{"id":625,"date":"2010-09-04T03:59:14","date_gmt":"2010-09-03T20:59:14","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=625"},"modified":"2010-09-03T08:03:41","modified_gmt":"2010-09-03T01:03:41","slug":"100-tahun-lalu-kini-dan-nanti-dan-cerita-100-kata-lainnya","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/09\/100-tahun-lalu-kini-dan-nanti-dan-cerita-100-kata-lainnya\/","title":{"rendered":"100 Tahun Lalu, Kini dan Nanti, dan Cerita 100 Kata Lainnya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>100 Tahun Lalu, Kini dan Nanti<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seandainya  cerita ini Anda baca di tahun 2010, maka usiaku saat ini adalah 100  tahun. Karena aku terlahir dan memulai hidupku pada 1910. Seandainya  Anda membaca cerita ini di tahun 2110, maka hidupku baru dimulai hari  ini di tahun 2010.<br \/>\nAku telah banyak melihat sejarah, baik yang lurus  selurus sajadah, maupun yang buruk seharam jadah. Aku mengikuti  Indonesia dengan perasaan harap-harap cemas, sekaligus gemas.<br \/>\nBagaimana  tidak? Aku banyak tahu, tetapi tak bisa berbuat sesuatu. Teman-temanku  tak banyak berumur panjang, kalaupun ada, otak mereka telah lupa dan  terlupakan. Karena aku hidup 100 tahun bagaikan seekor kura-kura yang  berkubang di tepian sungai.<br \/>\n***<br \/>\n<strong>Dua Cermin di Rumahku<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada dua buah cermin di rumahku. Sebuah cermin berada di pojok kamar tidurku dan sebuah lagi tergantung di kamar mandi.<br \/>\nCermin  di dalam kamar tidurku menyatu dengan meja rias, aku bisa melihat paras  cantikku, rambut panjangku berwarna hitam berkilau saat aku  menyisirnya. Ada lagi yang membahagiakan aku sebagai perempuan, lekuk  tubuhku sangat seksi memantul dari cermin itu.<br \/>\nAku sangat benci  dengan cermin yang tergantung di kamar mandi, apabila aku memandang  wajahku di cermin itu, kulit mukaku sangat pucat, wajahku tirus,  payudaraku melempem seperti kerupuk layu, aku sangat buruk rupa, cermin  itu memantulkan diriku sebenarnya.<br \/>\nCermin itu berkata, \u201cDasar pelacur murahan!\u201d<br \/>\n***<\/p>\n<p><strong>Menyampaikan Kabar Kematian<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dhani  mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Malam ini baru saja ia  ditinggal istrinya untuk selamanya. Venti,\u00a0 istrinya, kini terbujur kaku  sebagai mayat. Setelah berjuang selama sepuluh hari, akhirnya Dhani  menyerahkan nasib hidup istrinya kepada sang maut.<br \/>\nKini Dhani harus  menyampaikan kabar kematian istrinya kepada tiga anaknya yang masih  kecil. Dhani kemudian menemui ketiga anaknya yang sedang tidur-tiduran  di sofa ruang tunggu rumah sakit.<br \/>\n\u201cAnak-anak, Papa ingin menyampaikan sesuatu,\u201d kata Dhani tercekat.<br \/>\nNadira, Nisa dan Widya serempak menghampirinya, kemudian mereka saling berpelukan.<br \/>\nDengan suara lirih, Dhani berkata,\u201dMama kalian sudah di surga.\u201d<br \/>\nTidak ada tangisan. Hanya hening mencekam, lalu senyap.<br \/>\n***<\/p>\n<p><strong>Kado Ulang Tahun untuk Ibu<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku  lupa, hari ini ibuku berulang tahun. Biasanya setiap tanggal ulang  tahunnya, aku selalu menjadi anak paling pertama yang mengucapkan  selamat untuk beliau. Namun kali ini aku merasa sangat berdosa, aku  betul-betul lupa untuk menelepon ibu.<br \/>\nPagi ini, aku mengantar istriku ke rumah sakit. Sudah dari semalaman, istriku mengeluh tidak enak badan.<br \/>\n\u201cSepertinya aku sakit Mas,\u201d begitu ujar istriku sepulang kantor semalam.<br \/>\nAku meraba dahinya. \u201cIya, badanmu agak hangat,\u201d kataku.<br \/>\nMaka, pagi ini aku bergegas menuju rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, aku segera menelepon ibu dengan perasaan bahagia.<br \/>\n\u201cIbu, selamat ulang tahun. Aku memberimu kado harapan, seorang cucu!\u201d seruku.<br \/>\n***<\/p>\n<p><strong>Keluarga Made<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namamu  Dewa Made Susanta, tetapi kamu lebih suka memakai Susanta untuk  memperkenalkan diri kepada orang. \u201cAgar seperti bukan orang dari Bali,\u201d  begitu alasanmu.\u00a0 Semula aku memanggilmu Made, tetapi begitu banyak Made  di Jakarta, akhirnya aku memanggilmu Dewa.