{"id":483,"date":"2009-12-25T04:23:22","date_gmt":"2009-12-24T21:23:22","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=483"},"modified":"2009-12-24T12:24:25","modified_gmt":"2009-12-24T05:24:25","slug":"rajamuda","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2009\/12\/rajamuda\/","title":{"rendered":"Rajamuda"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">1<\/p>\n<p>NAMANYA Ying. Lengkapnya, January Zhang Ying. Lahir awal Januari. Ia keturunan Tionghoa. Tapi ia kerap berkeras bahwa ia itu Indonesia sejati. Bukan karena sok nasionalis, tapi karena ia memang lahir di Indonesia, tumbuh besar di Indonesia, dan makan-minum di Indonesia. Bahkan, semasa di kampus, ia dikenal Indonesia banget.<\/p>\n<p>Ying murah senyum. Ia tak pernah membedakan status sosial dalam bergaul. Budaya sipakatau, berdiri setegak duduk sejajar, sudah mendarah daging baginya. Semua manusia sama. Tidak ada sekat pembeda. Karena itu Ying bisa diterima siapa saja. Mata sipitnya bukan halangan baginya untuk berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Tidak heran jika namanya amat akrab bagi warga Kabupaten Gowa, terutama di kawasan Malino. Bahkan, pernah ada pemeo, jika ada yang kesasar di Gunung Bawakaraeng, sebut saja nama Ying. Maka, jika ia laki-laki, orang itu bakal diperlakukan bak Raja. Dan jika perempuan akan dilayani seperti Ratu.<\/p>\n<p>Hanya satu yang kurang darinya. Gayanya urakan. Selebihnya, dia sempurna.<\/p>\n<p>2<\/p>\n<p>BELAKANGAN ini Ying sering merasa gelisah. Entah apa sebabnya. Apakah karena saya jatuh cinta, tanya hatinya. Tidak mungkin. Ia bukan perempuan yang mudah jatuh cinta. Bukan pula penganut mazhab jatuh cinta pada pandangan pertama. Michi salah besar.<\/p>\n<p>\u201cKamu pasti jatuh cinta!\u201d cecar Michi padanya.<\/p>\n<p>Ah, mustahil. Kata \u201cjatuh cinta\u201d sudah lama ia singkirkan dalam sejarah hidupnya. Bahkan kata itu sudah ia hilangkan secara sengaja dalam kamusnya. Apalagi jatuh cinta pada lelaki yang sudah beristri dan punya satu anak. Itu siri\u2019, perbuatan memalukan yang bisa menjatuhkan harga diri, sekaligus menorehkan luka. Bagi istri dan anak lelaki itu. Juga bagi dirinya. Apa kata orang nanti, seorang perempuan anti lelaki malah tega merampas suami perempuan lain. Oh, tidak!<\/p>\n<p>\u201dTidak mungkin,\u201d bantah Ying pagi itu.<\/p>\n<p>\u201cPasti!\u201d<\/p>\n<p>Ying tergelak. Mata sipitnya semakin meripit. Tak ada sejenak waktu yang bisa diluangkan olehnya untuk beternak binatang bernama cinta. No way! Baginya, mencintai lelaki adalah sebuah kesalahan. Apalagi jika perempuan hanya menjadi objek bagi lelaki untuk menunaikan hajat biologis. Menjadi budak yang hanya bisa mengiya. Yang setiap hari menurut seperti kerbau dicucuk hidungnya.<\/p>\n<p>\u201dHanya cinta yang bisa membuat seseorang bertingkah seaneh kamu.\u201d<\/p>\n<p>\u201dMustahil,\u201d bantah Ying. Di matanya membayang kisah Sashi yang semaput dan nyaris koma ketika Vicky meninggalkannya tanpa alasan jelas.<\/p>\n<p>\u201cLantas, mengapa kamu bisa berulah begitu aneh?