{"id":612,"date":"2010-08-22T04:38:50","date_gmt":"2010-08-21T21:38:50","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=612"},"modified":"2010-08-21T13:42:50","modified_gmt":"2010-08-21T06:42:50","slug":"cerpen-sebuah-senyum","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/08\/cerpen-sebuah-senyum\/","title":{"rendered":"Sebuah Senyum"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Setiap berangkat atau pulang bekerja, Syarif pasti melihat lelaki  muda itu penuh semangat menyapu jalan. Sapu lidi bertangkai bambu  panjang dan seragam kuning-kuning yang mulai kumal selalu jadi  pemandangan pada sosok itu. Gerakannya membuang sampah yang kerap  menyebarkan bibit penyakit tak pernah berubah. Cepat. Tangkas dan  bergairah tinggi.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bila hari Minggu seperti ini, sejak pukul  enam pagi hingga pukul dua siang nanti, jalan protokol ini selalu ramai  oleh orang-orang berdagang. Dari mulai buatan Jepang, Cina, sampai  Indonesia pun tersedia. Dari mulai pakaian hingga kendaraan bermotor pun  ada. Kesibukan jalan itu selalu memacetkan lalu lintas. Kendaraan  diparkir di depan para pedagang yang menghiasai lapak mereka beraneka  warna. Ada yang memakai payung besar ada pula yang hanya berpayung kecil  atau menempati bawah pohon yang rindang. Keriuhan itu akan berakhir  siang nanti, dan menyisakan sampah yang sangat banyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lelaki muda  itu dengan sigap menyapu jalan sepanjang lima kilometer dan berarti  sepanjang sepuluh kilometer kanan kiri dia berpeluh menarik gerobaknya.  Namun semangatnya tak pudar sedikit pun. Mantap tertancap pada wajah  gigih. Berapa gajinya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cCukuplah untuk bertahan hidup di Jakarta, Pak,\u201d sahutnya kala satu hari Syarif sempat bertanya.<br \/>\nBekerja sepanjang pagi, dilanjut kala sore ditambah extra kerja pada hari Minggu, rasanya kurang layak diberi gaji seperti itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLayak atau tidak layak kan tergantung kita menyiasatinya, Pak,\u201d sahut si lelaki lagi sambil tersenyum.<br \/>\nJawaban  yang patut diacungkan jempol. Syarif jadi teringat dengan suasana  rumahnya. Di rumahnya yang berukuran 6 x 9 meter ditambah tiga meter  halaman di depan rumah, rasanya terlalu sempit dibanding jalan raya yang  lapang ini. Hanya ada dua kamar. Satu ditempati ibu mertuanya. Sebuah  kamar lagi ditempati dia, istrinya dan anak mereka, Bandi, yang baru  berusia tiga tahun. Tak ada pembantu, meski mampu membayar. Mau  ditempatkan di mana?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba Syarif menggigil setelah ingatan  tentang rumah semakin dalam. Istrinya memang wanita pilihan yang baik  hati dan mau menerima apa adanya, tapi ibu mertuanya, selalu cerewet dan  kadang bikin dia kesal. Semua ditelannya saja tanpa perlu dikunyahnya.  Bekerja sebagai guru di dua sekolah sebenarnya cukuplah untuk biaya  bulanan rumah, tapi suasana rumah terkadang bikin kepalanya berputar ke  belakang. Makanya, bila satu hari lagi tidak ada jam mengajar, Syarif  merasa lebih baik keluar rumah. Kemana saja, bertandang ke rumah  temannya pun dilakoni meski si teman nampak sudah gerah selalu  didatangi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba Syarif iri pada si penyapu jalan. Betapa  tidak, lelaki itu nampak sangat menikmati hidupnya, meski matahari  menyalang di atas kepala, membiarkan debu memeluk sepatu ketsnya yang  kumal. Derap tangannya terus berderai, mengiring langkah dari ujung  jalan ke sudut lampu merah. Adakah terpikir soal keresahan?<br \/>\n\u201cSering juga, Pak,\u201d sahutnya sambil embuskan asap kreteknya. \u201cMasa orang hidup tidak pernah resah?\u201d<br \/>\n\u201cTapi kamu selalu gembira.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau  tidak gembira atau bermalasan, mana bisa makan? Jakarta ibarat raksasa  yang bukan hanya siap menendang makhluk-makhluk berhati liliput, tapi  juga menginjak-injaknya, Pak.