{"id":654,"date":"2010-09-26T10:03:08","date_gmt":"2010-09-26T03:03:08","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=654"},"modified":"2010-09-26T09:13:07","modified_gmt":"2010-09-26T02:13:07","slug":"cerpen-aku-ikan-yang-berenang","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/09\/cerpen-aku-ikan-yang-berenang\/","title":{"rendered":"Aku, Ikan yang Berenang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Aku merasa kau menggamit tanganku ketika ombak ketiga menggulung  kita. Waktu itu samar-samar kulihat kilau perahu terbalik di arah  matahari. Tetapi semuanya sudah jauh sekali dari jangkauan. Karena itu,  sudahlah, aku memilih jadi bagian dari laut. Kulepaskan gamitan  tanganmu, dan aku meluncur ke dasar serupa terumbu. Kelak jika kau ke  laut dan bertemu dengan ikan-ikan kecil yang berenang di antara terumbu  karang, mungkin itulah aku, kekasih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak itu aku tak pernah bertemu denganmu. Kadang di antara gerak  angin yang mengantarkan riak ke pantai, aku menyusup sekadar melacak  jejak tapak kakimu. Tetapi ribuan empasan air dan angin telah lama  menghapus jejak itu. Aku cuma ingat di dekat pohon camplung berdaun  lebat sebelum gumuk pasir, kita pernah berteduh beberapa saat sebelum  memutuskan untuk melaut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mudah-mudahan kau ingat pula akulah yang  bersikeras mengajakmu melaut di musim angin itu. Padahal kau sudah  berulang kali memperingatkan, musim ini tak baik berperahu, apalagi  sekadar memuaskan keingintahuan tentang seberapa luas lautan. Kekasih,  asal kau tahu, aku tak menyesal kalau kini serupa ikan yang berenang  ribuan tahun di samudra. Yang kusesali, aku tak tahu bahwa menjadi  bagian dari alam bawah air, sama artinya merentangkan jarak begitu jauh  hanya untuk bertemu denganmu. Kesempatan yang diberi alam untuk hidup di  sela terumbu ternyata memperlebar janji untuk bertemu. Bukankah aku  yang berucap, \u201cKalau laut, angin, dan langit memberkati, kita mesti  bertemu di bawah pohon camplung berdaun lebat ini.\u201d Dan kau hanya  mengangguk sembari memandang ke cakrawala.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sungguh aku tak tahu, sudah ribuan tahun berenang serupa ikan, belum  juga kutemukan daratan yang memendam jejak dan janji kita. Dari sela  karang ini, aku bisa mencium harum tubuhmu yang menyusup di hamparan  pasir pantai. Tetapi sebagai ikan harum itu ibarat mata kail yang bisa  memerangkapku ke daratan yang asing. Bahkan mungkin aku akan binasa di  dasar keterasingan itu. Karenanya, dari kedalaman aku cuma mampu  mengirimkan isyarat lewat riak yang berbuih. Kalau kau mendengar angin  mendesir dan riak berbuih putih, itulah surat-surat yang kutulis di  malam-malam yang dingin dan gelap. Cahaya gemintang dari langit hanya  menyentuh permukaan, di mana tak mungkin aku mengapung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kekasih, mungkin terlalu jauh untuk kugapai apalagi kepeluk tubuhmu.  Aku hanya serupa ikan yang hidup di sela ganggang. Sementara kau, uh,  sungguh tak bisa kulukiskan serupa apa dirimu sekarang. Sewaktu kita  berpisah aku pun sebenarnya tak begitu mengingat lekuk-liku wajahmu.  Yang kusimpan pada kenanganku sampai kini, kau tak pernah mengucapkan  sepatah kata pun saat perpisahan itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebegitu berartikah secarik kata perpisahan di saat tragedi  menggulung kita? Dulu kau selalu berujar begitu. Aku selalu membenarkan  ucapanmu, \u201cSempatkah kau mengucapkan sekadar kata perpisahan pada detik  tragedi terjadi?\u201d Kau tetap tidak setuju, aku tahu, karena pada dasarnya  engkau tidak setuju dengan perpisahan. Kita bagai satu zat, katamu,  yang tak mungkin terpisahkan apalagi sekadar oleh tragedi. Karenanya  untuk apa mengucapkan kata perpisahan sementara kita tahu takkan  terpisahkan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oh, aku ingat sekarang itulah rupanya mengapa kau tak meninggalkan  jejak setapak pun di garis pantai. Inikah yang disebut pertemuan kekal,  dalam rentang jarak ruang dan waktu yang jauh?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBukahkah jarak itu yang memisahkan kita selama ini?\u201d tanyaku.  Matahari hampir bersandar di bidak para nelayan. Cahayanya menyepuh laut  menyerupai lempeng tembaga raksasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kau mengernyitkan dahi sebelum berkata, \u201cRuang dan waktu hanyalah gumuk pasir, ia akan terkikis oleh angin.