{"id":571,"date":"2010-07-21T05:32:22","date_gmt":"2010-07-20T22:32:22","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=571"},"modified":"2010-07-20T08:47:08","modified_gmt":"2010-07-20T01:47:08","slug":"tangga-cahaya","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/07\/tangga-cahaya\/","title":{"rendered":"Tangga Cahaya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Di mataku, bumi dan langit dihubungkan dengan begitu banyak tangga.  Hanya tangga, terbuat dari -entah apa bahannya&#8211; namun, sesuai dengan  pengetahuanku, rasanya, mirip cahaya. Ya, cahaya. Agar mudah otakmu  menerima gambaran yang kuberikan, maka, mungkin aku menyebutnya seperti  cahaya neon (meskipun, menurutku, itu masih jauh dari apa yang  kusaksikan ini).<\/p>\n<p>Untuk mudahnya, maka kuberi nama saja itu  tangga cahaya neon. Hanya saja, jika lampu neon itu menggunakan tabung,  ini tidak. Hanya cahaya saja berpendar indah, berwarna-warni. Sungguh,  seandainya saja kau bisa menyaksikannya, maka kau akan  berjingkrak-jingkrak, atau malah terbengong-bengong, karena matamu  menyaksikan pemandangan menakjubkan. Mungkin yang paling menakjubkan  sejak kau mampu menikmati dunia ini.<\/p>\n<p>Tetapi, sebentar,  Kawan. Aku tak punya kekuatan yang mungkin bisa sedikit membantu orang  lain, termasuk dirimu, untuk melihat apa yang kusaksikan. Jangankan  kekuatan yang kuberikan, sedangkan aku sendiri saja tak tahu apakah ini  sebuah kekuatan atau keanehan.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Sebentar,  sebelum terlalu jauh aku meracau soal tangga ini, ada baiknya kau tahu  sedikit ihwal semua ini.<\/p>\n<p>Awalnya, seingatku, aku sakit keras.  Mula-mula panas dan dingin menyerangku habis-habisan. Istriku mengira  aku kena DB, lalu ketika dibawa ke dokter, dokter mengatakan gejala  tipus. Lantas, ada seorang kawan membelikanku vermint, kapsul cacing  tanah yang dikeringkan. Sembuh. Maksudku sejak kutelan obat itu, panasku  berangsur-angsur turun, nafsu makanku meningkat, kemudian berkeringat  dan tubuhku segar kembali.<\/p>\n<p>Akan tetapi, baru kusadari  beberapa saat kemudian, ada yang berubah dengan mataku; maksudku,  pandanganku. Saat itu, aku dikunjungi Haji Beni, sahabatku. Dia  berkunjung karena mendengar aku sakit panas. Dia orang baik, sangat  baik, malah. Aku menjulukinya dengan sebutan saudara kembarnya Mas  Danarto, yang seniman itu. Julukanku beralasan karena, baik gestur,  wajah, maupun tutur sapanya, beda-beda tipis dengan Mas Danarto. Ketika  kujuluki demikian, Beni tertawa saja, karena dia sendiri tidak kenal  dengan Mas Danarto. Dia hanya berkomentar bahwa dia senang disamakan  dengan seniman; dan bukan koruptor. Ah, Haji Beni&#8230;<\/p>\n<p>Ketika  mengunjungiku, waktu itu, wajahnya agak pucat. &#8221;Capek, kurang tidur,&#8221;  begitu jawabnya ketika kutanya. Namun, yang membuatku ternganga adalah  kilasan-kilasan cahaya putih berpendar-pendar di atas kepalanya. Semula  aku mengira lantaran mataku memang masih sulit menerima cahaya siang  yang menyilaukan. Tetapi, karena cahaya di atas kepala Haji Beni hanya  menggelimang dan membentuk sesuatu, aku jadi mulai percaya bahwa mataku  melihat sesuatu.<\/p>\n<p>Seminggu sejak kunjungannya, Haji Beni  meninggal. Aku takziah di pagi hari itu. Ketika kira-kira 50 meter dari  rumahnya, aku tertegun. Kusaksikan sebuah tangga cahaya bersinar lebih  putih dan lebih berkilau daripada cahaya matahari, memancar dari atap  rumah Haji Beni, lurus menembus awan dan&#8230; aku tak tahu di mana tangga  itu berakhir. Orang-orang yang sudah lebih dulu hadir di sana sempat  menyaksikan kecanggunganku, lalu menggamitku menuju jenazah Haji Beni  dibaringkan. Aku duduk di samping jenazah sahabatku sambil memanjatkan  doa. Dia orang baik. Wajah, dan sekujur tubuhnya memancarkan cahaya, dan  rupanya dari situlah tangga cahaya yang kusaksikan di luar tadi itu,  bermula.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Sejak itu, aku jadi sering  menyaksikan tangga-tangga cahaya. Dan sejak saat itu, manakala aku  melihat ada kelebatan-kelebatan cahaya di atas kepala seseorang, maka  bisa kupastikan, tak lama lagi orang tersebut akan dipanggil Tuhan.<\/p>\n<p>Maaf, bukan maksudku menakut-nakutimu. Sama sekali tidak. Dan  pengetahuan semacam ini bisa kuperoleh, juga bukan karena mauku, apalagi  cita-citaku. Untuk apa? Aku tiba-tiba diberi kemampuan melihat sesuatu  yang biasanya tak kasat mata, dan aku tak mampu menolaknya. Entahlah,  aku sendiri sering menyesal mengapa menceritakan peristiwa ini kepada  orang lain. Karena sejak pertama kali kukisahkan penglihatanku ini  kepada orang lain, tidak satu pun yang percaya. Kalau kau pun tak  percaya, aku paham sepenuhnya.