{"id":512,"date":"2010-03-02T15:06:29","date_gmt":"2010-03-02T08:06:29","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=512"},"modified":"2010-03-02T15:06:29","modified_gmt":"2010-03-02T08:06:29","slug":"surat-dari-surga","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/03\/surat-dari-surga\/","title":{"rendered":"Surat Dari Surga"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sore hampir gelap. Aku membuka pintu pagar rumahku, seraya bernapas  lega.\u00a0 Selalu.\u00a0 Setibaku di depan rumah, sepulang dari bekerja, rasa  letih seketika hilang saat aku berdiri di depan pintu pagar.<\/p>\n<p>Sejenak,\u00a0  aku biasanya melihat sekeliling sebelum bergegas menutup pintu pagar  lalu memasuki rumahku.\u00a0 Rumah ini baru kutempati sebulan lalu yang aku  cicil dari sepertiga gajiku.\u00a0 Tapi, petang ini aku merasakan beda.\u00a0  Jalanan lengang. Angin serasa tak berbisik. Dedaunan di taman serasa  menggigil dan kaku.<\/p>\n<p>Padahal,\u00a0 seharian tadi tidak turun hujan.\u00a0  Aku menutup pintu pagar seraya mengedarkan mata. Tapi,\u00a0 sebelum  menghambur ke beranda, tibatiba sudut mataku melihat sebuah amplop putih  terselip di kotak surat rumahku. Amplop itu nyaris jatuh.\u00a0 Segera aku  melangkah dan menggerakkan tanganku cepat-cepat memungutnya agar tak  jatuh.<\/p>\n<p>Aku menyempatkan waktu sejenak untuk membaca alamat  pengirimnya dan aku nyaris pingsan setelah membaca halaman depan dan  belakang surat itu. Tak ada alamat pengirim, hanya ada sepenggal namaku  yang tertera di halaman depan surat,\u00a0 prangko kusam di ujung kiri atas  amplop,\u00a0 dan juga stempel pos.<\/p>\n<p>Aku tidak ragu,\u00a0 surat itu  dikirim seseorang yang sudah aku kenal dari kota kelahiranku, tapi sudah  tak lagi aku lihat tiga tahun ini.\u00a0 Jantungku serasa berhenti  berdegup,\u00a0 bahkan hampir rontok.\u00a0 Sepucuk surat itu membuatku seketika  tersekap dalam ruang rumpil,\u00a0 terlipat dalam lorong waktu sampaisampai  aku lupa untuk segera membuka pintu dan bergegas masuk.<\/p>\n<p>Bagaimana  mungkin orang yang meninggal tiga tahun lalu bisa menulis sepucuk surat  buat anaknya? Aku masih mengenali tulisan tangan ayahku meski aku ragu  jika surat itu ditulis oleh ayah dari surga.\u00a0 Aku tidak lupa, ayah sudah  meninggal tiga tahun lalu.\u00a0 Aku memang tak sempat berbicara dengan ayah  sebelum sakratulmaut menjemput meski aku masih menjumpai ayah terbaring  kaku, tak sadarkan diri di rumah sakit sebelum maut datang menjemput.<\/p>\n<p>Lalu  kabar apa yang akan beliau ceritakan kepadaku sampai harus menulis  sepucuk surat? Jemariku seperti berlipatan,\u00a0 dan basah oleh keringat.  Aku menelan ludah yang hampir kering dan masam.\u00a0 Selama beberapa saat  sekujur tubuhku bergidik. Aku dilanda takut, tetapi tetap aku putuskan  untuk membukanya.\u00a0 Dan aku tak dapat membayangkan,\u00a0 berita apa yang  ditulis ayah kepadaku. Bayanganku tentang sosok ayah yang terbaring  lemas sebelum ajal itu menjemput justru membuatku lunglai.<\/p>\n<p>Aku  hanya bisa menerkanerka; apa salahku sampai-sampai beliau perlu menulis  sepucuk surat? Aku masih ingat saat ibu menelepon dan bercerita bahwa  ayah terkena stroke dan terbaring di rumah sakit.\u00a0 Hari itu aku langsung  minta izin cuti dari kantor,\u00a0 buruburu mengepak barang-barang dan  bergegas ke terminal untuk pulang ke kampung.<\/p>\n<p>Tapi,\u00a0 aku  benarbenar diburu waktu. Aku langsung ke rumah sakit kabupaten, dan tak  langsung ke rumah.