{"id":729,"date":"2010-11-05T04:10:52","date_gmt":"2010-11-04T21:10:52","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=729"},"modified":"2010-11-04T08:24:45","modified_gmt":"2010-11-04T01:24:45","slug":"cerpen-sebuah-persalinan","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/11\/cerpen-sebuah-persalinan\/","title":{"rendered":"Sebuah Persalinan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/img.dailymail.co.uk\/i\/pix\/2007\/08_01\/mumbabyDM0608_468x424.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" title=\"Kelahiran dan Kehidupan\" src=\"http:\/\/img.dailymail.co.uk\/i\/pix\/2007\/08_01\/mumbabyDM0608_468x424.jpg\" alt=\"\" width=\"374\" height=\"339\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dokter itu melepas sarung tangannya dan menepuk-nepuk pundakku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSelamat, bayi anda laki-laki, beratnya sekitar tiga kilogram.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTiga kilo?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSeperti tabung gas yang suka meledak itu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTepat.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cWah&#8230;\u201d Aku ternganga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa, Pak?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApa anak saya juga bisa meledak?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cO, tentu tidak, anak anda hanya pecah.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHah?!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHehe, saya cuma bercanda, sekali lagi selamat, proses operasi juga berjalan lancar. Istri anda sangat kooperatif, dan sportif.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dokter  itu tersenyum, lantas berlalu, menikung ke arah kantin. Aku termangu.  Terduduk kembali, pintu ruang bersalin memang belum dibuka. Kaca buram,  kenapa harus ada kaca kalau buram dan tak bisa ditembus cahaya? Aku tak  bisa melihat, tadi hanya sempat mondar-mandir seperti di film-film.  Sekarang aku berharap, semoga istriku juga selamat. Aku ingin mengecup  keningnya, memberinya roti, membelai rambutnya. Mengucap selamat dan  sukses atas kelahirannya. Ya, ini anak pertama kami, anak yang sudah  semestinya lahir ke dunia dalam keadaan selamat. Ini adalah impian  terbesar istriku yang terlambat untuk terwujud, bagaimana tidak, setelah  pernikahan, rasanya sudah berabad-abad kami belum punya anak, akhirnya  sekarang lunas juga, sebab tetangga bilang, rumah tangga tak lengkap  kalau tak ada anak, aku heran, kukira rumah tangga tak lengkap kalau tak  ada televisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Istriku yang awalnya <em>adem ayem, <\/em>tiba-tiba  merengek minta dibuatkan anak, minta agar aku berusaha lebih giat lagi,  minta agar aku tak seharian mengayuh becak. \u201cIstirahat dulu <em>to, <\/em> Mas. becaknya <em>nggak<\/em> akan pergi. Pikirkan nasib masa depan keluarga kita. Kita harus  berusaha dan berdoa.\u201d Begitu nasihatnya sekitar sepuluh bulan yang lalu.  Aku menurut. Ia juga menasihatiku agar berhenti merokok. \u201cDaripada  membakar mulut, lebih baik membakar dapur,\u201d katanya. Hidup jadi penuh  nasihat, aku pun menurut lagi. Setelah memarkir becak secara permanen  dan berhenti merokok secara sembunyi-sembunyi, setiap hari kerjaku cuma  main kartu di pos ronda. Sambil berdoa tentunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Entah mendapat  tuah darimana, nasihat istriku berbuah kehamilan juga. Apakah kehamilan  bisa dibuat dari nasihat-nasihat? Tetapi waktu itu, ia tak langsung  mengabarkannya terang-terangan, melainkan harus berbelit-belit terlebih  dahulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAku ada kabar gembira, Mas.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKabar gembira?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOo&#8230; Pasti hutang kita sama Si Pardi akhirnya dianggap lunas.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBukan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLho, terus?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAda kabar gembira yang lain.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYang lain? Hmm&#8230; Setahuku, satu-satunya kabar gembira cuma kalau hutang-hutang kita lunas.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIh, Mas ini, hutang itu sih malah tambah berbunga, tambah sejuk.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTerus apa?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKabar gembiranya adalah&#8230;\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia diam sejenak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApa?\u201d Tanyaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApa  hayoo&#8230; Coba tebak.\u201d Ia mulai memanis-maniskan wajahnya, sebenarnya  tak perlu dimanis-maniskan saja ia sudah manis, asal lihatnya dari  lubang kunci.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApa sih?\u201d Aku tak sabar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIni. <em> Tuing-tuing,<\/em>\u201d katanya sambil menunjuk ke arah perutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOo&#8230; Kamu kenyang habis ditraktir makan ayam bakar bumbu Klaten sama temanmu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBukan.\u201d Wajahnya jadi cemberut, tetapi justru bertambah manis. \u201cAku hamil mas.\u201d Tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHa&#8230;?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIya,  aku hamil! Hamil!\u201d\u00a0 Ia tertawa cerah, mulai melompat-lompat, seperti  anak kecil, lalu memelukku. Aku sebenarnya juga ingin melompat riang,  tetapi tiba-tiba saja perutku sakit. Apa aku juga hamil?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Itulah  awal mula di mana kami hendak merintis sebuah komposisi keluarga yang  lengkap: suami istri, si jabang bayi, dan sepotong televisi. Dan karena  ini cerita pendek, maka jangan salahkan aku kalau tiba-tiba saja aku dan  istriku sudah berada di rumah sakit untuk sebuah persalinan. Tak perlu  lah diceritakan bagaimana perjuanganku sebagai suami yang setia selama  sembilan bulan kandungannya. Istriku ngidam belasan kali, ingin main  kasti, ingin tidur di kolong jembatan layang Lempuyangan, ingin makan  kacang dengan kulitnya, ingin naik kereta Logawa tanpa karcis, ingin  makan belut goreng di Solo, ingin pecel Madiun, lumpia di stasiun  Surabaya Kota, apel Malang, mangga Situbondo, tape Bondowoso, sampai  ingin makan ayam bakar bumbu Klaten yang buka cabang di sebelah barat  Graha Sabha UGM\u2014dan meski istriku ngidamnya antarkota antarpropinsi,  aku\u00a0 bisa memenuhi semuanya kecuali yang terakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan setelah petualangan ngidam yang nyaris tak sudah-sudah itu, ternyata persalinan itu pun menyajikan hal baru bagiku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cWah, persalinan istri anda harus melewati operasi cesar.\u201d Ucap sang Dokter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOperasi apa?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cCesar.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa itu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKarena posisi bayinya tidak pas.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa bisa tidak pas?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa&#8230; Anggap saja, bayi di dalam kandungan itu sangat aktif bergerak, sehingga ketika akan dilahirkan jadi tidak pas.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wow, belum lahir saja, anakku sudah berpolah, aktif sekali, kelak bisa jadi aktivis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLalu, operasi cesar itu untuk apa?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cWah,  anda ini banyak tanya. Apa anda dilahirkan ke dunia hanya untuk  bertanya? Begini Pak, gampangnya saja, anak anda tidak akan bisa keluar  kalau tidak lewat operasi cesar.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa bisa begitu, Dok? Apa bayi saya tidak mau keluar karena takut hanya lahir untuk bertanya?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAduh,  pusing saya. Ini darurat, sebelum proses operasi dan persalinan,  sebenarnya Anda cukup tanda tangan beberapa berkas saja, ini, silakan.\u201d  Katanya sambil menyodorkan sebuah map. Kami duduk di kursi ruang tunggu,  kursinya bercat kelabu dan tampak baru, tiba-tiba aku merasa sedang  berada di stasiun Lempuyangan, tempat banyak orang merantau dan hanya  meninggalkan kenangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMm&#8230; Dok.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApa anak saya bisa lahir lewat tanda tangan?\u201d Tanyaku sambil meraih pulpen, lalu menggoreskan beberapa garis lengkung abstrak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Satu  jam setelah proses kelahiran selesai, aku diminta memasuki sebuah  ruangan, di sana sudah ada seroang perempuan muda yang amat cantik,  senyumnya manis membius, namun ia seperti menjelma dewi api ketika  menyodorkan selembar kertas berisi rincian biaya persalinan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHah?\u00a0 Delapan juta tiga ratus limapuluh ribu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Resepsionis  cantik itu mengangguk, lalu menjawab, \u201cBenar, Pak. Itu sudah dengan  biaya obat dan kamar inap.