku seperti ini. Aku membencimu sepenuh hati?”
Terimakasih, Bunga. Aku sungguh bahagia dengan suratmu. Semoga kau selamanya tidak akan tahu dengan rahasia ini. Hari ini aku akan bunuh diri.
Selamat jalan, Bunga…***

By. Cerpen Heru Kurniawan
Dimuat di Batam Pos / 13-01-2008

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Categories : Cerita | Sastra