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku menduga waktu itu, kau hanya mencari cara untuk menyudahi  perdebatan kita tentang pertemuan dan perpisahan. Mungkin aku terlalu  romantik. Sekali pertemuan terjadi, maka ia akan kekal sampai berkalang  tanah nanti. Perpisahan hanya ada apabila jiwamu menolak pertemuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oho, di dasar laut ini kini, aku seekor makhluk yang merindukan  pertemuan. Muskil berharap berubah wujud menjadi manusia kembali,  apabila itu dikehendaki hanya untuk sekadar pertemuan. Dalam kenistaan  wujud, setidaknya yang ada dalam pikiranku, hanya kau yang mampu  kuingat, kekasih. Aku sudah lupa bahwa daratan pernah bergetar, dan  manusia kelimpungan seperti kawanan ikan yang dituba, ketika dasar laut  bergolak. Aku juga sudah lupa ketika begitu banyak manusia diseret  gelombang lalu mengambang di atas lautan. Tragedi? Kekasih, hidup di  dasar laut tak ada tragedi yang lebih dahsyat daripada tergoda mata kail  atau diseret jaring para nelayan. Karena dalam sekejap hidupmu bisa  berakhir. Bagi kami, kawanan ikan, waktu dan masa tua bukan halangan  melanjutkan hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa manusia tidak menjadi ikan seperti diriku? Pertanyaan yang  absurd. Semacam gelombang yang coba menghanyutkan langit di kejauhan  cakrawala. Konon, menjadi manusia jauh lebih mulia dibanding hidup di  dasar laut sebagai ikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setidaknya, kau tak pernah berhasil menangkap isyarat serta  surat-surat yang kukirimkan lewat angin dan riak ombak. Mungkin karena  surat-surat yang kukirimkan tak mudah terpahami dari dunia di mana  engkau berdiri sekarang ini. Tetapi, sungguh aku tak memahami bahasa  lain selain mengirimkan isyarat lewat gelagat ombak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hanya saja ketahuilah bahwa surat-suratku berisikan cerita panjang  tentang pengembaraan hidup di bawah permukaan. Selain menemukan gugusan  terumbu serta palung-palung yang dalam, kawan-kawan yang bersahabat, aku  juga merasa bahwa kehidupan di sini jauh lebih damai. Kalau kau bertemu  dengan ikan-ikan buas, tinggallah di sekitar siripnya, kau akan merasa  aman. Lagi pula ikan-ikan itu hanya menjadi pemburu di saat kebutuhan  untuk hidup menuntut. Sesudahnya mereka adalah makhluk jinak yang baik  hati. Bayangkan, aku pernah hidup di sekitar mulutnya, toh ia tidak juga  memangsaku. Jadi perihal dimangsa atau tidak dimangsa, di kedalaman  sini sangat tergantung dari sejauh mana kebutuhan untuk tetap hidup itu  menuntut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku tidak mengerti duniamu. Dari ingatan yang samar-samar, aku cuma  tahu sering kali keserakahan membuat manusia hancur, sering kali  kegilaan terhadap kekuasaan membuat makhluk sesamamu lupa daratan.  Mereka seakan hidup melayang. Dan ujung-ujungnya mengecilkan keberadaan  yang lain. Celakanya, kalau itu kemudian meremehkan dunia di mana  harusnya dia hidup dan berpijak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku tak tahu apakah orang-orang macam ini mampu bertahan jika diberi  pilihan hidup seperti diriku, makhluk rendahan yang tak mampu berpikir  apalagi berkata-kata. Ceritaku dalam surat-surat itu sebagian mungkin  berisikan kenangan-kenangan ketika aku hidup di daratan dulu. Itu  semacam siasat agar aku tak sepenuhnya lupa. Mungkin sekadar latihan  ingatan, jika kupikir tak ada sesuatu yang lebih penting untuk  dikerjakan di sini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesungguhnya kekasih, itulah caraku mengingatmu setiap waktu.  Isyarat-isyarat yang kukirim semacam kail untuk merasakan harum daratan.  Karena hanya dengan begitu seluruh masa lalu melumuri tubuhku. Ah,  indahnya hidup di masa lalu, ketika jalan-jalan kampung belum diaspal,  pohon-pohon belum ditebang, sungai-sungai belum tercemar, rumah-rumah  belum kumuh, kendaraan-kendaraan belum mengotori udara, dan mal-mal  belum menyedot uang kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah kau masih menyimpan keindahan itu kekasih? Apakah kenyataan  sudah jauh dari kenangan? Aku tahu kau pasti tak akan menjawab seluruh  pertanyaanku. Karena kau berada jauh dari pikiranku. Tetapi nanti di  saat laut surut aku akan ada di laguna-laguna. Mungkin kita bisa bertemu  kekasih. Tak usah membawa bunga atau anggur dalam pertemuan kita nanti.  Cukup datang dalam kedamaian hati dan perasaan bersahabat yang dalam.  Mungkin itulah bekalku nanti mengembara di kedalaman, melintas palung  dan celah karang. Salam kepada sanak kerabat yang masih mengingatku,  meski dalam wujud yang jauh dari sempurna ini\u2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yogyakarta, 2006<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Putu Fajar Arcana<br \/>\nDimuat di Kompas 2006<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aku merasa kau menggamit tanganku ketika ombak ketiga menggulung kita. Waktu itu samar-samar kulihat kilau perahu terbalik di arah matahari. Tetapi semuanya sudah jauh sekali dari jangkauan. Karena itu, sudahlah, aku memilih jadi bagian dari laut. Kulepaskan gamitan tanganmu, dan aku meluncur ke dasar serupa terumbu. Kelak jika kau ke laut dan bertemu dengan ikan-ikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,29,33,42],"class_list":["post-654","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/654","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=654"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/654\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":655,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/654\/revisions\/655"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=654"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=654"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=654"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}