{"id":427,"date":"2009-09-23T15:10:21","date_gmt":"2009-09-23T08:10:21","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=427"},"modified":"2009-09-23T15:10:21","modified_gmt":"2009-09-23T08:10:21","slug":"tuhan-kini-rumah-mu-redup","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2009\/09\/tuhan-kini-rumah-mu-redup\/","title":{"rendered":"Tuhan, Kini Rumah-Mu Redup"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Tuhan, kini rumah-Mu tak berpenghuni! Tuhan, apakah ini salahku. Tugasku kan hanya merawat rumah-Mu, kemudian kupanggil mereka untuk bersama-sama menghadap-Mu. Tuhan, apakah ini kelalaianku. Sementara mereka hanya membutuhkan-Mu kala keinginan mereka belum tercapai. Tuhan, hanya kepada-Mu lah segalanya kembali, kembali, dan kembali. Amin, amin ya robbal alamien.<\/p>\n<p>Sembari mengusap muka dengan kedua telapak tangannya, Pak Amir tutup doanya. Kemudian pelan ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju jendela.<\/p>\n<p>Sebeku tubuh Pak Amir yang mematung di antara daun jendela masjid, Subuh ini hadir bagai tanpa sepercik embun dan kebeningannya, sesepoi angin dan kesejukannya.<\/p>\n<p>Tak adakah di antara mereka yang mendengar panggilan-Mu, Tuhan. Padahal volume loudspeaker sudah aku keraskan. Tetapi, tak satu pun di antara mereka yang menyusul panggilan-Mu, gumam Pak Amir dalam hati.<\/p>\n<p>Sekalipun dari hari ke hari jemaah di masjid ini mulai menyusut, bahkan hingga pagi ini hampir tidak satu penduduk pun yang berjemaah, Pak Amir tetap memerintahkan kepada kedua muridnya untuk menghamparkan sajadahnya lebar-lebar. Dan dengan setia ia tunggu Ustaz Jufri dan Ustaz Khosen.<\/p>\n<p>Pak Amir menghela napas panjang. Tatapannya kosong ke depan, ke sebuah rumah-rumah yang berjajar rapi di sana. Kemudian terbayanglah keteduhan tutur Ustaz Jufri dan Ustaz Khozen kala merperkenalkan kepada para jamaah bagaimana dan seperti apa orang yang baik itu.<\/p>\n<p>Dua ustaz itulah yang dulu-dulunya mampu membuat masjid yang Pak Amir beserta kedua murid ngajinya rawat dipenuhi jamaah. Akan tetapi, setelah kedua ustaz itu berdiri di antara bendera yang berlainan warna, cahaya masjid yang Pak Amir rawat seakan redup. Hingga pagi ini, setelah berita tentang kemenangan dua ustaz itu menyentuh telinga Pak Amir, satu penduduk pun tidak Pak Amir temui berjamaah di masjid ini. Bahkan hingga volume loudspeaker ia keraskan, tetap saja tak ada tanda-tanda masjid ini kedatangan penduduk setempat. Hanya bersama dua muridnya Pak Amir isi kekosongan masjid ini.<\/p>\n<p>Lagi-lagi Pak Amir menghela napas panjang, kala bulatan hitam di kedua bola matanya mengarah pada kedua muridnya yang duduk bersila dengan Alquran di pangkuannya. Dengan langkah terpaksa Pak Amir dekati kedua muridnya itu. Tanpa diperintah kedua murid itu pun melantunkan ayat-ayat suci. Hingga matahari mulai terlihat sumringah di balik bukit, barulah kedua murid itu menghentikan lantunannya dan segera pamit undur diri.<\/p>\n<p>&#8220;Assalamualaikum, Pak,&#8221; salam kedua murid itu seusai mencium tangan Pak Amir.<\/p>\n<p>&#8220;Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Nak,&#8221; balas Pak Amir saat kedua murid itu menuntun sepeda ontelnya.<\/p>\n<p>Dan tanpa menunggu waktu lama, Pak Amir pun langsung pulang.