{"id":630,"date":"2010-09-15T04:59:45","date_gmt":"2010-09-14T21:59:45","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=630"},"modified":"2010-09-14T11:04:08","modified_gmt":"2010-09-14T04:04:08","slug":"cerpen-rumah-idaman","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/09\/cerpen-rumah-idaman\/","title":{"rendered":"Rumah Idaman"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum\u00a0pulang, Ijui sudah memutuskan untuk tidak lagi meninggalkan  kampung dan anak-anaknya. Delapan tahun, betapa waktu rasanya amat cepat  untuk dihitung dari belakang. Ia ingat seluruh peristiwa yang  menyeretnya pergi ke negeri orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menolak ketika Suman,  suaminya, berkeinginan menikah lagi. Pekerjaannya sebagai penjual ikan  yang bolak-balik dari kampung ke ibu kota provinsi mengenalkannya pada  seorang janda anak satu. Ijui memilih bercerai dan mengasuh ketiga  anak-anak mereka yang masih bocah\u2014saat itu\u2014ketimbang harus dimadu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menjadi  orang tua tunggal bagi tiga orang anak tidaklah gampang baginya. Di  kampung, tak banyak pekerjaan untuk perempuan yang tak memiliki  pengalaman semacam dirinya. Pada musim hujan dia akan menjadi buruh di  sawah. Sesekali ke ladang. Lain waktu dia di muara, menjadi buruh,  menjemur teri separuh hari. Tapi sebagian besar ikan sudah diteri di  kapal. Ia dan sebagian perempuan lain kehilangan mata pencaharian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iyen,  anaknya yang paling tua sudah kelas lima SD dan belum disunat. Ini  tentu butuh biaya pula. Ilen, si upik satu-satunya, yang nomor dua,  sudah kelas tiga pula. Sementara Andrit yang paling kecil masih berusia  dua tahunan, tak banyak paham kesulitan ibunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iyen sudah  berkali-kali meminta untuk segera disunat. Ia begitu ingin mengadakan  sedikit selamatan di rumah, mengundang tetangga banyak-sedikit dan  seorang tukang\u00a0<em>kaba<\/em> yang akan ikut berjaga sampai pagi. Keinginan itu kini mesti ia pertimbangkan ulang. \u201cLiburan ini Eka akan disunat,\u00a0<em>awak<\/em> menumpang sama dia saja,\u201d pinta anak lelakinya itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ijui  tak bisa mengangguk, tak bisa pula menggeleng. Eka, anak Ica, adik  perempuannya, sepantaran usianya dengan Iyen, liburan ini akan disunat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada hari ketika seharusnya bocah kecil itu memakai pakaian\u00a0<em>marapulai<\/em> dan  didampingi seorang ayah, Ijui hanya bisa menangis. Kesedihan ini makin  menjadi-jadi ketika ingat pernikahannya. Ia tak sempat memakai pakaian\u00a0<em>anak daro <\/em>dulu.  Keinginan itu ia harapkan akan dapat terwakili jika nanti Iyen disunat  mereka bisa mengadakan pesta kecil-kecilan. Tapi Suman barangkali sudah  lupa keinginan itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cintanya pada Suman telah membuat mereka  mengambil tindakan nekat, kawin lari. Usianya baru enam belas tahun  waktu itu. Perawan kecil lulusan sekolah tingkat pertama. Suman masihlah  seorang pemuda kampung yang luntang-lantang ketika itu. Anak muda  kampung yang lebih banyak bergulat dengan kartu di\u00a0<em>lepau<\/em> kopi.  Pada lain waktu, di acara-acara kampung mereka terlibat perkelahian.  Orang tua Ijui tidak merestui. Mereka ingin Suman memiliki pekerjaan  sebelum meminang Ijui. Tapi darah muda mereka dan cinta yang menggebu  memunculkan perasaan lain. Mereka mengira Amak Tatak, ibu Ijui sedang  mengulur-ngulur waktu. Dugaan-dugaan muda mereka merumuskan bahwa Ijui  akan dinikahkan dengan orang lain. Maka dengan keberanian yang konyol  mereka melarikan diri ke Sungai Penuh, di Kerinci sana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan  uang yang pas-pasan mereka menemukan penghulu yang mau dibayar murah dan  menetap di sana beberapa waktu sampai surat yang Ijui kirim ke kampung  diterima ibunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka dijemput, kedua keluarga besar saling  berunding. Disepakati pernikahan mereka harus diulang. Kehidupan berumah  tangga pun dimulai. Sebagaimana adat yang berlaku, lelaki tinggal di  rumah perempuan. Bertumpuk dengan saudara-saudara yang lain dalam satu  rumah yang kecil dan sempit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Benarlah, dengan menikah kadang seorang lelaki merasa punya tanggung jawab. Dan Suman mulai rajin ke melaut dan\u00a0<em>membagan<\/em>.  Hasil tabungan mereka dijadikan modal untuk membeli ikan di muara dan  membawa ke kota provinsi. Mereka memutuskan untuk membikin rumah sendiri  di tanah yang masih tersisa di samping rumah induk. Kecil saja, yang  penting rumah sendiri. Bado dan Icah, adik Ijui sudah perawan pula,  sebentar lagi tentu akan menikah. Kalau nanti waktu itu datang dan  mereka masih bertumpuk di rumah induk, kedua adiknya\u2014dan suami  mereka\u2014nanti akan tidur di mana?