\u201d<\/p>\n<p>3<\/p>\n<p>SEMUA bermula pada tiga hari silam. Raja, temannya di facebook, mengajaknya kopi darat di pantai Losari. Karena penasaran ingin melihat sosok yang sering menemaninya chating, Ying bersedia menerima ajakan itu. Alkisah, mereka bertemu di gadde Daeng Kulle, warung khas Makassar di tepi Losari. Sembari menunggu matahari membenam, mereka menyeruput sarabba\u2019 dan pisang epe\u2019. Singkat sekali pertemuan itu. Tapi Ying begitu menikmatinya. Belum pernah ia merasa senyaman itu di dekat seorang lelaki. Duduk bersisian, memandangi Pulau Kayangan dari kejauhan, sesekali mengangsurkan uang ribuan kepada pengamen jalanan.<\/p>\n<p>Rajamuda, begitu nama lengkap lelaki itu. Seorang keturunan bangsawan, tapi sikapnya sederhana dan bersahaja. Rambutnya cepak. Mukanya bersih. Jenggot tipis yang tertata rapi menghiasi lancip dagunya. Perawakannya sedang, tidak kerempeng tidak pula berotot. Dan, amboi, suaranya itu. Suaranya renyah dan empuk laksana suara penyiar radio ternama. Perjumpaan pertama itu makin mencengangkan, ketika mereka sepakat menonton pertunjukan Teater Tutur Jeneponto, di Benteng Somba Opu, malam minggu nanti.<\/p>\n<p>Sungguh, pertemuan singkat yang mengesankan!<\/p>\n<p>4<\/p>\n<p>YING belum pernah ciuman. Pacaran saja tidak, apalagi ciuman. Sesekali terbersit di hatinya keinginan menjajal seperti apa rasanya ciuman itu. Perempuan seusianya kerap bercerita tentang pacaran. Juga pengalaman berciuman. Tapi, begitulah ia. Orangtua kaya raya seolah jadi benteng tangguh yang sulit diterobos kaum lelaki. Absahlah kiranya hingga umurnya menginjak angka duapuluh lima, ia tetap seorang jomblo. Memang ia menolak jadi koloni lelaki, namun ia tetap lazimnya perempuan, ingin dicinta dan mencinta. Ingin merasakan gelegak ciuman. Atau\u2014setidaknya\u2014pelukan.<\/p>\n<p>Tapi, dengan siapa? Dan, rasanya seperti apa?<\/p>\n<p>5<\/p>\n<p>PERTEMUAN kedua, Raja tetap santun. Matanya saja enggan menjalari wajah Ying berlama-lama. Ia hanya tersenyum tipis atau mengangguk ramah. Biasa saja. Di atas pentas, lakon Sang Karaeng episode Kursi Panas, mulai mengocok perut dan menyentil hati. Hingga kotak susu di tangannya tandas dan sekantung kacang rebus berpindah ke perutnya, belum ada tanda-tanda Raja bakal memberinya pengalaman baru. Pengalaman yang diidamkannya sejak tiga hari lampau. Ia ingin bercinta bukan karena dorongan berahi. Ia hanya ingin tahu. Itu saja! Tapi ia tidak mau sembarangan memilih lelaki untuk memuaskan hasrat ingin tahunya itu.<\/p>\n<p>Yang pasti, sepanjang pertunjukan teater, Raja tetap berlaku santun. Saking santunnya, menyentuh tangannya pun tidak.<\/p>\n<p>Sungguh, pertemuan kedua yang mengesankan! Sekaligus mengecewakan!<\/p>\n<p>6<\/p>\n<p>\u201dKAMU sudah gila, Ying?\u201d gerutu Michi.<\/p>\n<p>Ying mendelik, \u201dGila kenapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201dApa yang kurang darimu hingga harus jatuh cinta pada suami orang?\u201d<\/p>\n<p>\u201dAku tidak jatuh cinta, Michi!