<\/p>\n<p>Sepagi ini ia sudah meninggalkan masjid? Mungkin begitulah pertanyaan banyak orang yang kebetulan melihatnya. Memang tidak seperti biasa. Beda ketika Ustaz Jufri dan Ustaz Khozen kerap mendatangi masjid ini, hingga matahari sempurna menjerang bumi, bersama kedua ustaz itu, Pak Amir akan duduk berlama-lama di emperan masjid ini. Ada saja yang jadi bahan obrolan. Mulai dari masalah agama sampai tetek-bengek persoalan perut yang ujung-ujungnya kedua ustaz itu minta dukungan Pak Amir. Pak Amir yang berwajah lugu hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.<\/p>\n<p>&#8220;Keinginan Ustaz adalah keinginan saya juga. Apa jadinya jika masyarakat tak dipimpin oleh orang yang agama kuat seperti jenengan ini. Ah, saya tak bisa membayangkan, hancurlah negeri ini. Jadi, sepenuhnya saya akan mendukung Ustaz,&#8221; ungkap Pak Amir suatu ketika, saat Ustaz Jufri hendak pamit pulang.<\/p>\n<p>Tanpa membalas sepatah-kata pun, berlembar-lembar puluhan ribu Ustaz Jufri sodorkan ke tangan Pak Amir.<\/p>\n<p>&#8220;Jangan, Ustaz. Sekalipun tanpa ini, saya ikhlas, ikhlas, kok!&#8221; tandas Pak Amir yang mencoba menolak uang itu.<\/p>\n<p>Tetapi, Pak Amir tak kuasa menerima paksaan itu; paksaan yang terlalu kuat; paksaan yang sebenarnya membuat ngilu di bagian ulu hatinya.<\/p>\n<p>Tidak hanya Ustaz Jufri, di lain waktu Ustaz Khozen juga demikian. Berlembar-lembar puluhan ribu yang ujung-ujung minta dukungan harus Pak Amir terima.<\/p>\n<p>Bukan hanya Pak Amir, para jemaah yang lain pun ketiban rejeki dari kedua ustaz itu. Hingga para jemaah berasumsi bahwa hanya kedua ustaz itulah yang pantas dipilih. Selain agamanya kuat, kedermawanannya juga tak diragukan, begitu bisik-bisik para jemaah di masjid ini.<\/p>\n<p>Namun, setelah kedua ustaz itu dinyatakan sebagai pemenang mutlak, seperti di telan bumi, kedua ustaz itu tak lagi datang ke masjid ini.<\/p>\n<p>**<\/p>\n<p>Seperti biasa, sehabis salat Subuh, sehabis menyimak lantunan ayat-ayat suci dari kedua muridnya, sehabis menutup daun jendela dan pintu masjid, sehabis mengalungkan sajadah yang lapuk ke lehernya, Pak Amir pun bersiap untuk pulang.<\/p>\n<p>Tetapi, kali ini ada keganjilan yang menggelayuti perasaannya. Entah, karena apa. Tiba-tiba saja kedua kakinya enggan melangkah keluar dari emper masjid. Tepatnya di tengah halaman, di bawah ketapang, di atas balokan kayu besar yang menyerupai kursi memanjang, Pak Amir duduk, duduk termenung dengan dahi yang mengerut. Seperti memikirkan sesuatau yang tak terpecahkan, dengan tangan kanan ia cengkram dahinya. Lama, lama sekali. Hingga ia tak sadar sikapnya yang begitu telah mengundang perhatian orang-orang yang kebetulan lewat di situ.<\/p>\n<p>&#8220;Assalamualaikum. Ada yang bisa saya bantu, Pak?&#8221;<\/p>\n<p>Pak Amir terperangah. Kata salam yang tiba-tiba menyelusup di telinganya seakan menyadarkan bahwa ia saat ini harus mengubah sikap.<\/p>\n<p>&#8220;Was, was, wassalamualaikum. Oh, Pak Madun, waalaikumsalam,&#8221; jawab Pak Amir tergeragap. &#8220;Bapak mau ke mana?&#8221; ujar Pak Amir yang berusaha menenangkan diri.<\/p>\n<p>&#8220;Kebetulan, saya lagi jalan-jalan pagi,&#8221; jawab Pak Madun. &#8220;Oh, ya. Sepertinya Bapak sakit, ya!? Kira-kira apa yang bisa saya bantu, Pak?&#8221; sambung pak Madun mengulang pertanyaan awal.<\/p>\n<p>&#8220;Oh, tidak, tidak. Saya sehat-sehat saja, kok! Lihat ni.&#8221; Pak Amir segera berdiri tegap untuk meyakinkan bahwa apa yang ia katakan benar adanya. &#8220;Oh, ya. Bagaimana panti asuhan, Bapak?