{"id":618,"date":"2010-09-01T01:32:44","date_gmt":"2010-08-31T18:32:44","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=618"},"modified":"2010-08-30T19:46:05","modified_gmt":"2010-08-30T12:46:05","slug":"cerpen-erotomania","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/09\/cerpen-erotomania\/","title":{"rendered":"Erotomania"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin aku memang gila, tetapi aku tahu ia mencintaiku, sebagaimana  ia seakan ingin\u00a0 terus melirikku pada setiap pertemuan kami di tempat  umum. Mungkin aku yang tak tahu diri, menerobos keramaian, menggapai  tangannya, lalu berkata, &#8220;Bu, jangan cemas, sebenarnya aku juga  mencintaimu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu sebuah tamparan manis yang kuterima. Lucu,  bukan? Sungguh lucu kalau kau ditampar oleh seseorang yang mencintaimu.  Barangkali cinta tak harus selamanya didefinisikan sebagai keindahan.  Ada kalanya seseorang menjadikan cinta sebagai alat kekerasan, atau  menggunakan kekerasan sebagai bukti kecintaan. Ia menamparku di  keramaian, kemudian menghilang, orang-orang memandangku heran. Tamparan  itu seperti isyarat bahwa ia tersiksa karena harus selalu mencintaiku,  padahal aku masih seorang pengangguran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<br \/>\nMalam menggantung  bintang. Aku duduk di teras, memetik gitar, menyanyikan irama kesunyian.  Kesendirian ini seperti akar pohon yang tak berair. Tamparan itu masih  tersisa, nikmat sekali. Aku membayangkan wanita itu sekarang begitu  gelisah di rumahnya, ia duduk di dekat jendela, melepaskan pandangan  keluar, ke jalan raya, berharap ada aku yang akan datang dengan sekuncup  bunga, atau dengan gitar menyanyikan lagu-lagu asmara. Tetapi baginya,  mungkin akulah bunga itu, bunga yang ia nantikan mekar ketika malam  beranjak tua dan kami merasa sepenuhnya berdua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tenanglah,  Sayangku yang manis, akan tiba suatu saat aku mengendap di rumahmu dan  kubawa kau lari dengan kereta kencana ke Negeri Musim Semi, di sana kau  akan tahu bahwa aku juga mencintaimu, dan kau tak perlu diam-diam  menunjukkan cintamu padaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ah. Tidak baik terlalu lama berkhayal.<br \/>\nAku  segera bangkit, ganti baju, lalu bergegas menuju rumahnya. Cukup jauh  sebetulnya, kalau berjalan kaki butuh waktu dua jam. Tetapi apalah arti  kelelahan dan waktu yang lama itu, kalau demi cinta, dua jam rasanya  hanya seperti seratus duapuluh menit.<\/p>\n<p>***<br \/>\nSetibanya di  rumah calon kekasihku, aku dibukakan pintu gerbang oleh pembantu, lalu  aku memencet bel pintu depan. Tak lama, pintu dibuka. Ada seorang gadis  kecil yang agak manis.<br \/>\n&#8220;Cari siapa ya?&#8221;<br \/>\n&#8220;Ibu Ririh ada dik?&#8221;<br \/>\n&#8220;Oh, tunggu sebentar ya. Mamaaaa&#8230;&#8221;<br \/>\nGadis  kecil itu berlari ke dalam, membiarkan pintu terbuka, aku melihat  perabotan berserakan dalam tatanan yang nyaris sempurna, ada sofa merah  mengelilingi meja kaca yang di tengahnya ada bunga tujuh warna, ada guci  yang duduk manis di samping sofa, ada televisi layar datar yang  bersebelahan dengan akuarium yang ikannya selalu tersenyum ceria, ada  lukisan-lukisan bercorak cerah dan tiang-tiang yang melengkung seperti  menunjukkan sebuah sajian arsitektur yang layak masuk ke dalam tujuh  keajaiban dunia. Seperti rumah yang tidak pernah ditinggali. Aku jadi  ingat acara-acara griya di televisi, semacam rumah idaman, rumah  eksotis, rasanya rumah seperti itu justru tidak bisa didiami, ruangannya  