{"id":542,"date":"2010-06-01T18:35:50","date_gmt":"2010-06-01T11:35:50","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=542"},"modified":"2010-06-01T18:35:50","modified_gmt":"2010-06-01T11:35:50","slug":"di-kaki-hariara-dua-puluh-tahun-kemudian","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/06\/di-kaki-hariara-dua-puluh-tahun-kemudian\/","title":{"rendered":"Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sudah enam puluh tahun hariara itu tegak di  pekarangan belakang  sekolah itu. Walau usia sudah mengelupas kulit batangnya, namun dia  tetaplah yang paling menjulang di antara pepohonan yang ada di  sekeliling.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di ujung akarnya yang menjentang di permukaan tanah,  dengan bersila  beralaskan tikar pandan, duduklah Kartika Suryani sejak beberapa saat  yang lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mantan guru itu duduk dengan tegak. Usia tidak membuat punggungnya  condong. Binar bola matanya di waktu muda masih disisakan oleh usia.  Hanya pojok-pojok mata itu yang berkerut dilukis waktu. Rambutnya yang  memutih tidak membuat wajahnya renta. Sinar matahari pagi mendatangkan  kecerahan pada penampilannya. Di bawah pohon tua itu dia menanti  murid-muridnya. Tentu bukan untuk memberikan pelajaran lagi, tetapi guna  menepati janji yang sama-sama mereka sepakati dua puluh tahun yang  silam. Janji yang lahir dari pedihnya kebebasan dan kejujuran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kartika memang cuma seorang guru bantu,  tetapi dia telah membawa suasana baru ke sekolah itu. Dia selalu  menyelipkan kelakar untuk menyingkirkan suasana bengis yang selama ini  merajai ruang belajar. Kedudukannya sebagai guru tidak mengungkungnya  untuk menjaga jarak dari murid. Dia memperlakukan mereka layaknya anak  sendiri. Teman malah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terkadang dia memberikan tanda mata berupa manisan atau alat tulis  kepada murid, yang menurutnya, pada hari itu telah menunjukkan upaya  yang lebih besar dibandingkan kemarin. Dengan begitu, penghargaan itu  tidak hanya monopoli murid yang paling pandai, tetapi juga menjadi  sumber kepercayaan diri bagi mereka yang telah berusaha untuk menyayangi  diri sendiri dengan berbuat lebih baik. Untuk menghidupkan suasana  kebebasan, tak jarang dia mengajak murid-murid keluar kelas dan belajar  dengan bergerombol mengelilingi hariara di pekarangan belakang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ke kelas mana pun dia menampakkan diri, simpati dan sukacita tumpah  padanya. Matanya yang berbinar dan senyumnya yang murah acapkali  memancing murid-murid pria, yang suka iseng, diam-diam menyambut  kedatangannya dengan suitan. Dia tidak hanya menjadi buah bibir di  sekolah, tetapi juga bahan pujian di meja makan ketika murid-muridnya  menceritakan kepada orangtua mereka tentang seorang guru yang cara  mengajarnya membuat mereka betah di kelas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitu masuk kelas, dia bukannya langsung memerintahkan murid-murid  untuk membuka buku pelajaran, tetapi memulainya dengan percakapan enteng  tentang apa saja. Dia menyemangati murid-murid supaya berani  mengemukakan pendapat tentang pelajaran yang mereka peroleh kemarin dan  mimpi apa yang mereka ingin gapai hari ini. Muridnya memanfaatkan  kesempatan di menit-menit awal menjelang pelajaran itu untuk  menyampaikan kritik maupun pujian. Kuping Kartika tak pernah tipis. Dia  selalu mendengar dengan sabar dan penuh minat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semangat untuk menyatakan pendapat itu rupanya sudah tidak memperoleh  ruang yang cukup kalau hanya diutarakan dalam beberapa menit menjelang  pelajaran dimulai. Kartika kemudian menyediakan buku harian yang dia  bentangkan di dekat pintu. Ke dalam halaman buku itu dia persilakan  murid-murid untuk menuliskan apa saja yang mereka rasakan, atau  pikirkan, tentang sekolah dan dunia mereka sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dBanyak yang bilang masa di sekolah menengah merupakan penggal  kehidupan yang paling membahagiakan. Masa keemasan itu akan terampas  ketika kita sudah duduk di perguruan tinggi, lantaran kehidupan  senyatanya sudah di depan mata. Benarkah itu? Tolong beri aku jawaban.  