\u201d<\/p>\n<p>Michi menggeleng-gelengkan kepala. \u201dAneh, kamu makin aneh. Ada yang salah pada syarafmu.\u201d<\/p>\n<p>\u201dJangan bawa-bawa syarif&#8230;?\u201d<\/p>\n<p>\u201dYing, kamu bisa mendapatkan lelaki mana saja,\u201d sela Michi. \u201cKamu kaya, punya banyak relasi, dan cantik. Banyak lelaki jatuh hati padamu!\u201d<\/p>\n<p>Ying tertawa getir. \u201dNyatanya saya masih jomblo.\u201d<\/p>\n<p>\u201dBuka dirimu! Lihat sekeliling. Ingat bagaimana cara Raymond menatapmu. Ingat Bella yang suka menelan ludah setiap bertemu denganmu. Ingat apa yang membuat Joy gugup setiap berada di dekatmu. Tanya kenapa Kelvin selalu menitip salam untukmu!\u201d<\/p>\n<p>\u201dMereka tidak menggetarkan hati saya.\u201d<\/p>\n<p>\u201dDan lelaki beranak satu itu sanggup menggetarkan hatimu?\u201d<\/p>\n<p>\u201dYup,\u201d jawab Ying mantap.<\/p>\n<p>\u201dOmmalek. Berarti kamu jatuh cinta.\u201d<\/p>\n<p>\u201dTidak,\u201d bantah Ying. \u201dIngin bercinta, bukan jatuh cinta.\u201d<\/p>\n<p>\u201dDengan lelaki yang sudah menjadi hak perempuan lain?\u201d cecar Michi. \u201cItu siri\u2019, Ying. Kamu tahu seluk-beluk adat Makassar, tapi mau menerjangnya.\u201d<\/p>\n<p>Ying tersedak. \u201dRaja mau cerai. Sekarang mereka pisah ranjang.\u201d<\/p>\n<p>\u201dTapi masih serumah?\u201d<\/p>\n<p>Ying mengangguk.<\/p>\n<p>\u201dItu hanya strategi untuk memerangkap dirimu,\u201d kata Michi. \u201cItu tipu daya lelaki, Ying. Hati-hati!\u201d<\/p>\n<p>Tiba-tiba handphone saya menjerit. Di layar terbaca sebuah nama. Buru-buru saya tekan tombol yes. Tidak lupa membunyikan speaker, biar Michi mendengarnya.<\/p>\n<p>\u201cDinda, kanda kangen kodong!\u201d tutur Raja, di seberang sana.<\/p>\n<p>Michi mendelik. Ying tersipu. \u201dDinda juga kangen. Daeng sih&#8230;!\u201d<\/p>\n<p>\u201dKenapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201dTega memaksa dinda terkapar menahan rindu.\u201d<\/p>\n<p>\u201dHehehe, sama. Ketemuan yuk?\u201d<\/p>\n<p>\u201dDi mana?\u201d sergah Ying penuh suka cita. \u201cSekarang?\u201d<\/p>\n<p>\u201dDi gadde Daeng Kulle. Langsung berangkat ya?&#8221;<\/p>\n<p>\u201dYa!\u201d sahut Ying seraya mematikan speaker.<\/p>\n<p>Michi terkesima, \u201dKamu mau menemuinya?\u201d<\/p>\n<p>Ying mengangguk.<\/p>\n<p>\u201dSadar, Ying. Ia menjebakmu. Jangan menemuinya. Jika benar ia menginginkan kamu, biar ia yang mengejarmu, bukan kamu yang takluk dan menyerahkan dirimu. Mana prinsip hidupmu selama ini? Kamu perempuan, Ying. Ingat, kamu perempuan!\u201d<\/p>\n<p>Ying tertegun. Ya, saya memang perempuan!<\/p>\n<p>7<\/p>\n<p>RAHANG Raja tegang. Dahinya berkerut. Matanya seolah kehilangan binar cahaya. Tak ada suara. Hanya hela napas menderu sesekali. Pantai Losari tetap ramai. Tapi Ying merasa begitu sunyi. Ia sapu wajah Raja yang digayuti awan kelabu. Ia beranikan diri meremas jemari Raja, seolah hendak berbagi kekuatan. Kali ini Raja tidak menampiknya. Meski matanya tetap terpacak di pucuk ombak.<\/p>\n<p>\u201dAda apa?\u201d<\/p>\n<p>\u201dMinggu depan kami cerai.\u201d<\/p>\n<p>\u201dAh, bertahanlah. Kasihan anakmu&#8230;,\u201d tutur Ying.