{"id":608,"date":"2010-08-14T03:48:51","date_gmt":"2010-08-13T20:48:51","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=608"},"modified":"2010-08-13T15:53:51","modified_gmt":"2010-08-13T08:53:51","slug":"sengketa-muhammad-amin","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/08\/sengketa-muhammad-amin\/","title":{"rendered":"Sengketa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Ketika mataku terbuka dan kuhirup udara segar yang memenuhi rongga  dadaku, aku tak sepenuhnya menyadari jika pagi yang kutemui kali ini  adalah pagi yang tak biasa. Pagi yang lain dan berbeda dari sebelumnya.  Entah apa yang kemudian akan terjadi. Segalanya jadi misteri yang sulit  dibuka. Seperti warna udara yang sulit diterka. Seolah segalanya jadi  gelap begitu saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aroma tubuh istriku yang mengambang membuatku  terjaga. Seperti biasa, setiap pagi istriku menyibakkan gorden, kemudian  membangunkanku dengan tangannya yang lembut dan suaranya yang lembut  pula sayup-sayup kudengar. Aku akan bangkit dan kutangkap ia dalam  pelukanku. Kami saling bergurau, kukecup keningnya yang segar. Kemudian  aku menyambar handuk dan bergegas ke kamar mandi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara  istriku menyiapkan sarapan pagi. Sarapan pagi yang selalu dibuat  istimewa tentunya. Seperti seloroh seorang teman kerjaku suatu waktu,  segala sesuatu akan terasa nikmat bila dibumbui dengan cinta. Karena  itulah sarapan pagi istriku selalu terasa istimewa karena aku tahu ia  memiliki resep yang tak dimiliki oleh orang lain: bumbu cintanya  untukku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap pagi, Marsya, putri kami satu-satunya dan agak  manja, selalu bermalas-malasan bangkit dari tempat tidur. Kemudian  dengan terpaksa ia menyeret langkah ke kamar mandi. Kudengar omelan  istriku menasihatinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kamu ini anak perempuan Marsya, tidak  boleh bermalas-malasan begitu. Anak perempuan harus rajin. Nanti tak ada  teman lelakimu yang mau dekat denganmu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ah, Mama. Jangan ngomel  melulu. Meskipun Marsya tidak mandi, Marsya tetap cantik kok.&#8221; Kemudian  ia melantunkan lagu-lagu pop kesukaannya dengan keras-keras.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Cepat  lagi mandinya, papamu sudah menunggu. Nanti kamu terlambat berangkat  sekolah dan papamu terlambat berangkat kerja gara-gara kamu.&#8221; Tapi  Marsya tak mau mendengar kicauan ibunya. Ia menyanyi lebih keras.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku  menunggu di meja makan sembari membaca koran pagi. Setelah itu kami  sarapan bersama. Sarapan pagi yang selalu istimewa. Begitulah pagi yang  kami jalani tak pernah berubah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi kali ini tak ada sibakan  gorden, tak ada tangan halus istriku yang lembut membangunkanku. Tak ada  suara lembut istriku yang sayup-sayup kudengar. Namun aku mencium aroma  tubuh istriku masih terbaring di sampingku. Matanya belum terbuka. Ia  belum terjaga. Ada sesuatu yang berbeda. Wajahnya teduh dan tenang juga  ada seulas senyuman di sana. Aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa  istriku tersenyum manis sekali saat ia tertidur. Dan mengapa ia tidak  bangun lebih awal dan membangunkanku seperti biasa. Aku tak bisa  menduga. Tapi sungguh sesuatu yang tak biasa itu membuatku curiga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada  aroma yang asing dalam kamar kami. Aroma yang sama saat detik-detik  terakhir kematian ibuku. Aroma yang begitu lembut dan khas. Seolah  bersijingkat dan mengambang di atas udara. Ah, mana mungkin aroma  kematian itu ada di kamar kami. Aku tak percaya. Kubangunkan istriku, ia  tak mau membuka matanya. Kubangunkan sekali lagi, tetap tak ada  jawaban. Kuperiksa detak nadinya. Kerasakan napasnya. Kuguncang-guncang  tubuhnya. Berkali-kali. Istriku tetap tak mau bangun. Tetapi wajahnya  cerah seperti warna pagi dengan seutas senyum di bibir merahnya.  