{"id":568,"date":"2010-07-15T15:50:25","date_gmt":"2010-07-15T08:50:25","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=568"},"modified":"2010-07-15T15:50:25","modified_gmt":"2010-07-15T08:50:25","slug":"janji-kaci","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/07\/janji-kaci\/","title":{"rendered":"Janji Kaci"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Jemputlah aku di tikungan ketiga, Kaci. Pukul  sebelas, malam Sabtu Pahing nanti. Kalau kamu datang, tunggu aku di  bawah pohon cemara. Aku sudah membuat janji untuk menginap di Gang  Bakwan. Kamu ingat? Mak Kus, pemilik rumah yang baik hati itu akan  menyiapkan segalanya. Tak perlu berlama-lama, kamu bisa pulang pada pagi  kemudian. Setelah itu, kamu memiliki janjiku. Janji yang terakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kaci,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudah dua Sabtu Pahing aku menunggumu di tikungan ketiga, di bawah  pohon cemara. Menggigil dan sendirian. Tujuh batang rokok kuhabiskan  sembari berharap sosokmu muncul dari balik belokan, tetapi pada batang  ketujuh, aku tahu, kamu tak akan muncul. Sia-sia saja menunggu. Maka aku  akan pulang dalam diam, dan tertidur lepas subuh di sofa merah ruang  tamu. Sementara teman-temanku yang lain menari dalam kamar dengan mereka  yang telah menambatkan tali di tubuhnya. Diam-diam, aku masih  menunggumu. Kamu tak pernah datang. Ke bawah pohon cemara tempat kita  biasa duduk di pelipiran jalan, atau ke ruang tamu pondokanku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Surat itu kuselipkan di bawah pot bunga di samping wastafel Restoran  Miraza lantai 1 yang tersembunyi. Di situ, janjimu, kita bertukar pesan.  Atau sajak. Sebab katamu, kamu lebih suka membaca gurat tanganku yang  rahasia, ketimbang membaca pesan pendekku di ponselmu yang sulit  dirahasiakan. Atas nama rahasia pula, surat-suratmu kutitipkan pada  sebuah kotak sepatu tua dan kusembunyikan rukut dalam lemari plastik.  Tahukah kamu, kotak sepatu itu sudah hampir buncah, sebab kita bersurat  tanpa jeda. Sampai kau berhenti muncul di restoran. Atau tepatnya,  berhenti memeriksa pot bunga yang letaknya tersembunyi itu. Aku tahu,  sesekali kamu masih datang ketika aku tak ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ah, aku tahu, tak sepantasnya aku besar kepala, meskipun kamu bisa  membawaku ke restoran yang jaraknya hanya 12 kilometer dari pondokanku  itu. Kebanyakan laki-laki yang datang padaku hanya ingin lubang senang,  bukan cinta. Tetapi aku telah telanjur memaknai rumah makan besar di  lereng Pandaan itu sebagai tempat <em>rendez-vous<\/em>. Barangkali  karena bagiku kamu berbeda dengan penambat yang lain. Sebab rasanya,  bukan tubuhku yang ingin kau ikat. Ada yang lebih dari itu. Sebab itulah  aku desak diriku untuk bertanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi sejak itu kamu tak lagi muncul dan menjemputku dari sofa merah  pondokanku. Apakah karena aku telah lancang bertanya? Apa perempuan  seperti aku tidak punya hak untuk mencintai? Percakapan di senja layu  itu berakhir dengan diam. Kamu ranggas dan mengeras, seperti batu. Lalu  lenyap sama sekali. Mama Tien sudah bosan bertanya tentang kamu, sebab  tak pernah kugubris. Akhir-akhir ini, ia bahkan bersikap judes padaku.  Sebab aku sudah enggan berias. Meski dengan wajah natural pun  orang-orang tetap menganggapku primadona Pesanggrahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kaci,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku tahu kamu membaca suratku. Aku tahu kamu perlu waktu untuk  berpikir. Tapi Sabtu depan adalah Sabtu Pahing terakhir yang bisa  kuberikan. Aku tak bisa menunggu selamanya. Mama Tien mengancam akan  memotong bagianku dua kali lipat lebih besar, kalau aku terus-terusan  keluar ketika malam sedang ramai. Lagipula, ia mungkin takut aku akan  lari. Aku bukan orang kaya, Kaci. Aku masih punya mimpi untuk membangun  sebuah rumah batu di Jember sana. Berangan-angan bisa memensiunkan  emak-bapakku dari ladang orang. Biarlah mereka hidup enak. Biar aku saja  yang bekerja. Bukankah aku pernah bercerita?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka, Kaci, jemputlah aku di tikungan ketiga, di bawah pohon cemara.  