<br \/>\nSetahun sudah keluargamu  berada di Jakarta, jauh dari indahnya pulau dewata, bergelut dengan  hingar bingar Ibu Kota membantu aku dalam sebuah tim kerja yang kompak.<br \/>\nKeluarga  Made, akhirnya aku sebut seperti itu, karena istri dan dua anakmu  menyandang nama Made. Bulan depan selesai sudah masa penugasanmu di  Jakarta, engkau akan kembali ke Bali bersama keluargamu. Aku ucapkan  terima kasih dan salam sukses menyertaimu.<br \/>\n***<\/p>\n<p><strong>Di Dalam Kereta Bayi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hampir  setiap hari pasangan suami istri itu berada di taman kota, mereka  selalu membawa kereta bayi tertutup tirai berwarna biru tua. Pagi dan  sore, setiap cuaca cerah mereka bermain di taman kota dengan sang bayi.<br \/>\nWarna  biru tua kereta dorong, serenta usia mereka. Sang suami sudah  terbungkuk-bungkuk dan sang istri berambut kelabu dengan raut wajah  keriput.<br \/>\nMereka selalu memandang ke dalam kereta dorong bayi itu  sambil tersenyum atau sesekali membunyikan mainan berkerincing. Pasti  sang bayi merasa senang dan bahagia selalu disapa setiap hari cerah.<br \/>\nSejatinya, tidak ada bayi dalam kereta dorong, di dalamnya hanya ada harapan untuk mempunyai buah hati.<br \/>\n***<br \/>\n<strong><br \/>\nPisau Dapur<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Shinta  menahan isak tangis yang tercekat di tenggorokannya. Pelan-pelan ia  merangkak menuju tempat tidur. Dari selangkangnya, darah segar  bercucuran di mana-mana. Shinta kembali terisak-isak, bahunya  terguncang-guncang menangis. Shinta baru saja diperkosa olehku.<br \/>\nAku  menghampirinya, kemudian kujambak rambut panjangnya yang kusam. Setelah  itu aku tempeleng pipinya dengan sangat keras. Ia kini mengerang-erang  menahan sakit, sekaligus menahan benci. Benci kepadaku.<br \/>\nShinta tidak  tinggal diam. Mengendap-endap ia meraih pisau dapur bekas mengupas buah  apel yang kami makan berdua, sebelum aku memperkosanya. Lalu dengan  melompat, ia menyergapku bagai serigala betina lapar.<br \/>\nShinta seperti menerabas melabrakku, dihujamkannya pisau itu tepat di jantungku. Shinta tertawa puas!<br \/>\n***<\/p>\n<p><strong>Bunyi Sunyi di Lorong Kupingku<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa  hari belakangan, aku mendengar kupingku berdenging. Semula kukira ada  serangga semacam nyamuk atau jangkrik yang berada di dalam kamarku.  Tetapi ternyata suara denging yang kudengar bukanlah suara semacam  serangga, tetapi denging itu berasal dari dalam kupingku.<br \/>\nAku sendiri  baru menyadari, bahwa suara itu sangat mengganggu. Suara denging itu  kadang berirama pelan, namun terkadang melengking tinggi. Suara denging  dalam kupingku, akan berbunyi tatkala kesunyian datang menyergapku.<br \/>\nApabila malam telah larut, maka suara denging itu bertalu-talu menggedor lorong kupingku.<br \/>\n\u201cNgiiiiiing. Ngiiiiiiiiiing. Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!\u201d<br \/>\nSunyi tak bisa kuusir begitu saja, ia datang menyergap serupa macan kelaparan. Dan saat itulah denging menyayat di kupingku.<br \/>\n***<br \/>\n<strong>Menatap Harapan, Menelan Keinginan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lelaki  itu menatap nanar memandangi etalase sebuah toko perhiasan. Sesekali  dicondongkan badannya ke kaca etalase sambil memanyun-manyunkan  bibirnya. Kali yang lain ia mendongak menatap langit yang masih biru  karena hari ini adalah pagi yang cerah.<br \/>\nMatanya yang nanar itu  kembali menatap kaca etalase. Lelaki itu rupanya sangat tertarik dengan  sebuah cincin berkilau keemasan dengan mahkota permata di atasnya.<br \/>\nLelaki  itu membungkuk kembali menatap lekat ke kaca etalase. Kemudian ia  menelan ludah, menelan keinginan untuk mendapatkan sebuah cincin  keemasan.<br \/>\nIa tahu diri, tidak mungkin memilikinya. Sejurus kemudian  ia duduk sambil menengadah tangannya dan berkata kepada orang-orang yang  lewat.<br \/>\n\u201cSedekahnya Pak, Bu!\u201d<br \/>\n***<\/p>\n<p><strong>Kebanyakan Melamun<br \/>\n<\/strong><br \/>\nAkhir-akhir  ini aku banyak melamun. Melamun yang tak penting-penting. Seperti  rambutku yang tipis ini direbonding. Menarik sekali tentunya, rambutku  makin lurus dan langsing, pasti lucu.<br \/>\nSerta merta aku melamun ikut  berdemonstrasi di Iran. Namun aku akan membela habis-habisan  Ahmadinejad. Tak apalah aku dikecam dunia, kan aku hanya melamun.