{"id":627,"date":"2010-09-06T06:07:19","date_gmt":"2010-09-05T23:07:19","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=627"},"modified":"2010-09-03T08:12:19","modified_gmt":"2010-09-03T01:12:19","slug":"cerpen-wulan-dan-suaminya","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/09\/cerpen-wulan-dan-suaminya\/","title":{"rendered":"Wulan dan Suaminya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sejak Wulan tinggal di rumah sebelah, sebetulnya, saya tak suka  perempuan itu. Betapa tidak, apabila bertandang ke rumah, ia selalu  mengatakan jika dirinya tidak ikut bekerja mereka pasti tidak mungkin  membeli rumah. Menurut penuturannya, suaminya tak pernah mau ketika ia  mengusulkan agar membeli rumah. Alasannya penghasilan Suharjono tak  cukup untuk membayar angsuran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTapi, nyatanya sampai sekarang  angsuran rumah tidak pernah menunggak. Kami tetap lancar membayar,\u201d  lanjut ibu dari tiga orang anak itu, setelah ke sekian kalinya ia  menceritakan upayanya\u2014membujuk suami\u2014untuk membeli rumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Bahkan  rumah mungkin masih akan tetap seperti ini, jika hanya mengandalkan gaji  suami,&#8221; tambahnya, &#8220;Orang biaya renovasi rumah juga dari uang saya,  Bu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siti Karima, istri saya, tampak kurang suka dengan  pernyataannya yang terakhir. Mungkin Siti tersinggung karena sang tamu  mengatakan rumah masih tetap seperti ini. Bagaimana tidak, rumah kami  masih utuh, seperti saat diserahkan pengembang, masih berlantai tegel  abu-abu kusam. Dindingnya belum diplester. Belum berpagar. Sementara  itu, rumah sebelah bukan hanya dindingnya sudah diplester. Melainkan  sudah berganti kusen, lantainya sudah keramik, dan sudah berpagar pula.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak  heran jika Siti tak suka dengan ocehannya. Sejurus kemudian istri saya  pergi ke dapur. Meninggalkan tamu yang menjadi tetangga baru kami. Saat  itu, kami\u2014saya dan istri\u2014yang menemani sang tamu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mas, tolong sebentar,&#8221; ujar Siti, beberapa saat kemudian, sambil membawa kompor, &#8220;Sumbunya sudah banyak yang pendek.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya bangkit dari tempat duduk. Meninggalkan Wulan di ruang tamu. Bersamaan saya bangun dari kursi, Wulan pamit. Pulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sumbu ini sengaja saya tarik,&#8221; katanya, &#8220;Kalau tidak begini mana mungkin perempuan itu pulang.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya  diam. Sebetulnya saya kesal dengan istri. Bagaimana tidak, belum  seminggu sumbu kompor dibetulkan, sekarang saya harus melakukan  pekerjaan yang sama. Namun, saya dapat memahami alasannya. Lantaran saya  sendiri sebal mendengar ocehan tetangga baru kami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Baru bisa  membantu suami saja sudah sombong seperti itu. Lagi pula apa benar  ceritanya?&#8221; gerutu Siti, &#8220;Padahal rumah masih tipe kecil. Di kompleks  perumahan RSS pula. Bagaimana jika rumahnya berada di real estate.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apabila  istrinya tak ada, Suharjono akan datang ke rumah kami. Lelaki bertubuh  kurus itu akan mengeluhkan kelakuan Wulan yang sok mengatur. Bukan  sekali dua kali Suharjono menceritakan keburukan sifat istrinya. Ia yang  seharusnya menjadi kepala rumah tangga, tetapi yang terjadi sebaliknya.  Dalam keluarganya justru Wulan yang mengatur segalanya. Meskipun tidak  secara eksplisit ia berkata demikian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang membuat Suharjono  merasa kesal, lantaran Wulan sering mengambil uang di dompet suaminya.  Tanpa pernah minta izin. Bukan sekali dua kali lelaki itu kehilangan  uang yang ada di dompet. Entah lima puluh ribuan atau dua puluh ribuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mula-mula  Suharjono tak pernah mempersoalkan uang yang diambil istrinya. Toh uang  dicari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Untuk keperluan keluarga.  Tetapi, setelah sadar cara-cara yang dilakukan Wulan tidak benar.  Suharjono selalu mengantongi dompetnya. Bahkan di kamar mandi maupun  ketika tidur, dompet itu selalu di kantong celananya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk  ke sekian kalinya Suharjono menceritakan uangnya yang hilang kepada  saya. Entah kenapa ia lupa membawa dompetnya ketika tidur. Akibatnya  bisa ditebak. Uangnya raib. Kali ini jumlahnya tak tanggung-tanggung.  