Setelah itu kita bisa pergi. Tidak ke rumah dengan sofa merah itu. Tidak  juga ke kota, sebab aku tak berniat lari. Tapi ke sebuah kamar hangat  di Gang Bakwan, yang sudah kupesan dan kubayar lunas. Sedikit orang  mungkin hadir untuk mengesahkan perjanjian kita. Tapi selebihnya, kita  sendirian. Seperti biasa. Kamu boleh memilikiku sepenuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jumat legi terakhir. Semua sudah rapi kusiapkan. Entah kenapa aku  bisa begitu yakin, kamu akan datang. Sebelum adzan Jumat selesai  sikumandangkan, aku sudah terjaga, lebih awal dari biasa, dan buru-buru  turun ke Gang Bakwan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApa kamu yakin, dia pasti datang?\u201d tanya Mak Kus setelah tawanya  habis, ketika aku tergopoh-gopoh datang padanya untuk memastikan.  Rencana ini memang kususun bersama Mak Kus. Hanya dengannya aku berani  bercerita. Dulu, Mak Kus sama sepertiku, tak seperti Mama Tien yang  judes dan pandai berhitung. Karena itu ia bisa memahamiku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku mengangguk. Mak Kus barangkali menangkap kecemasan berkilat di  wajahku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah ada ojek yang njemput Pak Ma\u2019ruf?\u201d pertanyaan perempuan gemuk  yang baik hati itu membuatku tercekat. Bukan karena aku alpa mengatur  rencana. Tapi oleh angin dingin yang tiba-tiba menghantam tubuhku.  Memerihkan jantung. Entah kenapa. Barangkali sebab kedatangan Pak  Ma\u2019ruflah yang akan mengesahkan perjanjian terakhirku denganmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah, Bu. Taryo nanti yang pergi. Aku akan bel dia kalau Kaci sudah  datang.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jam dua belas lewat tengah hari. Setelah menyulut sebatang rokok yang  tertinggal di meja, aku berpamitan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSalam untuk Sur, ya Bu. Masih tidur dia?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Induk semang yang kukunjungi itu mengangguk. Aku beranjak dan  melambai. Kurasakan wajahku merona, entah kenapa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku berbelok ke barat, keluar gang, menyusur jalan raya, dan mendaki  ke utara, melewati Hotel Inna. Hangan masih terus tertinggal di pipiku.  Tetapi dingin menyusup dari hutan-hutan jauh. Kaci, semua sudah siap.  Tinggal diriku sendiri yang mesti berkemas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pukul sebelas kurang lima belas. Susah payah, kujejalkan selembar  gaun hitam seharga Rp 250.000 yang kubeli dari Mama Tien ke dalam tasku.  Menurutku, gaun yang harus kucicil dalam lima kali pembayaran itulah  satu-satunya yang layak dijadikan pakaian pengantin. Aku lalu menyelinap  lewat pintu belakang setelah berpamitan dan mencium pipi Mama Tien.  Mukanya sedikit cemberut, karena sedari sore sudah tiga-empat orang yang  datang untuk menemuiku dan kutolak halus-halus, tapi toh diizinkannya  aku pergi, setelah kujanjikan akan membawa upeti esok pagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pukul sebelas tepat, aku sudah duduk di sana, menunggumu di tempat  yang dijanjikan. Jantungku berdegup kencang. Tubuhku menggigil. Sambil  menyulut sebatang rokok pertama, kubayangkan kamu dan perjanjian kita  nanti. Kamu akan menjemputku dengan sedan 80-an yang aroma kabinnya  kuingat betul. Setelah itu, kita mampir di toko Pak Sokeh untuk menjawil  Taryo. Biasanya ia menunggu ojekan di sana. Aku akan memintanya  menjemput Pak Ma\u2019ruf di Kalisat. Perjalanan Prigen-Kalisat-Prigen dengan  kecepatan sedang di malam hari makan waktu kurang lebih satu setengah  jam. Sembari menunggu penghulu yang biasa menikahkan pasangan kawin siri  itu dijemput, kita bisa duduk-duduk di depan Hotel Surya, menikmati  jagung bakar dan seseruputan angsle panas, merokok dan mengobrol. Aku  akan bertanya, ke mana saja kamu selama ini? Apa kamu enggak kangen sama  aku? Dan kamu akan tersenyum tipis seraya meremas jariku. Itu adalah  isyaratmu kalau sedang ingin menciumku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kusulut batang rokok ketigaku. Malam menjadi. Di jalan, mobil lalu  lalang. Sesaat, aku seperti melihat mobilmu, tapi kalau toh benar kamu  pasti berhenti dan menjemputku. Kuembus asap kuat-kuat ke udara. Kamu  mungkin terlambat, tapi pasti datang. Sesuatu di perutku meloncat  girang, seperti kupu yang menggeliat dari kepompongnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pukul satu, kita akan berkumpul di Gang Bakwan, di dalam kamar hangat  yang telah kupesan dan kubayar lunas. Aku dan kamu, Mak Kus, Pak  Ma\u2019ruf, dan Suryani. Aku akan menyalin bajuku dengan gaun yang kubawa,  dan membaiki riasan yang luntur disapu angin malam. Sementara Mak Kus  dan Suryani membawakan kerudung, peci, dan kitab suci. Gemetar, kuraba  uang dalam amplop yang kusimpan baik di dalam tasku. Tujuh ratus ribu.  