\u00a0 Sesampaiku di rumah sakit,\u00a0 aku menjumpai ayah  terbaring kaku.\u00a0 Aku sudah tak sempat mendengar pesan terakhir dari  beliau.\u00a0 Ayah koma,\u00a0 tak bisa buka mulut,\u00a0 matanya terpejam dan empat  hari kemudian maut memisahkan kami.<\/p>\n<p>Aku duduk lemas,\u00a0 merasa  berdosa. Aku dicekam rasa bersalah karena tidak mampu memindahkan ayah  ke rumah sakit provinsi ketika dokter memvonis ayah tidak bisa ditolong  lagi dengan alasan bahwa peralatan medis di rumah sakit kabupaten tidak  memadai.\u00a0 Aku tak bisa berbuat apaapa ketika mendengar vonis dokter itu  menelusup ke daun telingaku.<\/p>\n<p>Secuil rasa bersalah itulah yang  sampai sekarang ini masih kupikul,\u00a0 membuat dadaku serasa sesak jika aku  mengingat kematian ayah tiga tahun lalu.\u00a0 Apa ayah masih belum bisa  memaafkan kesalahanku? Jantungku berdegup kencang.\u00a0 Dadaku kembali  serasa sesak. Aku menarik napas panjang,\u00a0 merobek pinggiran amplop.<\/p>\n<p>Surat  itu tak panjang, ditulis tangan menggunakan bolpoin berwarna biru  dengan bahasa yang cukup sederhana.\u00a0 Sebuah surat yang ditulis tanpa  tanggal,\u00a0 mungkin ayah menulisnya dengan tangan gemetar di atas secarik  kertas yang disobek dengan buru-buru dari buku tulis anak sekolah  dasar,\u00a0 yang kuyakini buku tulis milikku dulu yang sempat disimpan ayah  dengan baik sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar.<\/p>\n<p>\u201cSalam,\u00a0  Ayah tidak ragu,\u00a0 kamu besok akan meraih gelar sarjana dan bisa  mendapatkan pekerjaan layak seperti yang kauimpikan. Ayah tak ragu itu!  Sejak kau pergi dari rumah melanjutkan kuliah,\u00a0 ayah selalu membayangkan  malam-malam yang menggelisahkan,\u00a0 saat kamu mengerjakan pekerjaan rumah  dengan teliti,\u00a0 tidak pernah mau menyerah.\u00a0 Itu yang membuat ayah  yakin. Tetapi, ayah cuma tidak yakin satu hal; apakah kamu besok akan  ingat rumah dan mau pulang setelah jadi orang? Wassalam,\u00a0 Ayahmu\u201d Apa  benar surat itu dikirim ayah dari surga? Secarik kertas dalam surat itu  tiba-tiba terhempas dari tanganku.<\/p>\n<p>Aku yakin, itu tulisan  tangan ayah.\u00a0 Aku tak ragu. Keringat dingin seperti membasahi telapak  tanganku,\u00a0 mengalirkan hawa dingin yang membuatku bergidik takut.\u00a0 ***  Memang, tak sekali ini aku menerima surat dari ayah.\u00a0 Dulu,\u00a0 sewaktu aku  masih kuliah,\u00a0 ayah pun sering berkirim surat. Apalagi sejak ayah jatuh  sakit,\u00a0 tatkala sudah tak kuat lagi membanting tulang untuk kerja  mencari uang untuk mengirimiku uang kuliah.<\/p>\n<p>Aku pikir karena  deraan rasa bersalah setelah tak mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi  orang, ayah lantas menulis surat buat anaknya,\u00a0 termasuk buatku yang  waktu itu baru memasuki tahun pertama kuliah.\u00a0 Aku tidak menyangka ayah  akan ambruk diserang strokejustru ketika aku belum lulus kuliah, dan  masih membutuhkan banyak biaya.\u00a0 Aku masih ingat surat yang ditulis ayah  di secarik kertas bekas obat nyamuk bakar yang kusam dan berdebu.<\/p>\n<p>Sepucuk  surat yang dititipkan ayah melalui teman kuliahku itu justru membuatku  hampir limbung dan nyaris putus asa.\u00a0 Bagaimana aku tak limbung jika di  awal bulan biasanya ayah mengirim surat disertai uang,\u00a0 justru di surat  ayah itu, aku hanya menjumpai secarik kertas belaka?<\/p>\n<p>\u201cSalam,\u00a0  Anakku,\u00a0 bagaimana kabarmu? Semoga dalam keadaan sehat.\u00a0 Ayah minta  maaf,\u00a0 bulan ini tak bisa mengirimi uang.