terlalu sempurna, mau duduk saja bingung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Eh, kemana gadis kecil  itu, barangkali sudah lenyap ditelan ruas tangga. Aku berdiri di sini,  di pintu yang kelak akan menjadi pintu rumah kami. O, rumah kami, tidak,  kalau kami sudah bersatu dalam ikatan cinta suci yang sederhana,  mungkin aku akan mengajaknya pergi dari istana tipuan ini. Aku akan  mengajaknya tinggal di sudut kota, di dataran tinggi tempat kami bisa  menghayati isyarat matahari pagi, kita akan duduk menghirup<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba suaranya mengagetkanku. Ia, yang mencintaiku, sekarang sudah berdiri di depanku.<br \/>\n&#8220;Begini,  Bu. Sepertinya saya masih butuh waktu. Ibu tahu kan, saya masih  pengangguran, kerja serabutan, kadang jadi kuli, kadang jadi kernet,  kadang tidur di perempatan, kadang tidur di kos teman, kadang  menggelandang di Lempuyangan, kadang kesasar di Solo Jebres. Begitulah,  Bu. Saya belum punya modal untuk membuat ibu bahagia.&#8221;<br \/>\nHening sejenak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sudah belum?&#8221; Ia bertanya.<br \/>\n&#8220;Eh, sudah. Itu saja yang perlu Ibu pahami. Makanya, Ibu yang sabar dulu ya.&#8221; Ucapku.<br \/>\nWanita itu tak menjawab, lalu menutup pintu. Nah, biasanya, kalau seorang wanita diam, itu berarti jawabannya &#8220;Ya&#8221;.<\/p>\n<p>***<br \/>\nMungkin  aku memang gila, tetapi aku tak ingin ia resah karena mencintaiku  diam-diam, aku tahu, pasti tidak enak berada di antara anak-anak yang  terpaksa dilahirkannya. Mungkin ia sudah tak tahan dengan suaminya.  Mungkin suaminya yang telah mengurungnya agar cinta di relung hatinya  itu tidak bisa tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Tetapi aku  yakin, ia wanita yang kuat, ia bisa bertahan dari halangan apapun untuk  terus mencintaiku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Permasalahan memang ada pada suaminya, aku  sering melihat lelaki itu berangkat kerja seperti pangeran dari istana  kaca, naik mobil hitam yang bisa membuat silau mata. Jadi, dia menahan  wanita yang mencintaiku itu dengan hartanya? Apakah karena aku hanya  pengangguran sepanjang masa, lalu aku kalah? O, kekasihku, betapa banyak  wanita yang larut dalam harta, dalam mata wanita jaman sekarang selalu  ada rumah besar, televisi, mobil, pesawat pribadi. Tetapi di manakah  cinta yang sesungguhnya?<br \/>\nWanita itu pasti tersiksa, pura-pura bahagia. Hmm&#8230; Aku harus bertindak semampuku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keesokan  harinya, aku nekat ke kantor lelaki itu, aku sudah tidak tahan lagi,  dia tidak boleh mengganggu wanita yang diam-diam mencintaiku, meskipun  itu istrinya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di depan kantor menjulang yang lantainya licin itu, ada sepotong Satpam.<br \/>\n&#8220;Maaf, ada perlu apa?&#8221; Tanyanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Anu. Saya mau ketemu Pak Brian.&#8221;<br \/>\nSatpam itu terkejut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Wee lha, berani-beraninya ngajak ketemu Pak Brian.&#8221;<br \/>\n&#8220;Lho, kenapa memangnya?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Wee  lha, Anda tidak tahu, ya? Dia itu orang sibuk, dia itu bos, tidak bisa  seenaknya diajak bertemu, dia itu, mau ke toilet saja sudah ada  jadwalnya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Oo, bilang saja, ini menyangkut istrinya.&#8221;<br \/>\n&#8220;Wee lha, memangnya anda siapa?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya calon suami dari seorang wanita yang sebentar lagi akan jadi mantan istrinya Pak Brian.