Biaya perkawinan kita, lengkap dengan buku nikah yang nyaris tak beda  dengan yang asli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya, Kaci. Bukankah sudah kukatakan kepadamu, aku ingin menikah? Tak  perlu takut kena penyakit kelamin, sebab aku disiplin dengan kondom, dan  dua kali seminggu pergi suntik ke Puskesmas Pandaan. Aku juga tak akan  banyak menuntut seperti lazimnya istri-istri yang lain. Toh kamu sendiri  sudah punya istri. Hati kecilku tak pelak berharap kamu akan membawaku  pergi dari rumah bersofa merah terang itu, untuk menetap di rumah kecil  yang hanya terbuka untuk tamu baik-baik, tapi jika itu terlampau  muluk-muluk, aku bisa tinggal di sini saja. tetap dengan mimpiku  membangun rumah batu di Jember sana dan memensiunkan emak-bapakku dari  ladang orang. Bagiku, menikah denganmu saja sudah cukup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cepatlah datang dan jemput aku, Kaci. Malam hampir berakhir. Aku tak  sabar lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pukul dua. Mobil mengalir tak sederas tadi; kini mereka parkir di  vila-vila. Kamu tetap saja tak ada. Mulutku asam dan berliur menahan  lapar dan dingin. Di mana kamu? Aku tak seberapa peduli pada lapar, kita  bisa makan bersama, nanti. Tapi kenapa kamu belum juga datang? Bulu  kudukku berdiri. Angin menusuk. Di langit timur, kembang api mulai  menyalak. Orang-orang berpesta. Malam ini malam Minggu extravaganza.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku belum ingin menyerah, Kaci. Tapi aku kedinginan tanpa kamu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dekat jam tiga pagi. Jalanan sepi, sudah terlampau larut. Kubuang  gaun pengantinku jauh ke jurang, sebelum berjalan mendaki ke Gang Sono.  Malam ini kuputuskan untuk pulang ke Gang Bakwan, ke kamar kosong yang  sudah kupesan. Aku bisa main kartu sendirian di sana. Atau bersama  Suryani, kalau dia tak sedang ada tamu. Kalau ada penambat yang  kelihatan cukup berduit, barangkali aku akan berubah pikiran. Satu-dua  lelaki saja cukup. Lumayan untuk menyaur upeti pada Mama Tien besok  pagi. Sembari tersengal, kusulut rokok terakhirku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku berbelok ke toko Pak Sokeh untuk membeli minuman dan rokok. Ada  duit tujuh ratus ribu menganggur di dalam tasku. Malam ini aku bisa  foya-foya. Di tikungan, sepasang manusia setengah teler keluar dari  rumah biliar di sebelah toko. Berangkulan, berciuman. Aku merasa  mengenal salah satu dari kedua orang itu, maka aku berhenti sejenak  untuk memerhatikan mereka. Sepasang manusia itu masih tertawa-tawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dDarsih!\u201d si perempuan memanggilku. Misye, pesolek Gang Sono yang  terkenal pandai merayu. Aku melambai dan tersenyum tipis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dHei, \u2018lemu\u2019, Sye?\u201d Ya. Tentu. Aku tahu benar, laki-laki itu cukup  gemuk dompetnya, Misye. Bersenang-senanglah kamu malam ini. Misye  tertawa genit sambil menggamit lengan si lelaki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lelaki berkemeja hitam yang masih memandangku dengan wajah putih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya. Itu memang kamu, Kaci. Tapi aku tak lagi mengenalmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kubuang puntung rokokku yang masih setengah ke tanah. Sebelum kembali  berjalan menuju toko Pak Sokeh, tanpa menoleh lagi. ***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Miranda<br \/>\nDimuat di Kompas 4 Juli 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jemputlah aku di tikungan ketiga, Kaci. Pukul sebelas, malam Sabtu Pahing nanti. Kalau kamu datang, tunggu aku di bawah pohon cemara. Aku sudah membuat janji untuk menginap di Gang Bakwan. Kamu ingat? Mak Kus, pemilik rumah yang baik hati itu akan menyiapkan segalanya. Tak perlu berlama-lama, kamu bisa pulang pada pagi kemudian. Setelah itu, kamu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[16,8,33,79,42],"class_list":["post-568","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerpen","tag-janji-kaci","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/568","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=568"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/568\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":569,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/568\/revisions\/569"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=568"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=568"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=568"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}