Kupegang saluran nadinya sekali lagi. Kurasakan embusan napasnya sudah  tak ada lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapakah begitu cepat malaikat menculik istriku di saat aku lengah? Mengapa kematian begitu licik?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sungguh,  bukan kematian benar menusuk kalbu. 1) Namun aku belum siap menerima.  Adakah yang lebih baik daripada menerima kematian terlalu pagi. Dan  istriku mati dengan wajah yang membuatku tersinggung. Ia mati dengan  wajah tenang dengan seutas senyuman menyiratkan bahwa ia bahagia  menerima kematiaannya. Bukan hanya ikhlas, tetapi teramat bahagia  menyambut kedatangan malaikat maut. Bahkan kali ini aku bukan hanya  tersinggung, tetapi juga cemburu dan sakit hati. Apa yang benar  membuatnya senang menerima kematian bila di dunia ini masih terlalu  banyak kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan akan mengalir sepanjang waktu.  Aku tak bisa menerima kematiannya. Istriku tak pernah mengeluhkan  sesuatu. Atau menderita suatu penyakit. Bahkan satu hari menjelang  kematiannya ia tampak lebih segar dari biasanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap orang  memang tidak bisa menerima kematian orang yang sangat dicintai.  Begitupun aku. Aku tak bisa menerima kepergian istriku. Terlebih  daripada itu, aku sangat mencintainya, tetapi karena aku juga sangat  cemburu dan tersinggung melihat keadaan istriku yang demikian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kematiannya  yang begitu saja, di saat terbaring tenang di tempat tidur, terlelap  kemudian pergi untuk selama-lamanya. Kepergiannya yang menurutku sangat  picik. Wajahnya yang cerah dan lebih cantik dari biasa. Dan gaun itu.  Gaun yang sangat cantik. Aku tak pernah merasa membelikan gaun itu  untuknya. Tetapi mengapa ia memakai gaun yang indah saat tidur. Bukankah  biasanya ia selalu memakai pakaian tidur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rupanya istriku sudah  menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Dia ingin mati dengan keadaan  sempurna. Ia telah menyiapkan kematiannya sendiri. Ia telah mengetahui  kapan terakhir kali napasnya berembus dan detak jantungnya berhenti.  Tapi ia tidak pernah memberitahukannya padaku. Ia sudah tahu kapan  malaikat maut menjemputnya, memapahnya kemudian seperti kapas yang  ringan mengambang di udara dan terbang ke atas langit. Tetapi ia tidak  pernah mau berbagi cerita padaku perihal kematiannya. Kematian istriku  yang begitu menyesakkan dadaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seketika tubuhku terasa lemah. Aku  tak berdaya. Aku tak bisa bangkit. Aku berteriak sekuat-kuatnya.  Putriku Marsya datang tergesa-gesa kemudian menemukan ibunya terbaring  di tempat tidur. Ia pun berteriak keras-keras memanggil nama ibunya  sembari mengguncang-guncangkannya. Air matanya mengalir tak mau  berhenti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agak siang, mertuaku datang. Wajah mereka  sedih. Padahal aku tak memeberitahukan pada mereka perihal kematian  istriku. Kemudian ayah mertuaku menjelaskan bahwa mereka sudah  mengetahui mengenai kematian putri mereka. Istriku sudah  memberitahukannya pada mereka mengenai kematiannya seminggu menjelang  kepergianya. Ini membuatku tersentak. Dan yang membuatku lebih kaget,  mereka akan membawa pulang jasad istriku dan menyemayamkannya di tanah  kelahirannya, jelas aku semakin sakit hati dan tersinggung. Aku ini  suaminya orang paling dekat dengannya tetapi tidak mengetahui apa-apa  tentang semua ini. Aku merasa seolah tak dianggap sedikit pun olehnya.  Jika ia ingin menunjukkan kejutan untukku, kenapa kejutan yang  menyakitkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan orang tuanya dengan begitu saja ingin membawa  pulang jasadnya. Setelah malaikat maut diam-diam menculik nyawanya, kini  mereka ingin mengambil jasadnya. Aku tak bisa membiarkan begitu saja.  Aku tetap memperthankan jasad istriku untuk disemayamkan di sisiku. Aku  takkan membiarkan mereka mengmbilnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Menantuku, kami mohon  biarkan kami membawa jasad istrimu untuk dikuburkan di tanah  kelahirannya. Ini sudah kehendaknya sendiri. Dia menitipkan keinginannya  di tulisannya ini.