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Seperti kataku  tadi, bumi dan langit di mataku memang dihubungkan dengan begitu banyak  tangga cahaya, cahaya neon tanpa tabung. Bersembulan, timbul tenggelam,  berpendaran siang malam, mengantarkan orang-orang baik kembali kepada  Tuhan. Sungguh, ketika kupandangi itu semua, tak terasa air mataku  meleleh. Keangkuhanku cair oleh keagungan luar biasa yang dipertunjukkan  Tuhan kepadaku. Hanya saja, aku tak bisa begitu saja mengatakan dan  menggambarkannya kepada siapa pun. Aku hanya bisa menunjukkan beberapa  bagian saja, yang mungkin memiliki &#8221;kata&#8221; sebagai wakilnya. Dan  &#8221;kata&#8221;&#8217;, sungguh bukan sesuatu yang benar-benar mampu mewakilinya, aku  tahu itu.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Suatu kali, entah berapa waktu  silam, aku diminta untuk datang ke rumah seseorang.<\/p>\n<p>&#8221;Untuk  apa, ya?&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Begini. Saya hanya diminta untuk menjemput  Bapak, soal ada kepentingan apa, saya tidak tahu,&#8221; ucapnya dingin,  tetapi memaksa itu.<\/p>\n<p>Kupandangi beberapa saat beberapa  laki-laki berambut ijuk pendek dan bertubuh karang itu.<\/p>\n<p>&#8221;Tapi&#8230; malam-malam begini?&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Ini penting, maaf, saya  hanya diperintah begitu.&#8221;<\/p>\n<p>Hmm.. kata &#8221;diperintah&#8221; ini yang  membuatku gelisah. Aku paling tidak menyukai manusia yang hanya  menjalankan perintah, tanpa tahu maksud tindakannya.<\/p>\n<p>Dan  beberapa saat kemudian, mataku menangkap kilatan-kilatan cahaya merah,  seperti cahaya laser pointer, berkitar-kitar gelisah di atas kepala para  lelaki itu.<\/p>\n<p>Wajah mereka pun kelihatan menegang. Mungkinkah  cahaya itu menandakan akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan,  bahkan membahayakan mereka jika &#8221;perintah&#8221; itu gagal dilaksanakan?<\/p>\n<p>Dugaanku benar. Ketika aku sudah berada di rumah si  &#8221;pemerintah&#8221; yang minta ampun besar dan luasnya itu, kilatan-kilatan  laser di kepala manusia karang itu lenyap. Bahkan yang tadi berkata  dingin dan agak memaksa kepadaku itu, kini dengan keramahan yang kaku  menawariku mau minum apa.<\/p>\n<p>&#8221;Saya dengar Anda bisa meramalkan  kematian?&#8221; begitu ucapan berat si pemilik rumah besar itu, begitu para  lelaki karang itu meninggalkan ruangan.<\/p>\n<p>&#8221;Yang bilang begitu  siapa, Pak?&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Lho, jadi untuk apa saya undang Anda malam  ini&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Yaa&#8230; maaf, Pak. Izinkan saya pulang, kalau  begitu.&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Hahahaha&#8230;nanti dulu, sabar, saya bercanda, kok,  hahahahaha&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>Kusaksikan seorang Farao merentangkan  tangannya, menunggu tundukan kepala budak-budaknya. Aku tak tahu mengapa  langkahku sampai di istana Firaun ini?<\/p>\n<p>&#8221;Begini. Yang saya  dengar, Anda bisa melihat tanda-tanda kematian seseorang. Betul?&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Bapak mendengar dari siapa?&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Tak ada asap jika tak ada  api.&#8221;<\/p>\n<p>Aku terdiam. Apa maunya? Dan karena aku terdiam, dia  kemudian mulai berceloteh tentang hidup dan mati menurut keyakinannya.  Aku sendiri tak yakin soal apa yang disebutnya keyakinan itu. Aku hanya  melihat manusia gunung karang yang merasa sudah mampu menyundul awan  karena ketinggiannya. Aku pun mulai diserang rasa mual, mendengar bualan  manusia ini.<\/p>\n<p>&#8221;Anda pernah mendengar Wahyu Cakraningrat, <em>kan<\/em>?&#8221;<\/p>\n<p>Kutatap saja wajahnya yang di mataku kian tampak tolol itu. Kisah  pewayangan itu tentu saja kuhafal luar kepala, karena aku sering nonton  wayang kulit di masa kecilku.<\/p>\n<p>&#8221;Siapa yang mendapatkan wahyu  itu, <em>kok<\/em>, saya lupa.. <em>Mmm<\/em>&#8230;siapa, siapa?&#8221; tanyanya  sambil memejamkan mata sementara jari-jarinya menjentik-jentik ke  arahku, memaksaku ikut berpikir.<\/p>\n<p>&#8221;Abimanyu, anak Arjuna&#8230;&#8217;<\/p>\n<p>&#8221;Yaaaa&#8230; Tapi itu di wayang, di zaman kita ini, Anda tahu  kepada siapa?