Tiga ratus ribu rupiah. Ia baru tahu uangnya hilang setelah tiba di  kantor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Uang di dompet papa, hilang lagi. Siapa yang ngambil?  Orang semalam masih ada, Ma,&#8221; kata Suharjono kepada Wulan, setelah ia  pulang dari kantor, &#8220;Perlu Mama tahu uang itu bukan uang papa pribadi.  Tapi uang kantor. Apa Mama yang mengambil?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Siapa yang bilang begitu?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Papa cuma tanya? Apa mungkin di sini ada tuyul?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Papa sudah tanya sama Budi?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jadi, Budi yang mengambil?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ya, nanti tanya saja sendiri sama anak itu. Kalau Budi sudah pulang.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika  Budi, anak pertama mereka yang sudah duduk di bangku SLTP, pulang dari  kursus bahasa Inggris. Anak itu ditanya papanya. Karena merasa tidak  mengambil uang dari dompet papanya, Budi tidak mau mengaku. Ketika  pertengkaran anak dan orang tua itu hampir mencapai puncaknya. Dengan  tanpa merasa berdosa sama sekali, Wulan memotong pertengkaran mulut  mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sudah kamu bayarkan uang kursus bahasa Inggris itu, Bud?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sudah  Ma,&#8221; jawab Budi. Lalu anak lelaki itu mengeluarkan selembar kertas,  tanda bukti pembayaran, dari kantong bajunya. Menyerahkan kepada sang  mama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wulan menerimanya. Membaca sebentar. Lalu menyerahkan kertas itu kepada suaminya, &#8220;Nih, lihat!&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suharjono membaca kuitansi yang diserahkan istrinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ya, itu tadi uang yang Papa tanyakan,&#8221; ujar Wulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jadi?&#8221; tanya Suharjono tak mengerti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Apa untuk keperluan anak-anak harus minta orang lain?&#8221; tanya Wulan. Ketus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suharjono  diam. Ia marah. Ingin sekali melampiaskan kekesalan kepada Wulan. Ia  ingin menampar perempuan itu. Lantaran telah mengambil uang di dompetnya  tanpa izin. Namun, ia tetap tak mampu berbuat sesuatu terhadap  istrinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Andaikata sejak pertama ditanya, ia langsung menjawab  mungkin saya tidak marah. Apalagi uang itu digunakan membayar kursus  bahasa Inggris Budi. Meskipun saya harus menggantinya,&#8221; suami Wulan itu  mengakhiri ceritanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lalu apa yang Pak Jono lakukan setelah tahu kalau yang mengambil uang itu istri Bapak?&#8221; tanya saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lelaki yang tinggal di rumah sebelah itu diam. Ia gelisah. Bingung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jadi,  Pak Jono diam saja diperlakukan seperti itu sama istri?&#8221; sambar istri  saya yang sedang meletakkan air minum untuk kami, &#8220;Kalau saya suaminya  pasti sudah saya tempeleng dia.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena tidak menduga sebelumnya  Siti akan menyambar percakapan kami. Saya dan Suharjono hanya diam.  Terkesima dengan kalimat yang dilontarkannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah meletakkan dua buah buah gelas berisi teh hangat, Siti kembali ke dalam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Maafkan saya tadi, Pak,&#8221; kata Siti setelah Suharjono pulang. &#8220;Entah kenapa tiba-tiba saja mulut saya ngomong begitu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tapi, Bu&#8230;&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Masalahnya  yang dilakukan istri Pak Jono itu sudah keterlaluan. Mengambil uang  suami tanpa izin. Bukankah ini sama saja artinya mencuri. Kendati yang  dicuri uang suaminya. Tetapi, ya tetap saja namanya mencuri. Padahal,  kalau saya minta uang sama Bapak tak pernah berani membuka dompet  sendiri,&#8221; lanjut Siti, &#8220;Saya memang tidak suka dengan istri Pak Jono  yang sok itu. Apalagi ia selalu mengecilkan fungsi suaminya. Seolah-olah  penghasilan suaminya tidak ada artinya. Apa mentang-mentang punya gaji.  Lantaran kebanyakan ibu-ibu di sini tidak punya penghasilan sendiri.