\u201d Suaranya indah sekali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMm, anu&#8230; Sebentar ya Mbak, dompet saya ketinggalan di ruangan istri saya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Resepsionis  itu mengangguk. Aku pun segera keluar dari ruangan. Otakku seperti  dililit akar-akar pohon bakau. Gila, belum apa-apa, bayiku sudah bisa  menghabiskan uang delapan juta?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku terus berjalan, dalam keadaan  setengah melamun, di lorong rumah sakit, aku berpapasan dengan dokter  yang mengurusi persalinan istriku tadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMm&#8230; Dok, sebentar.\u201d Kataku. Dokter itu berhenti dan tersenyum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAda yang bisa saya bantu, Pak?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMm&#8230;  Begini, Dok. Seandainya ya, seandainya saya belum bisa membayar biaya  kelahiran anak saya, solusinya bagaimana, Dok?\u201d Aku bertanya dengan  sangat gugup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOo&#8230; Hahaha. Itu sudah biasa kok di sini.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah biasa?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBenar.  Begini, coba and lihat, di ujung sana, di dekat kamar mayat, ada  ruangan khusus untuk bayi-bayi. Nah, semua orang tua yang tidak bisa  membayar biaya persalinan, bayinya akan diletakkan di sana sampai  seluruh biaya bisa dibayar.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dokter itu berbicara dengan amat  lancar, sementara aku merasa seperti ada petir membelah telingaku.  Dokter itu kemudian berlalu begitu saja, sepertinya sangat sibuk. Aku  terus melangkah gontai, masuk ke ruangan istriku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam,  kulihat istriku memalingkan mukanya ke samping. Sepertinya ia sudah tahu  sermuanya, ah, kenapa wanita selalu sangat peka? Aku beralih ke  sisinya, tampak air matanya menetes, membasahi bantal\u2014ini bukan puisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menangis sambil menghadap vas bunga dan jendela. Ada kupu-kupu kertas yang baru selesai dibuatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTadi aku&#8230;\u201d Aku mencoba untuk mulai bicara, tetapi istriku segera memotong,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah, Mas. Aku sudah tahu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah. Aku bingung, tak tahu lagi harus berkata apa. Aku hanya diam, memandang cicak di langit-langit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMas..,\u201d tiba-tiba istriku memanggil lirih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPerutku dijahit, kan?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBetul.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Istriku  menarik napas pelan-pelan. \u201cMas, kalau kamu cinta padaku, cepat ambil  bayi kita, masukkan kembali ke dalam rahimku. Aku tidak ingin lahir di  rumah sakit ini, aku ingin lahir di bawah pohon asam saja, atau di bawah  jembatan layang Lempuyangan, seperti gelandangan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mendengar  kata-katanya barusan, aku tertunduk lesu. Aku sedikit bangga padanya, di  saat-saat begini, istriku masih saja ingin bercanda.***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>By. Sungging Raga<br \/>\nDimuat di Tabloid Nova 17 Oktober 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dokter itu melepas sarung tangannya dan menepuk-nepuk pundakku. \u201cSelamat, bayi anda laki-laki, beratnya sekitar tiga kilogram.\u201d \u201cTiga kilo?\u201d \u201cYa.\u201d \u201cSeperti tabung gas yang suka meledak itu?\u201d \u201cTepat.\u201d \u201cWah&#8230;\u201d Aku ternganga. \u201cKenapa, Pak?\u201d \u201cApa anak saya juga bisa meledak?\u201d \u201cO, tentu tidak, anak anda hanya pecah.\u201d \u201cHah?!\u201d \u201cHehe, saya cuma bercanda, sekali lagi selamat, proses operasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,29,33,42,85],"class_list":["post-729","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut","tag-sungging-raga"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/729","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=729"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/729\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":731,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/729\/revisions\/731"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=729"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=729"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=729"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}