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lagi-lagi Syarif salut dengan  ungkapan itu. Terbayang lagi ketika pagi mengajar di sebuah sekolah  dasar, lakon yang sudah ditekuninya hampir 13 tahun. Betapa keceriaan  anak-anak selalu terpancar meski kadang bikin hati berlipat pula. Bila  siang, dia pun harus menjalankan sepeda motornya sekitar delapan  kilometer ke sebuah sekolah menengah atas. Hati bukan hanya terlipat,  tercabik-cabik. Pernah beberapa siswa mengempesi sepeda motornya.  Berpeluh Syarif mencari tambal ban. Belum lagi menjalankan sepeda  motornya, uangnya hanya lima ribu, tak ada makanan yang mengisi tangki  motornya. Terpaksa didorongnya. Tiba di rumah, sambutan sinis mertuanya  memakan pula wajahnya. Biasa, tanggal tua begini, ibu mertuanya semakin  nyinyir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKau harus bilang sama ibumu, Nah\u2026 jangan sembarangan  bicara,\u201d keluhnya pada Mutma\u2019innah, istrinya yang biasa dipanggil Inah.  Kepalang tanggung bertahan lebih lama, kepala seperti dirajut jarum,  berkali-kali tusuk naik.<br \/>\nBila dia sudah mulai meradang, Inah pasti  akan menangis. Jawabannya sudah dihafal pula, \u201cMau kukirim kemana lagi  Ibu, Da? Mau kemana lagi? Kakak-kakakku seperti menutup pintu buat ibu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku  juga ingin menutup pintu rumahku untuk nenek sihir ini, Nah, keluh  Syarif, yang sudah tentu tak dikeluarkannya. Bila Inah sudah menangis,  malah dia yang ditikam pilu. Dan sekarang, membiarkan bunga tetap  bermekaran di hati Inah, diputuskan untuk membiarkan bunga layu di  hatinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan si penyapu jalan itu tertawa. \u201cBapak ini lucu, kenapa harus marah? Biasalah ibu mertua seperti itu.\u201d<br \/>\n\u201cHei, memangnya kau sudah menikah?\u201d<br \/>\n\u201cSudah, Pak.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDari usiamu, hanya tampak sekitar 25 tahunan.\u201d<br \/>\n\u201cUsia saya baru 23 tahun, Pak.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNah, sudah menikah?\u201d<br \/>\nSi penyapu jalan tertawa, mengangguk. \u201cSaya punya anak dua.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIstrimu?\u201d<br \/>\n\u201cDi kampung.\u201d<br \/>\n\u201cRumah sendiri?\u201d<br \/>\n\u201cYa, peninggalan orangtua saya.\u201d<br \/>\n\u201cTinggal pula ibu mertuamu di sana?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTidak. Ibu mertua saya sudah meninggal.\u201d Gagang sapu dicengkeram erat.<br \/>\nBanyak  cerita yang kemudian membuat Syarif seperti anak kecil yang baru  belajar tentang arti toleransi dan kehidupan. Apakah malaikat yang  sedang bersamanya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTersenyum, itu ibadah yang mendiang ibuku ajarkan\u2026\u201d kata si penyapu jalan sambil berdiri, lalu melakukan lagi tugasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mata  Syarif mulai sarat berkabut. Dia yang berjarak usia 17 tahun dengan si  penyapu jalan seperti baru menguak arti kehidupan sebenarnya. Pulang ke  rumah, Syarif berubah. Nyinyiran ibu mertuanya disambut senyum. Sindiran  pun dilindungi senyum. Semua serba senyum. Inah terheran-heran melihat  tingkah polanya, yang tak bisa menahan kesal bila lelah sudah sampai  kepala.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSenyum itu ibadah, Nah. Seseorang bilang pada Uda, dengan senyum kita bisa menaklukkan dunia.\u201d<br \/>\nLangkah  Syarif semakin ringan pelan. Detik yang berjalan pun dibaluri senyuman.  Menghadapi murid-muridnya di sekolah dasar dia tersenyum, pun  menghadapi murid-murid SMA-nya, dia tetap tersenyum. Seiring senyum yang  dilakukannya dunia semakin merekah dan mudah dimasukinya. Ini semua  berkat si penyapu jalan. Belajar memang bukan hanya pada orang yang  lebih tua, yang lebih muda dan dianggap sebagai garis rakyat kecil pun,  bisa mendapatkan manfaat yang lebih banyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kala malam mata Syarif  lebih mudah diajak bersahabat. Terpejam rapat hingga adzan Shubuh  terdengar. Terlakoni selama seminggu. Di sela hari-hari itu dia kerap  mendatangi si penyapu jalan yang telah dianggapnya sahabat mudanya.  