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya diam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ngomong-ngomong, tadi saya bicara seperti itu Pak Jono tersinggung apa tidak, Pak?&#8221; tanya Siti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Justru dia sedang bingung,&#8221; jawab saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kenapa mesti bingung. Istri macam gitu mending tampar saja, kalau tidak berani menceraikan,&#8221; Siti menggebu-gebu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Soalnya Pak Jono itu laki-laki, Bu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Siapa yang bilang kalau dia itu perempuan, Pak.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dia takut menampar perempuan, Bu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Takut?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya mengangguk. &#8220;Masalahnya perempuan dianggap makhluk lemah.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lantas?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pak Jono takut dianggap melakukan kekerasan dalam rumah tangga.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Walaupun istrinya salah?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya  pikir ketakutannya itu memang beralasan. Sebab seperti kata Pak Jono  tadi, jika seorang lelaki menampar istri, masyarakat akan mengatakan  lelaki itu telah melakukan penganiayaan,&#8221; kata saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siti tampak  terkejut dengan pernyataan saya, sebagaimana saya sendiri terkejut  setelah mendengar alasan Suharjono yang tidak mampu berbuat apa-apa  terhadap Wulan. Padahal, seperti tadi ia pun bilang ingin menampar  istrinya\u2013setelah istri saya masuk ke dalam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya sependapat  dengan istri bapak. Perempuan seperti istri saya seharusnya ditampar.  Tapi, hal itu tidak mungkin saya lakukan. Sebab jika seorang lelaki  menampar perempuan, masyarakat akan mengatakan lelaki itu telah  melakukan penganiayaan. Melakukan tindak kekerasan terhadap dalam rumah  tangga,&#8221; terngiang lagi kata-kata Suharjono beberapa saat yang lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Benarkah  yang dikatakan Suharjono? Atau ini hanya sebuah alasan seorang  laki-laki dayus untuk membenarkan ketidakmampuannya memimpin keluarga?  Mungkinkah karena penghasilan Suharjono lebih kecil dari pendapatan yang  diperoleh Wulan? Apa mungkin begitu pola pikir perempuan yang punya  penghasilan sendiri? Atau hanya Wulan yang berani berbuat demikian  terhadap suaminya? Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran. Namun, tak  pernah saya jawab. Lantaran istri saya bukan seorang wanita karier yang  punya penghasilan sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak  Siti menyambar percakapan kami, tatkala ia menyajikan teh. Sejak itu  pula, tetangga sebelah tak pernah lagi bertandang ke rumah. Bukan hanya  Suharjono yang tidak pernah bertamu, melainkan pula istrinya\u2014Wulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kita  memang disuruh menghormati tamu. Tapi, tamu yang bagaimana? Kalau tamu  yang melecehkan tuan rumah apa masih perlu dihormati. Nah, kalau perlu  kita tidak usah kedatangan tamu yang demikian,&#8221; kata Siti, tatkala saya  membicarakan tetangga sebelah yang sudah tak pernah datang ke rumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Humam S. Chudori<br \/>\nDimuat di Lampung Post 15 Agustus 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak Wulan tinggal di rumah sebelah, sebetulnya, saya tak suka perempuan itu. Betapa tidak, apabila bertandang ke rumah, ia selalu mengatakan jika dirinya tidak ikut bekerja mereka pasti tidak mungkin membeli rumah. Menurut penuturannya, suaminya tak pernah mau ketika ia mengusulkan agar membeli rumah. Alasannya penghasilan Suharjono tak cukup untuk membayar angsuran. \u201cTapi, nyatanya sampai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,33,86,42],"class_list":["post-627","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerpen","tag-humam-chudori","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/627","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=627"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/627\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":629,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/627\/revisions\/629"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=627"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=627"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=627"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}