&#8221;<br \/>\nSatpam itu tidak menjawab, mungkin dia cuma lulusan SD Inpres, sehingga kata-kataku terlalu tinggi untuk ukuran otaknya.<br \/>\n&#8220;Begini Pak Satpam, bilang sama Pak Brian. Jangan lagi melarang-larang kalau istrinya ternyata memang mencintai saya.&#8221;<br \/>\nSatpam itu mengangguk-angguk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Coba diulang pesan saya, Pak.&#8221; Ucapku lagi.<br \/>\n&#8220;Saya harus menyampaikan pada Pak Brian, bahwa Pak Brian jangan lagi melarang istrinya kalau memang mencintai anda.&#8221;<br \/>\n&#8220;Weeee lha! Begitu dong, ini kukasih tip.&#8221; Kataku sambil menyerahkan uang seribu rupiah. Lalu pergi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keesokan  harinya aku datang ke kantor itu lagi untuk menanyakan apakah Satpam  itu sudah benar-benar melaksanakan tugasnya, tetapi yang aku lihat  berdiri di balik pintu ternyata seorang Satpam lain, mungkin bukan  gilirannya bertugas.<br \/>\n&#8220;Ada yang bisa saya bantu, Pak?&#8221;<br \/>\n&#8220;Tidak ada tuh.&#8221;<br \/>\n&#8220;Lalu?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya cuma mau ketemu Pak Satpam yang kemarin siang.&#8221;<br \/>\n&#8220;Kemarin siang?&#8221;<br \/>\n&#8220;Betul.&#8221;<br \/>\n&#8220;Hmm&#8230; Ooo, ya ya. Wah, tapi dia sudah tidak di sini, Pak.&#8221;<br \/>\n&#8220;Kenapa?&#8221;<br \/>\n&#8220;Dipecat.&#8221;<br \/>\n&#8220;Weeee lha!&#8221;<\/p>\n<p>***<br \/>\nMengapa  tiba-tiba aku merasa bersalah? Sang suami pasti sekarang justru lebih  ketat kepada istrinya karena kejadian itu. Dalam kesendirian malam yang  tenang, aku membayangkan wanita itu sekarang sedang bercengkerama dengan  suami dan anak-anaknya, mungkin mereka sedang bercakap-cakap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ngapain  sih kamu berurusan dengan orang gila itu?&#8221; Kubayangkan suaminya  bertanya begitu, dengan nada ketus, padahal seharusnya wanita menerima  kelembutan. Wanita itu, yang tetap cantik meski sudah ibu-ibu, akan  tampak murung.<br \/>\n&#8220;Orang gila yang mana?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Yang sering datang ke sini, dua hari yang lalu saja dia nekat datang ke kantorku.&#8221;<br \/>\n&#8220;Lho, aku juga tidak tahu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jangan-jangan  kamu ada main ya? Sudah ikut-ikutan sinting ya? Aku kurang apa coba,  sudah tampan begini, kaya, pakai kacamata, bos juga, punya mobil lima.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Papa kurang perhatian sih sama Mama.&#8221; Kubayangkan gadis kecil itu memotong pembicaraan orangtuanya.<br \/>\n&#8220;Hush! Anak kecil tahu apa soal perhatian.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Eh, jangan gitu dong Mas, justru kamu itu yang kalah sama Manisha, sini, sini sayang, Mama peluk ya. Uuuu&#8230;&#8221;<br \/>\nKubayangkan  lelaki itu terdiam, kemudian sadar, dan meminta maaf kepada  keluarganya, merekapun saling memaafkan, dan akhirnya berpelukan seperti  Teletubies.<br \/>\n&#8220;Maafkan aku juga ya, Pa.&#8221; ucap istrinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku  juga, Pa. Aku sayang papa.