<br \/>\nKadang,  aku melamun bisa menutup semburan lumpur Lapindo. Tentu dengan telapak  tanganku. Bukan kah aku bisa menyumpalnya dengan telapak tanganku yang  bisa melebar ini?<br \/>\nLantas, lamunanku terus menggerus khayalku, seperti lumbung padi yang digerogoti oleh tikus-tikus saban hari lama-lama habis.<br \/>\nKetika kusadari, aku berada di panggung kampanye pilpres. Ya, aku calon presiden.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p><strong>Pencatat Mimpi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hampir  setiap pagi selalu ada orang yang mengantri di depan rumah Pak Sayuti.  Mereka bukan mengantri membeli bubur ayam atau nasi goreng. Karena, Pak  Sayuti tidak membuka warung makanan sehingga orang perlu antri  mendapatkan menu makan yang diinginkannya.<br \/>\nPak Sayuti bukan juga agen  jasa penjual tiket kereta api atau pesawat terbang. Mereka mengantri di  depan rumah Pak Sayuti untuk mendapat giliran agar mimpinya tadi malam  dicatat oleh Pak Sayuti. Sebab, Pak Sayuti adalah Si Pencatat Mimpi yang  masih hidup.<br \/>\nPercaya atau tidak, Barack Obama pernah antri untuk  dicatat mimpinya menjadi Presiden Amerika, sewaktu ia masih tinggal di  Menteng Dalam, Jakarta.<br \/>\n***<strong><br \/>\nAku dan Presiden<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Entah  mengapa tiba-tiba aku dipanggil oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  Seorang utusan pribadinya menemuiku di rumah. Tentu saja aku sangat  terkejut, karena sejak beliau menjabat presiden, baru kali ini aku  dipanggil untuk menemuinya.<br \/>\n\u201cBapak ditunggu oleh Presiden saat ini juga,\u201d kata pria berjas hitam parlente itu<br \/>\n\u201cEh, iya, boleh saya ganti baju dulu?\u201d tergeragap aku menanggapi perkataan utusan presiden itu.<br \/>\n\u201cSudahlah,  tidak perlu. Baju Bapak cukup rapi untuk menemui Presiden,\u201d ujar utusan  itu sambil menggamit tangan saya bergegas menuju sebuah mobil yang  telah menunggu.<br \/>\n\u201cPak Presiden lagi pegal-pegal, beliau minta dipijat!\u201d lanjut utusan itu menjelaskan.<br \/>\n\u201cOh, pantas saya yang dipanggil!\u201d<br \/>\n***<\/p>\n<p><strong>Termangu di Ciliwung<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku  termangu di pinggiran sungai Ciliwung. Memandangi bayangan wajahku yang  terpantul dari air sungai keruh kecoklatan, penuh sampah.<br \/>\nSesekali aku berdiri, berkacak pinggang dan kembali jongkok termangu seperti orang bodoh yang kehilangan kesabaran.<br \/>\nAir  sungai mengalir cukup lancar, karena semalam Jakarta diguyur hujan  lebat. Sampah-sampah plastik dan limbah buangan lainnya terseret pelan  mengikuti air ke hilir.<br \/>\nAku kembali berdiri, gelisah, peluhku mulai menetes satu-satu.<br \/>\n\u201cKenapa  aku harus selalu seperti ini setiap pagi?\u201d Aku mulai menggerutu.  Rasanya beban yang kutahan ingin aku tumpahkan di sungai ini. Tetapi  tidak kulakukan.<br \/>\nKarena aku tak biasa buang hajat besar di sungai. Aku butuh WC! ***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Menteng Dalam, 18 Juni 2010<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Bamby Cahyadi<br \/>\nDimuat di Jurnal Bogor 28 Agustus 2010<br \/>\n<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>100 Tahun Lalu, Kini dan Nanti Seandainya cerita ini Anda baca di tahun 2010, maka usiaku saat ini adalah 100 tahun. Karena aku terlahir dan memulai hidupku pada 1910. Seandainya Anda membaca cerita ini di tahun 2110, maka hidupku baru dimulai hari ini di tahun 2010. Aku telah banyak melihat sejarah, baik yang lurus selurus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[82,16,8,29,33,42],"class_list":["post-625","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-bamby-cahyadi","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/625","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=625"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/625\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":626,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/625\/revisions\/626"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=625"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=625"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=625"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}