\u00a0 Ayah hanya minta, kau tahu  apa yang harus kau lakukan.\u00a0 Ayah sudah tua,\u00a0 juga diserang sakit. Ayah  yakin,\u00a0 kau pasti bisa! Ayah mengenalmu,\u00a0 kau anak yang tak mudah  menyerah. Ayah hanya tak ingin kau lupa mengerjakan salat. Itu saja!  Selanjutnya,\u00a0 ayah hanya berharap.<\/p>\n<p>\u201c Usai salat, kamu mau berdoa  agar kesehatan ayah segera pulih! Wassalam Ayahmu\u201d Surat yang ditulis  oleh ayah di atas secarik kertas obat nyamuk bakar kusam itu langsung  membuatku menitikkan air mata. Tak pernah aku menangis untuk ayah,\u00a0  tetapi kali ini,\u00a0 air mataku seperti menjebol tanggul kelopak mataku.\u00a0  Aku bahkan tidak mampu membendung.\u00a0 Air mataku bercucuran.<\/p>\n<p>Sejak  aku jauh dari rumah,\u00a0 surat itu adalah surat pertama yang ditulis oleh  ayah buatku. Aku kira di bulan berikutnya ayah sudah pulih,\u00a0 dan sembuh  dari sakit sehingga bisa mengirimiku uang kembali sebagaimana biasa.\u00a0  Tetapi,\u00a0 harapanku itu tak pernah terjadi! Sejak surat pertama yang  menyedihkan itu,\u00a0 bulanbulan berikutnya aku menerima surat ayah dengan  tulisan yang susah kubaca dan lebih tragis lagi: tak disertai kiriman  uang.<\/p>\n<p>Sepucuk surat yang selalu kuterima pada awal bulan dengan  sedih, bukan karena aku tidak bisa mencari uang,\u00a0 tapi semata-mata  karena aku tidak tega mendengar kabar ayah semakin tidak berdaya  diserang sakit.\u00a0 Untung,\u00a0 sejak ayah sakit,\u00a0 aku mampu mencari uang  sendiri. Bisa jadi, itu berkat doa ayah yang membuatku tak kesulitan  mendapatkan pekerjaan paruh waktu sebagai desainer grafis.<\/p>\n<p>***<br \/>\nTak  ingin lama berdiri di pintu pagar disergap rasa takut,\u00a0 aku segera  memungut surat ayah yang terjatuh dari tanganku,\u00a0 kemudian aku bergegas  memasuki rumah.\u00a0 Hari hampir gelap. Aku segera menyalakan lampu setelah  memasuki rumah.\u00a0 Lalu aku cari-cari album keluargaku. Masih kuingat, di  album itulah dulu aku menyimpan surat terakhir yang ditulis ayah  buatku.<\/p>\n<p>Tapi, setelah almari kamar, laci,\u00a0 rak buku, dan  seluruh ruangan, aku obrak-abrik ternyata tidak aku temukan album yang  menyimpan foto ayah dan surat terakhir beliau.\u00a0 Aku disergap gugup, juga  bergidik.\u00a0 Siapakah yang telah mencuri surat terakhir ayah dari  rumahku? Aku mondar-mandir,\u00a0 mengelilingi setiap ruangan. Bingung.  Bimbang.\u00a0 Ragu juga dilanda takut.<\/p>\n<p>*** Aku menerima surat  terakhir dari ayahku yang dikirim buatku pada hari yang cukup  menenteramkan saat aku diwisuda.\u00a0 Di hari wisudaku itu sebenarnya aku  berharap ayah akan datang ditemani oleh bunda. Karena waktu itu, ayah  tidak lagi sakit meski masih belum mampu bekerja kembali.\u00a0 Tapi,\u00a0 yang  tiba mengiringi wisudaku adalah surat terakhir ayah yang membuatku  ditikam sedih!<\/p>\n<p>\u201cSalam,\u00a0 Anakku,\u00a0 ayahmu bangga padamu karena  akhirnya kamu bisa lulus,\u00a0 dan diwisuda.\u00a0 Sayang,\u00a0 ayahmu tak kuat untuk  datang pada hari yang membahagiakan itu.\u00a0 Ayah hanya berharap, kamu  cepat mendapat kerja! Ayah bangga kamu terlahir sebagai anak yang tak  mudah menyerah,\u00a0 meski didera nasib getir dan kehidupan yang pahit!  Selamat berjuang,\u00a0 Ayahmu\u201d<\/p>\n<p>Aku sedih, tepat di hari yang cukup  membahagiakan itu! Di saat teman- temanku memakai toga dengan sungging  senyum dikelilingi segenap keluarga bisa mengabadikan kenangan kelulusan  itu melalui sudut kamera. Tetapi, aku hanya berpangku tangan. Tak  merasa ada orang dekat yang mendampingiku.