{"id":581,"date":"2010-07-29T05:02:29","date_gmt":"2010-07-28T22:02:29","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=581"},"modified":"2010-07-28T08:05:41","modified_gmt":"2010-07-28T01:05:41","slug":"saya-di-mata-sebagian-orang","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/07\/saya-di-mata-sebagian-orang\/","title":{"rendered":"Saya di Mata Sebagian Orang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya  pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi  menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa  membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa.  Tidak pernah merasa murahan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir  kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti  berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa.  Berhenti berpikir kalau saya murahan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara saya sudah berusaha mati-matian  menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau saya tidak membual. Kalau  saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak  murahan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya  munafik. Yakin kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin  kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau saya murahan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka inilah saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak sakit jiwa. Yang tidak murahan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walau sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya  pembual. Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa.  Menganggap saya murahan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya katakan ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak  punya kemampuan untuk mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya  tidak punya teman. Saya punya banyak sekali teman. Ada teman yang setiap  pagi menyiapkan air hangat untuk mandi. Ada teman makan siang ketika  rehat kantor. Ada teman yang menjemput sepulang kantor. Ada teman yang  menemani nonton. Ada teman yang menemani clubbing. Mereka semua  teman-teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan  dalam segala hal dan saya yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai  teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu dalam hubungan pertemanan?  Buktinya tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. Tapi karena  teman mengajak, saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya  dengan nonton atau clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan.  Inginnya lekas pulang dan tidur. Tapi jika ada teman yang mengajak  nonton, rasanya saya tidak tega menolak apalagi ia sudah khusus jauh-  jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan mengiyakan walaupun belum tentu  saya suka dengan film yang kami tonton. Pada saat kami nonton, tidak  jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya angkat karena  tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka bisa  meninggalkan pesan SMS. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar  nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu saya ingin menerima ajakan  mereka. Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Apalagi, sekali  lagi, mereka adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air  hangat untuk mandi setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang  setia menjemput pulang kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe.  Yang setia memberikan perhatian dan waktu kapan pun saya butuhkan,  walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin mengiyakan, walaupun mungkin  mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering saya rasakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepada merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada  merekalah saya meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu,  tapi juga dari segi finansial. Kalau saya butuh uang, saya bilang.  Kalau saya mau ganti ponsel model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya  bosan mobil van dan ingin ganti sedan, saya pesan. Padahal karena akan  selalu ada yang menjemput dan mengantar, mobil jarang sekali saya  gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun malam lengkap  dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya tidak  memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang  mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak paksa mereka khusus  menabung untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. Saya juga  teman yang baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena  tuntutan-tuntutan saya. Kalau sekali-sekali harus jebol tabungan atau  terpaksa mencairkan deposito bolehlah\u2026 yang penting dananya memang ada.  Itu pun bukan masalah yang harus saya besar-besarkan. Bukan sesuatu yang  layak untuk membuat saya terharu. Apalagi jatuh cinta?! Saya harus  garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya sangat tahu, sangat  sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian persen dari  keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa saya  sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang  saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih  tepat jika saya menggunakan kata merelakan ketimbang mengorbankan.  Walaupun saya agak terganggu, tapi saya rela. Saya melakukannya karena  saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami.  Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah  kucuran sinar rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang  mengasyikkan penuh canda dan tawa. Sentuhan halus di rambut saya.  Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang berlanjut  dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami yang  basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di  taman hotel, di toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor,  atau di dalam kamar karaoke. Saat-saat yang begitu melelahkan sekaligus  menyenangkan. Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih  kencang dari biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah saya  menderas dan naik ke atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya  pulas tertidur dan mendengkur. Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak  membuat saya merasa bersyukur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu  dianggap tidak benar. Sebagian orang menganggap saya munafik karena  tidak pernah mengakui kalau saya punya pacar. Sebagian lagi menganggap  saya pembual setiap kali saya bilang hubungan kami hanya sebatas  pertemanan. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah karena mereka  berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai  seseorang. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman  dengan begitu banyak orang. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena  saya bisa ditiduri tanpa harus ada komitmen percintaan bahkan bisa  dalam satu hari dengan orang yang berlainan. Perbuatan yang saya jalani  dengan penuh kewajaran tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Semua orang  merasa lebih tahu dibanding diri saya sendiri. Beberapa bagian dari  mereka itu sibuk dengan pendapatnya masing-masing dan lebih luar biasa  lagi mereka bisa membahas perihal saya ini berjam- jam, berhari-hari,  berminggu- minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, sementara teman-  teman saya semakin banyak, silih berganti tanpa henti dan ini membuat  mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan  saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai  tema. Mereka bergunjing lewat telepon. Mereka saling bertukar pesan  lewat SMS. Mereka saling mengirim surat elektronik. Mereka saling  bertukar pendapat di kafe-kafe. Di rumah. Di kantor. Di pertokoan. Di  restoran. Apalagi jika secara kebetulan kami bertemu dalam satu  kesempatan dengan membawa teman baru. Pembicaraan mendadak berhenti.  Mereka sembunyi-sembunyi bertukar senyum. Mereka sembunyi- sembunyi  bermain mata. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Mereka saling  berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Kadang  ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya untuk  merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Kebanyakan berkisar pada seberapa  indah dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Pandangan mereka  menyapu bersih kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti  serigala kelaparan. Menyeleksi mulai dari apakah ada pernak-pernik baru  yang saya pakai, kantong belanja, hingga jenis kartu kredit saat  membayar bon tagihan makan. Jika teman saya kelihatan indah, maka  dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat kehebatannya di atas ranjang.  Jika teman saya kelihatan berkantong tebal, maka dikaitkannyalah dengan  seberapa besar saya menguras uang. Tapi jika ke dua sisi itu tidak ada  yang memenuhi standar pergunjingan, mulailah mereka dengan teori  cinta-cintaan. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar  berteman, perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat  siapa yang paling benar. Sebagian orang menganggap saya munafik.  Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok  gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi  menganggap saya murahan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya tidak bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya  mempertanyakan. Banyak dari teman-teman yang tidak ingin berbagi dan  pada akhirnya hubungan kami harus terakhiri. Tapi tidak satu pun dari  mereka yang mendendam karena saya menjunjung tinggi keterbukaan. Saya  tidak pernah membohongi, saya tidak pernah akal-akalan. Sehingga jika  dibilang hubungan kami berakhir, sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Yang  berubah hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan mencabik di atas  ranjang. Tapi kami masih saling berbagi cerita walaupun jarang. Saling  bertanya apakah sudah punya pasangan tetap, menikah, atau masih  melajang. Hal- hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada  sebagian orang yang menanggap saya munafik, pembual, sok gagah, sakit  jiwa, atau murahan itu. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati  tidak lagi bertegur sapa sama sekali dengan teman lamanya. Biasanya itu  disebabkan karena hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A  ketahuan oleh si B. Setelah putus dengan si B ternyata ketahuan pulalah  si A berteman dengan perempuan lain. Alangkah sayangnya sebuah hubungan  yang menempuh berbagai aral rintangan itu akhirnya harus kandas di  tengah jalan. Tapi saya tetap menghargai sebuah pilihan. Saya hanya  heran. Tapi walaupun saya heran, saya tetap tidak berani menganggap  mereka munafik, pembual, sakit jiwa, sok gagah, atau murahan. Kadang  saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Beberapa kali saya  bertemu dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Membuat darah  saya berdesir dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Malam-malam panjang.  Kontraksi dahsyat di tengah selangkangan. Yang nyatanya berakhir dengan  rasa mual. Ereksi yang tidak lama kekal. Reaksi yang membuat waktu  berjalan bagai tak berujung pangkal. Dan saat itulah alarm dalam tubuh  saya mengisyaratkan segala rencana kencan lanjutan mutlak batal.  Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu sebagai cinta  semalam. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu  bertentangan dengan moral. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti  itu hanyalah semata-mata proses pengenalan. Seleksi alam yang akhirnya  menjawab apakah kami akhirnya bisa tidak atau lanjut berteman. Tapi  tetap orang menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual. Menganggap  saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin jika bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang  tidak saya idap sekarang, saya hampir percaya pada pendapat sebagian  orang yang tiap bagiannya menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa  tindakan saya menyimpang. Mungkin jika bukan karena saya tergeletak tak  berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta saya hampir beralih dari apa  yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan hati lapang. Karena,  ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman  yang setia menyiapkan air hangat untuk bilas badan. Mengirim makan  siang. Menemani makan malam. Mendongeng tentang sebuah peristiwa lucu di  satu kafe. Bercerita tentang film yang baru saja diputar, membayar  ongkos perawatan, ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat  yang saya terima karena saya munafik. Pembual. Sok gagah. Sakit jiwa.  Murahan!<\/p>\n<p><strong>Jakarta, 20 Agustus 2003 11:35:54 PM<\/strong><\/p>\n<p><strong>Cerpen By. Djenar Maesa Ayu<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan! Dan apa yang saya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,78,9],"tags":[16,29,33,63,42],"class_list":["post-581","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-djenar-maesa","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-djenar-maesa-ayu","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/581","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=581"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/581\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":582,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/581\/revisions\/582"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=581"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=581"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=581"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}