&#8221; ucapnya setengah berbisik dan mimiknya penuh  kebanggaan.<\/p>\n<p>Kau tahu jawaban yang diharapkannya muncul dari  bibirku, <em>kan<\/em>? Mungkin jika kau ada di sana malam itu, tinjumu  akan melayang ke wajahnya yang dungu itu.<\/p>\n<p>&#8221;Tapi Abimanyu  mati dengan tubuh terajam anak panah,&#8221; jawabku dingin.<\/p>\n<p>Dia  terdiam, mungkin tak menyangka bahwa kata-kata itulah yang muncul dari  bibirku.<\/p>\n<p>&#8221;Jadi, Anda memang bisa meramalkan kematian  seseorang. Jadi&#8230;&#8221; setelah agak lama dia terdiam, &#8221;seperti itukah  kematian saya?&#8221;<\/p>\n<p>Sungguh, aku berada di puncak mualku.  Kepalaku berkunang-kunang, lantaran mendengar bualan terbesar yang  pernah kudengar selama hidupku.<\/p>\n<p>&#8221;Pak, saya tidak pernah bisa  meramalkan kematian seseorang&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Bagaimana jika saya  merencanakan membunuh seseorang, apakah Anda bisa melihat tanda-tanda  kematian orang itu?&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Pak, maaf, saya lelah. Saya minta  izin pulang. Maaf.&#8221;<\/p>\n<p>&#8221;Bukankah kematian memiliki  tanda-tanda, sebagaimana sebuah kelahiran&#8230; Hah? hahahahahaaa&#8230;Dan  dengan mengetahui tanda-tandanya, bukankah kita bisa memindahkan, bahkan  menolak kematian itu, hah? Bagaimana? Hahahahahaha&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Bulan Desember, angin mendesau-desau, terkadang membawa hujan  bercampur panas. Seringkali pula panas berhujan deras. Di sebuah siaran  televisi kusaksikan sebuah perkampungan dengan sekelompok orang, mungkin  seratus jiwa, tengah gelisah. Mereka mempersenjatai diri dengan apa  saja yang mereka punya. Rumah mereka akan digusur. Menurut berita,  mereka sebetulnya penduduk liar yang menempati kawasan milik seseorang.  Lahan seluas puluhan hektare milik seorang manusia? Di sisi lain,  ratusan atau bahkan ribuan orang yang tak punya segenggam pun tanah?  Mengapa ini yang kusaksikan?<\/p>\n<p>Dan demi kusaksikan di televisi,  siapa si pemilik lahan, mendadak mualku bangkit lagi. Nyaris aku muntah  di ruangan. Gelak tawanya seakan kembali terdengar di antara wawancara  yang menggebu-gebu, soal hak dan kewajiban, soal keadilan dan entah  apalagi. Segera kuraih remote.<\/p>\n<p>Tetapi, sesaat sebelum remote  kutekan dan mencari saluran lain, mataku menangkap sesuatu.<\/p>\n<p>Di kepala mereka, manusia yang tengah gelisah itu, ah&#8230; kilatan cahaya  berwarna-warni mulai berpendar-pendar. Berkilauan cahaya-cahaya itu  mengitari kepala mereka masing-masing, bahkan di atas kepala seorang  bayi yang tengah menyusu.<\/p>\n<p>Air mataku tak terbendung lagi.  Kusaksikan langit malam yang terang benderang oleh tangga-tangga cahaya,  meliuk-liuk lurus menuju langit, indah, agung, mempesona, memukau,  menyihirku.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Sudahlah, di mataku, saat ini,  bumi dan langit dihubungkan oleh tangga-tangga cahaya. Tangga cahaya  yang mengantarkan jiwa-jiwa yang tenang kembali kepada sang Maha  Pencipta. ***<\/p>\n<p><em>Pinang, 982<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><em><strong>Cerpen By. Yanusa Nugroho<br \/>\nDimuat di Jawa Pos 11 Juli 2010<\/strong><\/em><br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di mataku, bumi dan langit dihubungkan dengan begitu banyak tangga. Hanya tangga, terbuat dari -entah apa bahannya&#8211; namun, sesuai dengan pengetahuanku, rasanya, mirip cahaya. Ya, cahaya. Agar mudah otakmu menerima gambaran yang kuberikan, maka, mungkin aku menyebutnya seperti cahaya neon (meskipun, menurutku, itu masih jauh dari apa yang kusaksikan ini). Untuk mudahnya, maka kuberi nama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[16,29,33,42,80],"class_list":["post-571","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut","tag-tangga-cahaya"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/571","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=571"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/571\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":573,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/571\/revisions\/573"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=571"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=571"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=571"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}