&#8221; tambah anaknya. Mereka pun seperti sinteron  yang harus berjilid-jilid belasan kali dan dituntut untuk berakhir  bahagia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Eh, sepertinya sistem khayalanku ada yang tidak beres,  wanita itu mencintaiku, kenapa mereka malah semakin mesra? O, mungkin  itu demi menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Bukankah wanita  adalah makhluk paling andal menyembunyikan perasaan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebaiknya aku  mengganti khayalanku. Sebaiknya aku membayangkan keindahan: pada suatu  masa, suatu waktu, aku dan wanita itu akan berkejaran di taman yang  gerimis, aku mengejar dia yang bersembunyi di balik bunga sambil  tersipu-sipu, lalu aku menangkapnya dan kami akan berguling bersama-sama  layaknya film India.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hmmm&#8230;<br \/>\nOtakku penuh dengan khayalan. Tetapi aku butuh kenyataan. Sedang apa sih wanita yang mencintaiku itu?<br \/>\nMalam ini juga, untuk kesekian kalinya, aku berangkat ke rumahnya.<\/p>\n<p>***<br \/>\nAku  memilih untuk memanjat pagar bagian samping, ada pohon mangga yang bisa  dijadikan pijakan agar terhindar dari tajamnya ujung pagar. Sebenarnya  di situ juga ada anjing penjaga yang galak, tetapi sudah kujinakkan  dengan sebungkus rokok yang kucampur ganja. Anjing itu sekarang pasti  sedang merokok sambil memikirkan anjing pudel tetangga yang selalu  menolak cintanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Situasi serba aman, aku bersembunyi di balik  bunga-bunga. Dari tempat ini, bisa kulihat ruang tengah rumah itu hanya  terbatasi oleh kaca tanpa tirai. Wanita itu, wanita yang mencintaiku,  sedang duduk berdua dengan suaminya, menonton televisi, sementara anak  gadisnya sedang bermain boneka, Si Unyil melawan Spongebob. Aku terus  mengamati mereka. Ah, wanita itu baru saja mengecup kening suaminya,  suaminya seperti terkejut. Tetapi kemudian membalas kecupannya. Mereka  saling merangkul, bersandar ke sofa. Tersenyum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin aku memang  gila. Tetapi sungguh aku menangkap kecemasan itu setiap kali aku  melihat wajahnya. Mungkin sekarang ia sengaja untuk bermesra-mesra  dengan suaminya demi menyembunyikan perasaan cintanya kepadaku, agar  suaminya tak curiga. Aduh, maafkan aku kekasihku, aku belum bisa berbuat  apa-apa. O, betapa menderitanya dirimu, kau terpaksa bersandiwara  begini, padahal sebenarnya kau sangat-sangat-sangat-sangat mencintaiku,  padahal kau sangat-sangat-sangat-sangat merindukanku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya, ya. Bisa dibayangkan, bukan?<br \/>\nMemang, sungguh kasihan sekali wanita itu. ***<\/p>\n<p><strong>Jogja, 2010 <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Sungging Raga<br \/>\nDimuat di Harian Global 28 Agustus 2010<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>(Erotomania adalah jenis khayalan di mana orang yang bersangkutan percaya bahwa orang lain jatuh cinta kepadanya)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin aku memang gila, tetapi aku tahu ia mencintaiku, sebagaimana ia seakan ingin\u00a0 terus melirikku pada setiap pertemuan kami di tempat umum. Mungkin aku yang tak tahu diri, menerobos keramaian, menggapai tangannya, lalu berkata, &#8220;Bu, jangan cemas, sebenarnya aku juga mencintaimu.&#8221; Lalu sebuah tamparan manis yang kuterima. Lucu, bukan? Sungguh lucu kalau kau ditampar oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,29,33,42,85],"class_list":["post-618","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut","tag-sungging-raga"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/618","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=618"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/618\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":620,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/618\/revisions\/620"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}