&#8221; lanjut Pak Amir mengalihkan pembicaraan.<\/p>\n<p>Kini giliran dahi Pak Madun mengerut. Seperti ingin membuang kalut yang bergelayut dalam pikirannya, Pak Madun hempaskan nafasnya.<\/p>\n<p>&#8220;Berat sekali Pak. Berat. Terus terang saat ini saya secara pribadi tak bisa berbuat apa-apa. Jika untuk menghidupi banyak orang, penghasilan saya ini tak seberapa. Jujur saja Pak, selama ini panti asuhan hidup dari uluran tangan para dermawan.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Terus, terus. Sekarang bagaimana?&#8221; tanya Pak Amir setelah melihat Pak Madun terdiam.<\/p>\n<p>&#8220;Tangan-tangan dermawan itu telah menghilang.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Maksud Bapak?&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Saya hanya berharap, Ustaz Jufri dan Ustaz Khozen kembali memperhatikan kami.&#8221; Pak Madun mendukkan kepala dalam-dalam.<\/p>\n<p>Mendengar nama kedua ustaz itu disebutkan, Pak Amir mengerutkan dahi.<\/p>\n<p>&#8220;Lantas, bagaimana rencana Bapak selanjutnya?&#8221; tanya Pak Amir setelah lama terdiam.<\/p>\n<p>&#8220;Ah, tak tahulah, Pak.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Bagaimana kalau kita ke sana, menemui dua ustaz itu. Saya juga ada perlu dengan mereka.&#8221; Pak Amir menawarkan diri.<\/p>\n<p>Seakan mencari kesungguhan tawaran itu, Pak Madun tatap lekat wajah Pak Amir.<\/p>\n<p>Sembari membalas tatapan Pak Madun, lirih Pak Amir berkata, &#8220;Jangan menunggu waktu lama. Besok kita harus ke sana.&#8221;<\/p>\n<p>Keesokan harinya, sesuai dengan janji yang disepakati, Pak Amir jemput Pak Madun di rumahnya. Dengan motor butut, keduanya pun berangkat.<\/p>\n<p>Namun, sesampainya di tempat tujuan, keduanya berdecap kecewa. Sebab kata pembantunya, Ustaz Jufri bersama keluarganya sedang berlibur di Puncak.<\/p>\n<p>&#8220;Biasa, hari Minggu, Pak!&#8221; tandas pembantu Ustaz Jufri.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau begitu, kira-kira hari apa Pak Ustaz punya waktu luang?&#8221; tanya Pak Madun.<\/p>\n<p>&#8220;Sepertinya, Pak Ustaz sibuk. Kalau tidak keluar kota, beliau pasti rapat.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Atau begini, Pak. Bapak nitip pesan saja,&#8221; tutur pembantu Ustaz Jufri setelah melihat kedua tamunya membisu.<\/p>\n<p>&#8220;Baik, baik. Dua hari lagi kami akan ke sini.&#8221; Pak Amir memberi kepastian.<\/p>\n<p>Akhirnya motor yang usianya melebihi pemiliknya itu, harus berjalan tersaruk-saruk lagi mengantar Pak Amir dan Pak Madun ke tujuan berikutnya.<\/p>\n<p>&#8220;Assalamualaikum.&#8221; Dari luar halaman Pak Amir menguluk salam.<\/p>\n<p>&#8220;Waalaikumsalam, Pak Amir. Silakan masuk,&#8221; balas Ustaz Khozen ramah. &#8220;Lama sekali tak bertemu, ya, Pak,&#8221; lanjut Ustaz Khozen terlihat akrab.<\/p>\n<p>Selanjutnya, setelah keduanya disuguhi berbagai hidangan ringan, setelah keakraban mereka jalin lewat obrolalan ringan, mulailah Pak Madun mengutarakan maksud. Tentang anak-anak di panti asuhannya yang kekeringan makanan, tentang kebingungan Pak Amir yang masjidnya sepi. Tidak sampai di situ, Pak Amir dan Pak Madun mendesak Ustaz Khozen untuk menyelesaikan persoalan-persoalan itu.<\/p>\n<p>&#8220;Begini, Pak. Saya kira bapak-bapak sudah menyadari, bahwa beginilah permainan,&#8221; ungkap Ustaz Khozen setelah lama berpikir.