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Atas pertimbangan itulah akhirnya  mereka sepakat membangun rumah. Sadar memiliki anak perempuan yang  nanti akan diwarisi rumah dan tanah, mereka membikin pondasi yang  rencananya nanti akan diangsur pembangunannya. Untuk sementara cukup  berdinding papan dulu. Menjelang kelahiran Andrit, bungsu mereka, rumah  itu sudah setengah sempurna. Sebagian dinding dan lantainya sudah  disemen kasar, hanya dapurnya yang masih berlantai tanah dan berdinding  papan. Rencananya nanti, pelan-pelan dinding dan lantainya akan dicor,  lalu dapurnya akan digeser ke belakang, kalau bisa di sana dibikin satu  bilik pula tempat dua anak lelakinya tidur menjelang dewasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tetapi  Suman memilih beristri lagi, mengubur keinginan meneruskan membangun  rumah, menunggu anak gadisnya besar dan dipinang orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Delapan\u00a0tahun  di negeri seberang rasanya sudah cukup mewujudkan mimpi itu. Dari surat  anak-anaknya yang datang nyaris setiap bulan, di antara permintaan  pengiriman uang makan dan biaya sekolah, tersiar kabar yang lumayan  menyenangkan hatinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cRumah kita hampir jadi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tetapi entah  mengapa ia tak begitu yakin akan tulisan anaknya sendiri. Pada mereka  yang baru datang ke Malaysia\u2014saban hari selalu ada orang kampungnya yang  datang dan pulang\u2014ia mendapat kabar bahwa rumahnya tak kunjung selesai.  Bahkan Tek Ja\u2019uwan pernah menyindirnya suatu ketika ketika dia datang  menjenguk dua orang anak perempuannya yang tinggal di sana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cRumahmu  besar sih, besar. Tapi kalau rumah besar tak berpintu dan berjendela,  bagaimana pula bisa ditempati. Bisa-bisa kau dan anak perempuanmu dicuri  maling,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSusah memang membangun rumah. Ringgit itu duit panas. Cepat hangus,\u201d sambung perempuan itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari  laporan-laporan semacam itu Ijui mulai menduga-duga kebenaran cerita  itu. Memang dari foto-foto yang dia lihat rumah itu belum selesai  dibangun. Setahun terakhir ia rutin mengirim uang setiap dua bulan  sekali. Untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya. Rumah yang memiliki  empat kamar tidur, memiliki dapur, sumur dan kamar mandi dalam. Rumah  ini adalah pembayar hutang pada anak-anaknya yang tak terawat dengan  baik. Ia juga ingin menunjukan pada Suman dan orang sekampung, bahwa  Ijui, janda tiga anak itu bisa juga membikin rumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia selalu  mengirimkan uang untuk anak-anaknya dengan menitipkannya pada Ica adik  perempuannya yang masih tinggal di rumah induk. Rumah tua yang nyaris  tak terawat, dulunya. Setiap kali mengirim uang Ijui sudah membagi-bagi  jumlahnya untuk keperluan masing-masing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan delapan tahun. Betapa ia merindukan rumah itu, kini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia  meminta pada Ica untuk mengirimkan foto rumahnya yang terakhir disertai  dengan anak-anaknya. \u201cTunggulah sebentar,\u201d begitu balas Ica dalam  suratnya. \u201cBeberapa bagian rumah sedang dicat. Seminggu dua minggu lagi  akan selesai. Lagi pula, Iyen yang sekolah di kota jarang pulang ke  rumah.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Datang juga surat beserta foto yang ditunggunya. Ijui  memandangnya lekat-lekat. Iyen tumbuh begitu tinggi, berkulit putih  berkumis tipis. Ilen telah menjelma gadis remaja dan Andrit, aduh,  betapa ia nyaris melupakan buah hatinya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia harus segera  pulang. Rasanya tak ada yang lebih melegakan dari ini semua. Ia ingin  menikmati tidur di rumah yang dibangun dari keringat sendiri. Ia ingin  membuka daun pintu lebar-lebar dan duduk di halaman tanpa takut akan ada  polis yang akan menanyai dokumen. Ia berharap peristiwa delapan tahun  yang alpa bisa ditebusnya, segera; berziarah ke makam ibunya yang ketika  meninggal pun ia tak sempat pulang ke rumah; membelikan anak-anak dan  keponakan hadiah; membelikan oleh-oleh untuk mamak dan tetangga dekat.  