{"id":182,"date":"2008-09-06T18:34:10","date_gmt":"2008-09-06T11:34:10","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=182"},"modified":"2009-08-11T15:14:13","modified_gmt":"2009-08-11T08:14:13","slug":"penyair","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2008\/09\/penyair\/","title":{"rendered":"Penyair"},"content":{"rendered":"<p>Dia adalah rantai penghubung<br \/>\nAntara dunia ini dan dunia akan datang<br \/>\nKolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan,<br \/>\nDia adalah sebatang pohon tertanam<br \/>\nDi lembah sungai keindahan<br \/>\nMemikul bebuah ranum<br \/>\nBagi hati lapar yang mencari.<\/p>\n<p>Dia adalah seekor burung \u2018nightingale\u2019<br \/>\nMenyejukkan jiwa yang dalam kedukaan<br \/>\nMenaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya   <!--more--><\/p>\n<p>Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah<br \/>\nNaik dan mengembang memenuhi angkasa.<br \/>\nKemudian mencurahkan kurnianya di atas padang kehidupan. Membuka kelopak mereka bagi menerima cahaya.<\/p>\n<p>Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa mengajarkan Kalam Ilahi.<br \/>\nSeberkas cahaya gemilang tak kunjung padam.<br \/>\nTak terliput gelap malam<br \/>\nTak tergoyah oleh angin kencang<br \/>\nIshtar, dewi cinta, meminyakinya dengan kasih sayang<br \/>\nDan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.<\/p>\n<p>Dia adalah manusia yang selalu bersendirian,<br \/>\nhidup serba sederhana dan berhati suci<br \/>\nDia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham<br \/>\nDan berjaga di keheningan malam,<br \/>\nMenantikan turunnya ruh<\/p>\n<p>Dia adalah si tukang jahit yang menjahit benih hatinya di ladang kasih sayang<br \/>\ndan kemanusiaan menyuburkannya<\/p>\n<p>Inilah penyair yang dipinggirkan oleh manusia<br \/>\npada zamannya,<br \/>\nDan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan<br \/>\nDunia pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ia pada Ilahi<\/p>\n<p>Inilah penyair yang tak meminta apa-apa<br \/>\ndari manusia kecuali seulas senyuman<br \/>\nInilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi<br \/>\ncakerawala dengan kata-kata indah<br \/>\nNamun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya<\/p>\n<p>Sampai bila manusia terus terlena?<br \/>\nSampai bila manusia menyanjung penguasa yang<br \/>\nmeraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??<br \/>\nSampai bila manusia mengabaikan mereka? yang boleh memperlihatkan keindahan pada jiwa-jiwa mereka<br \/>\nSimbol cinta dan kedamaian?<\/p>\n<p>Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa? org yang sudah tiada?<br \/>\ndan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan<br \/>\nyang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala<br \/>\nbagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa<\/p>\n<p>Dan oh para penyair,<br \/>\nKalian adalah kehidupan dalam? kehidupan ini:<br \/>\nTelah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.<\/p>\n<p>Penyair..<br \/>\nSuatu hari kau akan merajai hati-hati manusia<br \/>\nDan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.<\/p>\n<p>Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel\u2026<\/p>\n<p>By. <a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Khalil_Gibran\" target=\"_blank\">Kahlil Gibran<\/a> &#8211; Dam\u2019ah Wa Ibtisamah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dia adalah rantai penghubung Antara dunia ini dan dunia akan datang Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan, Dia adalah sebatang pohon tertanam Di lembah sungai keindahan Memikul bebuah ranum Bagi hati lapar yang mencari. Dia adalah seekor burung \u2018nightingale\u2019 Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan Menaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13,4,9],"tags":[16,13,42,4,62],"class_list":["post-182","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kahlil-gibran","category-poem","category-sastra","tag-budiarto","tag-kahlil-gibran","tag-kakisemut","tag-poem","tag-poetry"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=182"}],"version-history":[{"count":7,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":371,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182\/revisions\/371"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=182"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=182"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=182"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}