{"id":610,"date":"2010-08-17T02:29:26","date_gmt":"2010-08-16T19:29:26","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=610"},"modified":"2010-08-16T17:34:42","modified_gmt":"2010-08-16T10:34:42","slug":"dilarang-bicara-dengan-orang-penting","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/08\/dilarang-bicara-dengan-orang-penting\/","title":{"rendered":"Dilarang Bicara Dengan Orang Penting"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Gara-gara dianggap menyemburkan serapahan pada mobil mewah yang nyaris  menyerempetnya, Jarot dibetot, lalu digeret ke Polsek yang dulu  bangunannya hanya sepetak tanah dan kini telah menjadi penuh romantis,  tiga lantai dengan halaman yang bisa menampung dua puluh kendaraan roda  empat. Setiap lantainya pun ber-AC. Menyenangkan bekerja di sini, desis  Jarot ketika tubuhnya didorong masuk ke sebuah ruangan. Kursinya empuk  pula. Pantatnya bersemayam adem hingga tak merasakan sentakan tangan  kekar yang menekan kedua bahunya mempersilakan duduk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia  diinterogasi selama lima jam. Diiringi suara kasar yang menyayat  telinga, tapi lagi-lagi (mungkin karena suasana yang sejuk dan pantat  yang damai) Jarot tidak terlalu perduli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSampeyan benar-benar  kurang ajar! Tidak tahu apa yang di dalam mobil itu orang penting? Dia  pejabat tinggi! Jangan bikin malu!\u201d bentak yang berkumis. Suaranya  bergetar, jelas tanda kemarahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, Pak. Saya minta maaf karena saya tidak tahu. Boleh minta minum?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKurangajar!  Sampeyan ini benar-benar keterlaluan! Memangnya sampeyan pikir ini  kantin?! Ini salah satu gedung terhormat, melindungi dan mengayomi! Mau  kena pasal?!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa tidak, Pak. Saya sudah boleh pulang kan?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPulang?!\u201d  ludah muncrat di wajah Jarot. \u201cSampeyan harus diadili! Karena sampeyan  sudah kena pasal perbuatan tidak menyenangkan!! Bawa dia masuk!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jarot  mengerutkan kening. \u201cLho, ini jadi ini bagian luar toh? Luar biasa ya  kantor ini. Bagian luarnya saja sudah sejuk begini, apalagi bagian  dalam.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengkelap wajah di depannya, kedua matanya memburai memancarkan kemarahan. \u201cPenjaraaaaa!!!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam lindungan aman besi-besi yang berjajar, Jarot ditertawakan sesama napi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMakanya,  jangan mencaci sembarangan! Sekarang zaman sudah edan, segala  sesuatunya pasti ada pasal perbuatan tidak menyenangkan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIya, lucu sekali. Mobil itu kan mau menyerempet saya, ya saya ngomonglah. Malah dibawa ke sini. Bingung.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa bingung?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOrang-orang  yang ribut kemarin di Senayan, orang-orang yang nyolong duit rakyat,  orang-orang yang saling lempar batu sembunyi tangan, semuanya kan  melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan, saling caci maki dan baku  hantam, kenapa tidak ditangkap?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sel yang dinding-dindingnya tak  pernah meriakan kegembiraan kali ini serasa runtuh oleh tawa  berhantam-hantam. Mereka terpingkal-pingkal dengan ucapan Jarot.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLalu, lalu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa  tidak ada lalu. Cuma bingung. Buat mereka mungkin menyenangkan, tapi  kan buat yang menonton tidak menyenangkan. Membuat orang memalingkan  muka menutup wajah itu perbuatan yang tidak menyenangkan, kan?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTidak  usah bingung, karena mereka sesama orang penting. Orang penting boleh  baku hantam dan saling maki. Orang penting juga boleh membuat gedung  terhormat menjadi pasar komedi putar! Kamu orang penting bukan?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBukan, saya cuma pedagang telur asin.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kembali tawa menghantam dinding. \u201cMakanya nasibmu asin!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dua  bulan kemudian, Jarot disidang. Lagi-lagi dia bahagia karena ruangan  yang sejuk seperti ini. Tadi naik mobil pula ke sini, kopiah pun  dipinjamkan. Rasanya seperti pejabat ketika datang ke acara Maulid.  Benar-benar jadi orang besar. Pasti yang duduk di depan itu orang besar.  Yang pakai jubah hitam pun orang besar. Amboi, bahagianya berkumpul  bersama orang besar. Jarot menatap atap ruangan, menembusi celah-celah  genting dan hinggap di langit ke tujuh, memanjatkan doa dan berharap  kedua orangtuanya melihat putra mereka bisa bersama orang-orang besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di luar, seseorang yang masih duduk di bagian belakang sebuah mobil mewah berkata pada orang di sebelah, \u201cIni bisa?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSangat  bisa, Pak. Ini waktu yang tepat. Bapak kan lagi disorot masalah mark up  dana, dengan bersikap penuh kasih sayang pada rakyat kecil, pasti semua  akan lupa. Kita pakai sistem lama, Pak. Berita ditutupi berita.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang itu terdiam sejenak, lalu mengangguk penuh keyakinan. \u201cBuka pintu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sopir  membukakan pintu. Orang itu turun, menebar senyum pada puluhan wartawan  yang sejak tadi menantinya. Pertanyaan demi pertanyaan datang  bertubi-tubi yang dihadapi dengan senyuman milik Arjuna.