<\/p>\n<p>\u201dTak mungkin bertahan lagi,\u201d ujar Raja, \u201dia beralih ke lelaki lain.\u201d<\/p>\n<p>Lalu, hening lagi. Lama sekali.<\/p>\n<p>\u201dMaaf, dinda tak bermaksud mengorek lukamu&#8230;\u201d<\/p>\n<p>Raja menoleh, \u201dTak apa.\u201d<\/p>\n<p>\u201dMau ke Malino?\u201d pinta Ying.<\/p>\n<p>Raja menatap mata Ying lekat-lekat. Dalam. Dan, lama.<\/p>\n<p>\u201dDinda hanya ingin menemanimu, Daeng. Jangan salah paham.\u201d<\/p>\n<p>Raja kembali membisu. Ah!<\/p>\n<p>8<\/p>\n<p>\u201cDaeng, saya hamil!\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa? Hamil?\u201d tanya Raja.<\/p>\n<p>\u201cYa!\u201d jawab Ying dengan pasti.<\/p>\n<p>\u201cTapi&#8230;\u201d ujar Raja ragu-ragu, \u201cgugurkan saja!\u201d<\/p>\n<p>Ying tersentak, \u201dApa?\u201d<\/p>\n<p>\u201dIni siri\u2019, aib bagi keluarga. Saya tak mungkin menikahimu.\u201d<\/p>\n<p>\u201dKatanya mau cerai?\u201d<\/p>\n<p>Raja gelagapan. \u201dItu rekayasa&#8230;\u201d<\/p>\n<p>Tiba-tiba saja telapak tangan Ying melayang ke wajah Raja. Menyisakan jejak merah. Tapi Raja tenang-tenang saja, hanya mengusap pipinya. Sialan!<\/p>\n<p>\u201dSelain itu, kita beda suku beda agama, Ying. Keluarga saya&#8230;\u201d<\/p>\n<p>\u201dSaya tidak butuh keluargamu. Saya butuh kamu,\u201d tukas Ying. \u201cMana paccenu, rasa iba pada janin di rahim saya?\u201d<\/p>\n<p>\u201dSudahlah, gugurkan saja!\u201d<\/p>\n<p>\u201dTapi&#8230;\u201d<\/p>\n<p>\u201dTidak ada tetapi. Lakukan saja!\u201d kata Raja sembari merogoh tasnya. Mengambil buku cek, merobek selembar. Lalu menulis angka puluhan juta di atasnya. Tanpa sepatah kata, cek itu disorongkan ke arah Ying. Buku ceknya dimasukkan kembali ke dalam tas. Berdiri, lalu meninggalkan Ying, begitu saja.<\/p>\n<p>\u201dDaeng&#8230;\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Khrisna Pabichara<br \/>Dimuat di Jurnal Bogor 13 Desember 2009<\/strong><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1 NAMANYA Ying. Lengkapnya, January Zhang Ying. Lahir awal Januari. Ia keturunan Tionghoa. Tapi ia kerap berkeras bahwa ia itu Indonesia sejati. Bukan karena sok nasionalis, tapi karena ia memang lahir di Indonesia, tumbuh besar di Indonesia, dan makan-minum di Indonesia. Bahkan, semasa di kampus, ia dikenal Indonesia banget. Ying murah senyum. Ia tak pernah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[16,8,29,33,42,71,9],"class_list":["post-483","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut","tag-rajamuda","tag-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/483","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=483"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/483\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":486,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/483\/revisions\/486"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=483"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=483"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=483"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}