<\/p>\n<p>Aku tak jadi ikut  wisuda, langsung pergi dari aula kampus dan pulang ke kontrakan:  mengepak pakaian,\u00a0 lantas pulang ke rumah. Aku ingin menjenguk ayah. Aku  ingin mempersembahkan baktiku,\u00a0 gelar sarjanaku yang baru aku raih  dengan susah payah itu buat ayahku.<\/p>\n<p>*** Meski seluruh isi rumah  sudah berantakan,\u00a0 karena aku obrakabrik,\u00a0 tetap saja surat terakhir  dari ayah itu tidak berhasil aku temukan.\u00a0 Di mana surat itu aku simpan?  Padahal,\u00a0 selama ini aku tidak pernah lupa menyimpan surat kenangan  yang pernah aku terima bahkan surat terakhir dari ayah itu.\u00a0 Seingatku,\u00a0  surat dari ayah itu kusimpan rapi di almari. Tetapi, bagaimana bisa  surat terakhir ayah itu, kini tak ada di sana? Aku mengedarkan pandangan  ke segala arah. Semua buku berceceran.<\/p>\n<p>Nyaris semua pakaianku  tumpah dari almari. Tapi,\u00a0 surat itu tak juga aku temukan.\u00a0 Apa aku lupa  kalau surat dari ayah itu sudah kubawa pulang ke kampung? Kuraih gagang  telepon. Sejurus kemudian,\u00a0 kudengar suara ibu di kampung.\u00a0 \u201cBunda,\u00a0  ini Wahyu.\u00a0 Gimana kabar bunda?\u201dtanyaku, gugup.\u00a0 \u201cEh,\u00a0 kau sudah sampai  mana? Berapa jam lagi sampai di rumah?\u201d tanya bunda, membuatku terpana.\u00a0  Aku bingung.\u00a0 \u201cBunda. . . aku masih di Jakarta.\u00a0 Aku menelepon bunda  karena ingin menanyakan sesuatu.<\/p>\n<p>Apa bunda tahu surat. . . \u201d  \u201cLho,\u00a0 kau ini gimana? Seluruh keluarga di rumah sudah menunggumu,\u00a0 tapi  kau belum juga tiba di sini?\u201d potong bunda tanpa menungguku selesai  bicara soal surat ayah yang membuatku pusing.\u00a0 Aku terdiam.\u00a0 \u201cBukankah  seminggu lalu bunda sudah meneleponmu?<\/p>\n<p>Apa kamu lupa kalau hari  ini seribu hari meninggalnya ayahmu?\u201d Deg!!!Jantungku berdegup. Gagang  telepon yang kupegang nyaris jatuh. Azan magrib yang menggema dari  masjid kompleks perumahan,\u00a0 serasa membuatku bergidik.\u00a0 Jantungku nyaris  copot.\u00a0 Mataku berkunang-kunang.\u00a0 Aku termangu, \u201c Apakah surat itu  benar-benar dikirim ayah dari surga?\u201d Kakiku gemetar, dan aku terhuyung  jatuh.\u00a0 ***<\/p>\n<p>Lasem,\u00a0 Februari 2010<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Noer Mursidi<br \/>\nDimuat di Seputar Indonesia 28 Februari 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sore hampir gelap. Aku membuka pintu pagar rumahku, seraya bernapas lega.\u00a0 Selalu.\u00a0 Setibaku di depan rumah, sepulang dari bekerja, rasa letih seketika hilang saat aku berdiri di depan pintu pagar. Sejenak,\u00a0 aku biasanya melihat sekeliling sebelum bergegas menutup pintu pagar lalu memasuki rumahku.\u00a0 Rumah ini baru kutempati sebulan lalu yang aku cicil dari sepertiga gajiku.\u00a0 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[16,8,29,33,42,9],"class_list":["post-512","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut","tag-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/512","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=512"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/512\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":513,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/512\/revisions\/513"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=512"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=512"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=512"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}