&#8221; Kemudian ayah mertuaku menyodorkan secarik kertas  yang berisi tulisan tangan istriku, sepotong kalimat keinginananya  sebelum kematian: aku ingin di tempat kelahiranku (tempat pembaringanku  yang terakhir).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku tetap tak bisa menerima. Juga tak terlalu  percaya. Bisa saja mereka yang menuliskannya. Tetap kupertahankan jasad  istriku. Bagaimanapun aku seorang suami. Punya tanggung jawab besar  terhadap istri. Aku takkan melepaskan istriku begitu saja. Aku takkan  membiarkan mereka untuk kedua kalinya mengambil istriku. Aku takkan  membiarkan mereka pergi membawa jasadnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jika kamu masih tak  percaya, istrimu juga sudah menuliskan kalimat keinginannya yang sama di  laci lemari kalian&#8230;&#8221; kemudian aku seperti orang gila bergegas membuka  lemari, membongkar lacinya. Kutemukan tulisan yang sama. Secarik kertas  yang berisi keinginan istriku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan aku tak bisa mengontrol  emosiku. Tubuhku terasa limbung, tetapi kuusakan agar tetap kuat agar  mereka tidak bisa seenaknya mencuri istriku. Aku berusaha memulihkan  emosi. Kuusahakan agar tubuhku tidak terjatuh kalah. Karena jika aku  lengah mereka akan membawanya diam-diam. Sama seperti saat malaikat maut  diam-diam menculik nyawa istriku, di saat aku sedang tertidur pulas.  Aku tak ingin mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Istriku harus  tetap berada disisiku. Tak boleh ada yang membawanya pergi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku  dan mertuaku bertengkar hebat. Kami saling berseteru. Kami saling  memperebutkan. Sementara jasad istriku masih terbaring di tempat tidur  dengan gaun indahnya. Dan Marsya masih menangis tersedu di sisinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIni bukan waktunya berdebat, kamu tak boleh egois, kasihan istrimu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku tahu ini memang bukan waktunya berdebat dan bertengkar. Tetapi aku musti mempertahankanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kenapa kau tak mau memenuhi permintaan istrimu yang terakhir kalinya?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukan  aku tak mau memenuhi permintaannya, tetapi ini terlalu berat. Terlebih  lagi rasa sedih, cemburu, dan sakit hati jadi satu. Aku belum bisa  menerima dengan lapang dada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Apa yang memberatkan bagimu?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semuanya.  Bahkan di saat aku mengetahui bahwa istriku telah tiada. Mengetahui di  saat istriku sudah mengetahui kematiannya. Mengetahui bahwa ia lebih  memilih bercerita pada kalian daripada aku. Dan aku masih sangat  mencintai istriku. Mana mungkin aku membiarkan kalian mengambilnya  dariku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kamu suami yang egois.&#8221; Kini ibu mertuaku ikut menghujatku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku  memang egois. Tetapi siapa yang lebih egois. Aku atau istriku? Ia  menginginkan kehendaknya sendiri, ia tak mau berbagi padaku. Padahal  keluarga kami bahagia. Aku selalu memberikan kebahagiaan padanya. Tetapi  ia ingin juga pergi jauh dariku tanpa memberikan sedikit pun isyarat.  Bahkan ia seolah tak mengacuhkanku sebagai suaminya. Juga tak  mengacuhkan Marsya, putri kami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia bertindak seperti itu, aku tak bisa menerimanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lalu kau mau membuat istrimu menderita?