Tapi, jangan klise, ya\u2026!\u201d begitu kata seseorang di buku harian itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dTidakkah bisa dipikirkan bagaimana mengajarkan matematika supaya  menarik, bukannya seperti menyuapkan simbol-simbol yang menyebalkan,  mati, dan diajarkan dengan sikap yang sukar dibedakan apakah guru atau  monster?!\u201d tulis yang lain menumpahkan kedongkolan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada pula yang menulis dengan awal yang manis, tetapi ditutup dengan  sikap seperti mau bunuh diri karena tak ingin kehilangan: \u201dSumpah,  swear! Kesemarakan hidup hanya kutemukan di sekolah ini, pada guru yang  begitu besar cinta mereka kepadaku. Dan teman- teman hebat semua.  Baik-baik bangat! Kalau boleh memilih, gue kepingin mati di sini aja.\u201d  Di sebelahnya, ada pula yang menanggapi dengan berseloroh: \u201dEnjoy aja  neng, napa sih, he-he.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buku harian itu menjadi bahan pembicaraan ketika muncul sebuah kritik  yang terlalu berterus terang dan tajam di situ. \u201dIni adalah sekolah.  Kata-kata guru di sini harus menjadi kenyataan tanpa tawar-menawar.  Mereka berbicara mengenai lingkungan yang sedang terancam. Gak usah  ngomong pake kaka-kata segede gajah, deh. Bicaralah tentang kamar kecil,  kawan! Bak airnya kumal. Tali air di lantai mirip najis yang belepetan  mencari jalan keluar. Tidakkah sekolah ini bisa memberikan contoh yang  baik bagaimana hidup yang beriman? Kandang kuda tak sepesing ini.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kabar tentang keberadaan buku harian itu menyebar ke mana-mana. Murid  dari kelas lain turut menikmati keterusterangan yang mekar di  halamannya. Mereka seperti menemukan pintu masuk menuju sebuah lekuk  kehidupan yang menenteramkan di situ. Banyak yang cemburu mengapa di  kelas mereka tak terbentang buku tempat mencurahkan perasaan. Sementara  guru yang merasa tersindir di halaman buku itu jadi kepanasan dibuatnya.  Terutama kepala sekolah. Untuk beberapa guru, kritik dan kecaman yang  ditulis di situ terasa seperti duri yang benar-benar mengusik ketenangan  mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dSiapa lagi yang bikin demokrasi edan ini kalau bukan si ganjen itu.  Guru bantu saja sok selangit!\u201d Guru-guru yang kegerahan terkena sentilan  di buku harian itu menebarkan kebencian dari kelas yang satu ke kelas  yang lain, dari satu kolega ke kolega yang lain. Hasut-menghasut  membanjir supaya buku itu diberangus, disingkirkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Puncaknya bukan pada kritik yang dilancarkan para murid, tetapi pada  Kartika Suryani, yang sudah tak tahan membendung banjir perasaannya.  Untuk pertama kali dia mencurahkan kata hatinya: \u201dAku tak pernah  menyangka bahwa suatu ketika, dalam hidup ini, aku akan menemukan  kepelikan yang muncul dari sikap korup seseorang yang semestinya  menjunjung tinggi kejujuran. Karena kata inilah yang justru sering  dikumandangkannya di depan murid-murid, pada setiap upacara seninan. Dan  inilah yang menyakitkan. Dia menyuruh aku untuk menjadi penghubung,  menemui seseorang yang akan memberikan kunci jawaban ujian nasional di  suatu tempat. Mimpi buruk macam apa yang kudapatkan ini? Penghinaan  seperti apa yang sedang dia rekayasa untuk merendahkan derajat  anak-anakku? Aku tak mau dan tak bisa terlibat dalam kejahatan ini\u2026 Aku  telah memilih untuk meninggalkan sekolah ini.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zaman sudah berkelok dan jauh meninggalkan kodratnya. Seorang kepala  sekolah sudah bukan lambang di mana kejujuran menemukan bentuknya.  Kartika harus menutup buku yang menjadi jangkar bagi para muridnya untuk  melabuhkan kata hati yang sering datang meronta-ronta. Dia hanya  seorang guru bantu. Dia tidak dilahirkan dan tidak dikirimkan ke sekolah  itu untuk menjadi dewi penyelamat. Bakat sebagai pembangkang juga dia  tak punya. Hanya saja, dia tak punya nyali untuk menipu dan membungkam  keyakinannya sendiri. Sebagaimana yang disumpahkannya di dalam buku  harian itu, maka dia memilih berhenti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia mengajak seisi kelas untuk mengadakan semacam upacara perpisahan  dengannya di sekolah itu juga, pada satu pagi di hari Minggu.  