<\/p>\n<p>&#8220;Maksud Bapak?&#8221; tanya Pak Madun kebingungan.<\/p>\n<p>&#8220;Saya rasa, kita semua impas. Kemarin-kemarin saya sudah membantu bapak-bapak, sebagai balasannya bapak pun memilih saya. Saya ucapkan terima kasih atas balas budinya. Tapi sekali lagi, itu sudah impas, tak ada yang perlu dituntut.&#8221; Ustaz Khozen naik darah.<\/p>\n<p>Lain halnya Pak Amir yang tertunduk, Pak Madun menatap tajam wajah Ustaz Khozen.<\/p>\n<p>&#8220;Baiklah kalau begitu. Kami terima semuanya. Kami ucapkan banyak terima kasih juga atas bantuannya. Sekarang kami pamit undur diri.&#8221; Seketika itu Pak Madun berdri dan menyalami tangan Ustaz Khozen.<\/p>\n<p>Pak Amir yang tak bisa berkomentar apa-apa hanya mengikuti Pak Madun ke luar halaman tanpa uluk salam.<\/p>\n<p>&#8220;Jangan patah semangat. Kita masih punya harapan, Pak. Ustaz Jufri. Ya, Ustaz Jufri,&#8221; ungkap Pak Amir di tengah perjalanan pulang.<\/p>\n<p>Dua hari kemudian, sesuai dengan pesan yang di sampaikan lewat pembantunya, Pak Amir dan Pak Madun pun bertandang kerumah Ustaz Jufri. Tetapi, lagi-lagi keduanya harus menahan kecawa.<\/p>\n<p>&#8220;Anu, Pak. Sekarang beliau ada di luar kota. Bapak nitip pesan saja, apa keperluannya,&#8221; tawaran pembantu Ustaz Jufri.<\/p>\n<p>&#8220;Tak usah. Kami ingin bicara secara langsung dengan beliau,&#8221; balas Pak Madun.<\/p>\n<p>Namun, berhari-hari, berminggu-minggu, Ustaz Jufri tak ditemui. Hingga tiba suatu ketika Pak Amir dan Pak Madun mendapat sepucuk surat lewat pembantu Ustaz Jufri yang berbunyi, &#8220;Kemarin keinginan kalian sudah saya penuhi. Sebagai balas budi kalian pun memilih saya. Jadi sekarang kita impas. Tak ada yang perlu saling menuntut.&#8221;<\/p>\n<p>Seusai dibaca, Pak Madun remas-remas kertas surat itu. Matanya seperti menyala. Rahangnya mengatup. Amarah yang tersimpan seakan tak bisa ia bendung.<\/p>\n<p>&#8220;Pak, marilah kita berdiri tanpa kebergantungan kepada siapa-siapa. Marilah kita berdiri dengan semangat yang kita miliki,&#8221; ungkap Pak Amir mencoba meredakan amarah Pak Madun.***<\/p>\n<p>Yogyakarta, April 2009<br \/>\nBy. Basyir &#8211; Dimuat di Pikiran Rakyat<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tuhan, kini rumah-Mu tak berpenghuni! Tuhan, apakah ini salahku. Tugasku kan hanya merawat rumah-Mu, kemudian kupanggil mereka untuk bersama-sama menghadap-Mu. Tuhan, apakah ini kelalaianku. Sementara mereka hanya membutuhkan-Mu kala keinginan mereka belum tercapai. Tuhan, hanya kepada-Mu lah segalanya kembali, kembali, dan kembali. Amin, amin ya robbal alamien. Sembari mengusap muka dengan kedua telapak tangannya, Pak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[16,33,42,9],"class_list":["post-427","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerpen","tag-kakisemut","tag-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/427","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=427"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/427\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":428,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/427\/revisions\/428"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=427"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=427"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=427"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}