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sama sekali aku tak ingin istriku menderita. Aku sangat mencintainya. Aku tak mau bertindak sebodoh itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kamu  sudah bertindak bodoh sekarang dengan tidak menuruti permintaan istrimu  yang terakhir. Ia akan merasa tersiksa karena ulahmu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak! Istriku tak akan tersiksa bila berada di sisiku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hari  sudah sore, tapi sengketa kami belum usai. Aku sudah menyuruh orang  menggali kubur istriku di samping rumah kami&#8211;tepatnya di samping kamar  kami. Tetapi mertuaku berkeras ingin membawa pulang anaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanah  kubur istriku sudah selesai digali. Tetapi mertuaku tetap berkeras  dengan pendiriannya membawa pulang jasad istriku karena mereka lebih  dahulu menggalikan kubur untuknya sejak pagi tadi. Termasuk mobil  jenazah sudah disiapkan di depan rumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami sudah menyiapkan segala sesuatunya. Istrimu tetap akan dikuburkan di tanah kelahirannya sesuai dengan keinginannya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Istriku tetap akan dikuburkan di sini. Kalian tak usah repot-repot membawanya pulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Perseteruan ini tak akan usai kalau kau tetap keras kepala.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi hak dan kewajibanku sebagai suami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kenapa  kau bertindak bodoh begini. Dengan berdebat terus tak akan  menyelesaikan masalah. Padahal istrimu sudah merasa tersiksa karena  sejak tadi kau telantarkan.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalian pun ikut andil menelantarkannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian  ayah mertuaku yang mungkin sudah merasa muak denganku keluar menuju  mobil jenazah. Kemudian ia masuk lagi, menghampiri istriku yang masih  terbaring di tempat tidur. Ia menggendongnya. Aku merampasnya kembali.  Marsya yang masih menangis berteriak marah padaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku mengerti  kemarahan Marsya. Aku mengerti aku sangat egois. Tetapi kemudian  kemarahan putriku dan gerimis yang turun perlahan di luar meluruhkan  perasaanku. Aku luluh. Kuletakkan jasad istriku di tempat semula.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum  aku merelakan jasad istriku mereka bawa, aku cuma bisa berkata: sebelum  kalian kuburkan jasadnya, silakan periksa seluruh tubuhnya, apakah ada  sedikit goresan saja. Kalian boleh membawanya visum atau otopsi, apakah  hatinya juga terluka? Aku seorang yang sangat mudah tersinggung dan  selalu menghayati perasaan. Padahal aku sangat menyayanginya. Dan aku  tak bisa berpisah darinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suasana ruangan mendadak menjadi begitu  hening. Marsya berhenti menangis. Mertuaku tak bersuara. Yang ada hanya  keheningan yang pekat. Hanya suara piano di seberang jalan yang  terdengar samar-samar. Suara piano yang indah, mahakarya Listz, namun  melantunkan lagu kematian.***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Juni 2010<\/p>\n<p><strong>Cerpen By. Muhammad Amin<br \/>\nDimuat di Lampung Pos 8 Agustus 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika mataku terbuka dan kuhirup udara segar yang memenuhi rongga dadaku, aku tak sepenuhnya menyadari jika pagi yang kutemui kali ini adalah pagi yang tak biasa. Pagi yang lain dan berbeda dari sebelumnya. Entah apa yang kemudian akan terjadi. Segalanya jadi misteri yang sulit dibuka. Seperti warna udara yang sulit diterka. Seolah segalanya jadi gelap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,29,33,42,83],"class_list":["post-608","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut","tag-sengketa"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/608","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=608"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/608\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":609,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/608\/revisions\/609"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=608"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=608"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=608"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}