Murid-murid membawa tanda cinta dan air mata mereka yang penghabisan  dalam bentuk kado kecil-kecil yang mereka bungkus sendiri. Kartika  membalas semua itu dengan terima kasih dan peluk cium.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dMari kita tanam buku ini di sini, sebagai tanda terima kasih kepada  lembar-lembar halamannya kepada siapa kita telah belajar tentang  keberanian dan memercayakan perasaan kita. Lembar-lembar kertas yang  telah ikut membesarkan kita semua. Kebebasan berpikir dan mengungkapkan  kata hati takkan pernah bisa dibungkam. Dan itulah yang telah kita  lakukan dengan catatan harian ini,\u201d katanya seraya menahan perasaan dan  titik air mata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti sedang meratapi peruntungannya sendiri, katanya pahit: \u201dSaya  tahu mencari pekerjaan buat saya tidaklah mudah. Tetapi, saya tak pernah  takut jadi miskin. Saya hanya gentar pada kejujuran.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan kesepakatan murid-murid yang tegak menahan emosi, buku itu  diputuskan supaya ditanam. \u201dKita yang setia kepada kejujuran diharap  datang lagi ke sini, tepat di sini, di bawah pohon ini, pada hari ini  juga, Minggu, persis dua puluh tahun mendatang. Kita akan lihat  bagaimana kejujuran akan menunjukkan wajahnya. Apakah dia pernah menjadi  tua\u2026?\u201d Kata-kata itu membuat upacara di bawah pohon itu terdiam oleh  haru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan setangkai cangkul yang dia bawa sendiri, Kartika memulai  galian pertama, diikuti semua muridnya, satu-demi-satu. Buku harian itu  dimasukkan ke dalam kantong plastik dan dikuburkan di bawah pohon  hariara di pekarangan belakang sekolah itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persis dua puluh tahun kemudian, pada hari ini, hari Minggu,  sebagaimana yang sudah disepakati, Kartika sudah duduk menanti di antara  akar-akar hariara yang menjalar melilit-lilit memperkokoh  cengkeramannya di tanah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Punggung Kartika Suryani tetap tegak. Juga lehernya yang jenjang  menadah sapuan angin pagi. Matanya menatap ke pintu gerbang. Dan dia  ingat, gerbang itu dulu terbuat dari kayu, yang kalau dikuakkan akan  berderik. Kini, pintu masuk itu adalah besi kempa berukir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Waktu masih mengajar dulu, dia selalu datang lebih awal dari murid-  muridnya. Menjadi orang pertama yang melintas di gerbang itu, dia selalu  disambut tukang kebun yang kini sudah tiada. Dan, sebagaimana dulu,  pada hari ini, dua puluh tahun kemudian, mantan guru bantu itu  mendahului kedatangan murid-muridnya guna menepati sebuah janji untuk  menyaksikan kejujuran yang tak bisa dibengkokkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka akan bersama-sama menggali tanah di kaki pohon tua yang  berkeriput itu, mengeluarkan sebuah buku harian, di mana kebebasan dan  kejujuran mereka telah menemukan bentuknya yang paling awal. ***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Martin Aleida<br \/>\nDimuat di Koran Tempo 23 Mei 2010<\/strong><\/p>\n<hr \/>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sudah enam puluh tahun hariara itu tegak di pekarangan belakang sekolah itu. Walau usia sudah mengelupas kulit batangnya, namun dia tetaplah yang paling menjulang di antara pepohonan yang ada di sekeliling. Di ujung akarnya yang menjentang di permukaan tanah, dengan bersila beralaskan tikar pandan, duduklah Kartika Suryani sejak beberapa saat yang lalu. Mantan guru itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[16,8,29,33,42],"class_list":["post-542","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/542","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=542"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/542\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":543,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/542\/revisions\/543"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=542"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=542"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=542"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}