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIntinya, saya memaafkan sikap Jarot. Yaaa\u2026 mungkin dia hanya terkejut jadi berucap seperti itu. Permisi. Nanti kita lanjutkan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para  wartawan belum puas, berusaha mengajukan pertanyaan. Tapi orang-orang  bersafari yang turun dari mobil di sebelah mobil mewah tadi menghadang,  berkata santun memberi pengertian. \u201cNanti akan ada jumpa pers, khusus  melayani Saudara-sudara.\u201d<br \/>\nDua jam kemudian, orang itu keluar sambil  menggandeng Jarot yang langsung dihamburi para wartawan. Lampu blizt  berkeliaran dari segenap arah angin. Momen seperti ini tak boleh luput.  Ini jarang terjadi, ada orang penting yang mau menggandeng rakyat  miskin. Yang baru naik sedikit saja kadang sudah lupa kelapa pada  sabutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTak ada sidang,\u201d kata orang itu, \u201ckarena saya tidak  menuntutnya dan tidak ingin dia di penjara. Orang-orang seperti Saudara  Jarot ini harus diayomi, karena mereka juga tulang punggung bangsa  negeri ini. Bukan begitu sebaiknya, Saudara Jarot?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jarot tidak  mengerti, hanya tadi dibisiki dia harus mengangguk dan tersenyum. Lebih  tidak mengerti lagi saat menonton televisi, dia ada di televisi, setelah  acara musik, Dewa, Radja, dan Insomnia Band. Besoknya pun wajahnya  terpampang di surat kabar. Aih, benar-benar sudah menjadi orang penting.  Kopiah itu bagus sekali, tapi sayang diminta lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Telur asin pun  banyak laku terjual. Untung besar meski belum bisa membeli AC.  Orang-orang menganggap bila menikmati telur asin yang dijual Jarot, akan  mendapat berkah. Namanya pun berubah, menjadi Jarot Telur Asin. Kalau  ada yang bertanya, kenal Jarot, pasti akan dibalik tanya, Jarot telur  asin? Dan mereka berbondong-bondong menawarkan diri untuk mengantar,  lumayan karena berjalan bersama orang besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang yang  menyelamatkan Jarot dari dinginnya dinding penjara pun selalu datang,  setiap kali datang pasti diiringi para wartawan. Jarot menjadi  selebritis. Berfoto-foto. Lalu ditawarkan sebuah rumah tipe 21.  Lumayanlah ketimbang mengontrak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAda AC-nya?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang itu tertawa lalu mengangguk. \u201cFasilitasnya lengkap.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jarot  pindah rumah, tetap berjualan telur asin. Kali ini tidak perlu  keliling, karena semakin hari bertambah jumlah orang yang datang. Ada  yang bermaksud hanya ingin tahu bagaimana Jarot bisa seberuntung itu,  tapi terpaksa pula membeli telur asinnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika orang-orang  bertanya, cacian apa yang dilontarkan Jarot hingga dia harus digelandang  ke Polsek, mendekapi sel hampa dan nyaris disidangkan, Jarot tersenyum,  masih tersenyum dia berkata, \u201cBukan mencaci\u2026 saya hanya bilang sama  orang di mobil mewah itu, hati-hati. Itu saja.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang-orang terkesiap seolah sentakan kuat meraja tiba-tiba. Hati-hati? Hanya hati-hati Jarot akhirnya bernasib baik?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selang  dua hari kemudian, berbondong-bondong orang-orang menghambur ke jalan  dan pada siapa pun selalu berkata, \u201cHati-hati\u201d. Ada pula yang berlakon  sengaja menyerempetkan tubuhnya ke mobil-mobil mewah dan berucap sambil  tersenyum lebar, \u201cHati-hati.\u201d Siapa tahu ada nasib baik seperti Jarot.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jarot  akhirnya masuk MURI, karena dengan ucapan hati-hati itu dia bisa  mengubah nasibnya menjadi terkenal, juga mengubah nasib prilaku semua  orang, termasuk orang penting yang nyaris menyerempetnya. Kasusnya telah  tertutup, mungkin sengaja dikunci dengan lembaran, atau terkunci dan  anak kuncinya hilang dibawa Iprit semalam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang penasaran mendatangi Polsek dan bertanya kenapa Jarot digelandang padahal dia bukan mencaci, tapi bersikap baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKarena  orang rendahan seperti dia, berani bicara dengan orang penting! Tapi  jangan lupa, karena saya dia jadi orang penting sekarang.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejam kemudian, tempat itu sudah dipenuhi ribuan orang yang minta dijadikan orang penting\u2026***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Mutiara Duta, 11 Maret 2010<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Fahri Azisa<br \/>\nDimuat di Tribun Jabar 1 Agustus 2010<br \/>\n<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gara-gara dianggap menyemburkan serapahan pada mobil mewah yang nyaris menyerempetnya, Jarot dibetot, lalu digeret ke Polsek yang dulu bangunannya hanya sepetak tanah dan kini telah menjadi penuh romantis, tiga lantai dengan halaman yang bisa menampung dua puluh kendaraan roda empat. Setiap lantainya pun ber-AC. Menyenangkan bekerja di sini, desis Jarot ketika tubuhnya didorong masuk ke [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,29,33,84,42],"class_list":["post-610","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-fahri-asiza","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/610","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=610"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/610\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":611,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/610\/revisions\/611"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=610"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=610"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=610"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}