Cerita pun bertuturan dan ucapan terimakasih berhamburan.<br \/>\nSi penyapu jalan tersenyum saat dia menjabat tangannya erat.<br \/>\n\u201cTerimakasih.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya yang banyak berterima kasih pada Bapak, karena saya serasa punya seorang kakak.\u201d<br \/>\n\u201cTerimakasih lagi karena menganggap saya sebagai kakak.\u201d<br \/>\nSenja  itu Syarif pulang serasa menumpang awan. Ketika mau berbelok ke kiri,  dilihatnya si penyapu jalan melambaikan tangan dengan bibir yang selalu  tersenyum. Memang benar, dengan senyum semuanya akan terasa mudah.<br \/>\nLepas  shalat Isya pukul delapan malam, Syarif langsung tidur. Dia ingin  bermimpi dalam keheningan. Tapi guncangan itu membuatnya tersentak.  Tangan Inah dengan hati-hati mengguncangnya, mulutnya berbunyi resah,  \u201cAda orang masuk, Da.\u201d<br \/>\n\u201cIbu?\u201d<br \/>\n\u201cBukan\u2026 aku dengar pula jeritan Ibu.\u201d<br \/>\n\u201cJatuh?\u201d<br \/>\n\u201cBukan\u2026\u201d<br \/>\n\u201cLantas apa?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suara Inah terdengar gemas dan panik sekarang, \u201cAda orang masuk rumah.\u201d<br \/>\nMelonjak  Syarif bangkit dari tempat tidur. Suara orang berbisik terdengar sampai  ke kamar. Syarif memberanikan diri. Inah mengingatkan untuk membaca  bismillah. Bismillah pun terucap sebelum\u2026 braaakkk!! Pintu terbuka paksa  karena sebuah kaki telah menjejak keras. Tiga lelaki bertopeng masuk,  menyergap dirinya dan Inah. Bandi tetap terlelap. Salah seorang  mengancam dengan pisau terhunus.<br \/>\n\u201cSerahkan harta bendamu!!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syarif  tergagap dan kejadian hanya berlangsung singkat. Harta seadanya yang  dimiliki digasak habis. Ibu mertuanya menjerit-jerit karena kalung emas  satu-satunya dibawa paksa. Tiga orang itu berhamburan keluar dan suara  yang berasal dari salah satu motor yang meninggalkan rumahnya, jelas itu  sepeda motor miliknya.<br \/>\nSyarif menghela napas, bersyukur tak ada yang luka dalam kejadian itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAllah telah menolong bapak dan keluarga dari kejahatan mereka,\u201d kata si penyapu jalan prihatin.<br \/>\n\u201cYa, Allah telah menolong keluarga saya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDan  sejak tadi bapak datang, pun setelah menceritakan kejadian buruk itu,  bapak lupa tersenyum.\u201d\u00a0 Syarif buru-buru tersenyum. \u201cIngat, dengan  senyum semua akan lebih mudah.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syarif mengangguk, lega,  bersyukur, tersenyum. Dan senyum pun tetap mengulas bibirnya ketika  mengenali yang melingkar di leher si penyapu jalan itu adalah kalung  milik ibu mertuanya\u2026***<br \/>\n<em><br \/>\nMutiara Duta, 21 Februari \u2013 25 Juni 2010<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Fahri Asiza<br \/>\nDimuat di Sumut Pos 15 Agustus 2010<\/strong><em><br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap berangkat atau pulang bekerja, Syarif pasti melihat lelaki muda itu penuh semangat menyapu jalan. Sapu lidi bertangkai bambu panjang dan seragam kuning-kuning yang mulai kumal selalu jadi pemandangan pada sosok itu. Gerakannya membuang sampah yang kerap menyebarkan bibit penyakit tak pernah berubah. Cepat. Tangkas dan bergairah tinggi. Bila hari Minggu seperti ini, sejak pukul [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,29,33,84,42],"class_list":["post-612","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-fahri-asiza","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=612"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":613,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/612\/revisions\/613"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}