Dan yang terpenting, kampung akan dibuat bangun semalam suntuk, akan dia  undang tukang rebab terbaik, karena Andrit akan disunat. Sunat yang  terlambat sebenarnya. Tapi tak apa, cukup terbayar nantinya dengan  pakaian\u00a0<em>marapulai<\/em> bagi anaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ijui\u00a0mesti  mempertimbangkan lagi keinginanya untuk berada di kampung. Ia merasa  delapan tahunnya sungguh sia-sia. Rumah baru yang ingin ia tunjukan pada  Suman, rumah yang dia harapkan sebagai tempat istirahat di hari tua,  rumah yang dia harapkan untuk menampung laki-laki lain sebagai bakal  suami anaknya, rumah yang telah bertahun-tahun ia bangun dengan air mata  dan keringat, ternyata belumlah sungguh-sungguh selesai pembangunannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ijui  merasa ditipu. Foto-foto yang dikirimkan tak lebih semacam hiburan  belaka. Memang, dari depan rumahnya terlihat megah dan selesai, meski  belum ada pintu dan jendela. Tetapi di bagian dalam, uang yang  dikirimkan untuk membeli keramik, tak pernah terpasang. Kamar mandi,  sumur dan dapur masih saja terbengkalai. Sementara Ica, adiknya yang  dulu tinggal di rumah tua orang tua mereka sudah pula memperbaiki  rumahnya. Ia tahu, bagi suami Ica yang hanya seorang tukang pukat,  penarik jaring di bibir laut, mustahil untuk membikin rumah bagus  secepat itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di kampung ini, peristiwa kecil akan menjadi besar  lewat mulut ke mulut. Dan Ijui merasa tidak kuat menerima hasutan dan  omongan tetangga tentang uang kiriman Ijui yang tak sempat menjadi  rumah. Bahwa, menurut bisik-bisik mereka, Ica telah menggunakan uang  Ijui untuk membagun tumahnya sendiri. Berkali-kali pula Ica mengatakan  bahwa harga barang begitu tinggi. Di kecamatan ini tak banyak yang  menjual barang bangunan, dan mereka mematoknya dengan harga tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berkali-kali Ijui percaya, berkali-kali pula omongan buruk dan mencelakai itu mengusiknya. \u201cAah,\u00a0<em>ndak<\/em> ada itu uang dari mana pula untuk membangun rumah sebagus itu kalau bukan dari kirimanmu yang\u00a0<em>dipatah<\/em>? Omong\u00a0<em>cirit beruk<\/em>saja  itu kalau dibilang itu hasil keringat suaminya. Berkeringat darah dia  di pantai, tak akan bisa mengumpulkan duit sebanyak itu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikian sebagian gumaman yang sampai ke telinganya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gumaman  penuh hasutan yang berbalut simpatik. Bagaimana mungkin ia mencurigai  dan membenci adik kandungnya sendiri? Bagaimana mungkin seorang adik  tega mengkhianati kakaknya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ijui mencoba berprasangka baik, bahwa  memang rumahnya belum selesai karena uang yang dikirimkan dari Malaysia  memang belum mencukupi. Membeli perlengkapan bangunan mahal, sementara  kirimannya harus dibagi dengan biaya hidup tiga anaknya. Dan rumah Ica  yang mentereng tak ada sangkut pautnya dengan uang yang dikirim dari  Malaysia. Semakin ia berprasangka baik, hasutan itu semakin kencang  mengusiknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malam itu ia menatap Andrit yang tertidur di kasur  usang ruang tengah rumah. Si Upik sudah dari tadi terlelap di kamarnya.  Sisa-sisa perhelatan masih bertumpuk di dalam rumah. Tempat tidur Andrit  masih digantungi kain karena bocah itu belum bisa pakai celana. Jahitan  sunatannya masih belum kering benar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia memang telah mewujudkan keinginannya untuk melihat anaknya menjadi\u00a0<em>marapulai<\/em> dan  membuat seisi kampung tak bisa tidur. Bukan tukang rebab, tapi organ  tunggal yang telah menggoyang panggung di depan rumahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malam  itu, seperti delapan tahun lalu. Ia menatap anak-anaknya dengan  kesedihan yang tak bisa dirahasiakan. Dari jendela yang tak berpintu ia  melihat bulan penuh di langit yang tenang\u2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti dulu, tubuhnya mulai berkeringat! ***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Indrian Koto<br \/>\nDimuat di <a title=\"suara merdeka\" href=\"http:\/\/www.suaramerdeka.com\" target=\"_blank\">Suara Merdeka<\/a> 5 September 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum\u00a0pulang, Ijui sudah memutuskan untuk tidak lagi meninggalkan kampung dan anak-anaknya. Delapan tahun, betapa waktu rasanya amat cepat untuk dihitung dari belakang. Ia ingat seluruh peristiwa yang menyeretnya pergi ke negeri orang. Ia menolak ketika Suman, suaminya, berkeinginan menikah lagi. Pekerjaannya sebagai penjual ikan yang bolak-balik dari kampung ke ibu kota provinsi mengenalkannya pada seorang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,29,33,87,42],"class_list":["post-630","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-indrian-koto","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/630","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=630"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/630\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":633,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/630\/revisions\/633"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=630"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=630"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=630"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}