{"id":750,"date":"2010-12-09T04:13:27","date_gmt":"2010-12-08T21:13:27","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=750"},"modified":"2010-12-08T18:18:08","modified_gmt":"2010-12-08T11:18:08","slug":"masjid-penuh-malaikat","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/12\/masjid-penuh-malaikat\/","title":{"rendered":"Masjid Penuh Malaikat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ki Ma&#8217;un, kenapa pintu masjid belum dibuka?&#8221; tanya Jawi ketika  menghampiri Ki Ma&#8217;un yang hanya nongkrong di depan pagar masjid. &#8220;Lha,  malah ngendhuk di sini. Kenapa belum dibuka masjidnya, Ki.&#8221; Ki Ma&#8217;un  tengadah. Kedua alisnya melorot membentuk kerut. Sambil membetulkan  kopiah dan mengusap kerak ludah di ujung bibir, dia memberikan kunci  mesjid kepada Jawi dengan wajah kusut. Jawi yang gelagapan karena saat  itu dia belum siap melipat sarungnya terpaksa menerima dengan raut  heran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kenapa tho, Ki? Kenapa kuncinya diberikan ke saya tho?&#8221; ucap Jawi sambil sesekali mengusap matanya yang penuh belek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawi  berjalan agak terkantuk ke teras mesjid. Sepi meraup dingin yang tadi  sempat Jawi rasakan di perjalanan. Tidak biasanya masjid setenang ini.  Dingin yang memuncak tiba-tiba melorot tak berdaya berganti hangat,  sekaligus suasana hening tanpa bunyi sedikit pun. Jawi mengintip dari  jendela. Yang dapat ia lihat hanya bayangan samar kain pembatas di dalam  mesjid yang dikuak ke atas. Lalu, dengan hati-hati sambil sebelumnya  menoleh kepada Ki Ma&#8217;un yang tak meninggalkan duduknya, ia memasukkan  kunci pada lubangnya. Ia putar ke kanan, lalu &#8220;klik&#8221;. Diputar ke kanan  kedua kalinya, kemudian terdengar lagi &#8220;klik&#8221;. Ia tersenyum. Berbalik  sebentar pada Ki Ma&#8217;un yang juga berbalik, namun cepat memalingkan muka  dan menunduk cemberut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Wong aneh Ki Ma&#8217;un ini. Ndak ada apa-apa  kok ngekengkreng begitu kayak ayam,&#8221; celoteh Jawi sambil memutar gagang  pintu. Tidak ada suara &#8220;klik treeek&#8221; seperti biasa saat membuka pintu.  Justru gagang pintu yang kembali pada posisinya semula sulit diputar  untuk kedua kalinya. Jawi bingung. Diputarnya lagi berulangulang, namun  hasilnya tetap sama saja. Gagang pintu tak bergerak. &#8220;Pintunya rusak,  Ki?&#8221; &#8220;Ya ndak. Kemarin gagangnya baru diganti dengan yang paling baru  dan mahal. Ndak mungkin rusak,&#8221; jawab Ki Ma&#8217;un tak bertenaga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawi  mencoba sekali lagi, tapi gagal. Ia berputar ke pintu samping,  menjumput kunci kedua. Dimasukkannya kunci, diputarnya gagang pintu,  kembali pada posisi semula, lalu diputar lagi. Hasilnya tetap sama. Dan,  tak berubah pula ketika ia mencoba pada pintu ketiga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Atau  kuncinya yang ndak pas, Ki?&#8221; &#8220;Kamu dengar bunyi apa itu tadi? Kalau bisa  diputar, ya berarti pas tho,&#8221; jawab Ki Ma&#8217;un kesal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akhirnya, Jawi bergabung dengan Ki Ma&#8217;un. Duduk di sebelahnya dan menyerahkan kunci itu padanya lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Memangnya sudah berapa lama Ki di sini?&#8221; tanya Jawi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sejak sejam yang lalu,&#8221; ucap Ki Ma&#8217;un.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Duh,  kenapa bisa begitu ya? Masak pintu tiba-tiba ndak iso dibuka ya?&#8221;  gerutu Jawi sambil menggarukgaruk kepalanya. Ia mengapit kopiahnya di  bilah ketiak sambil membetulkan lipatan sarung yang dari tadi terus  melorot.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia memandang sekeliling. Hari ini aneh, sangkanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Biasanya  orang sering berseliweran di depan masjid meski masih pukul setengah  lima. Setengah jam lagi seharusnya azan Subuh. Biasanya akan ada  rombongan ibu-ibu pedagang menggondol dagangannya dengan tampah atau  keranjang. Para jamaah juga seharusnya sudah ada yang datang ke masjid,  tapi Jawi tak melihat satu pun muka mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mustahil ndak bisa  dibuka, Ki,&#8221; Jawi geram. Kemudian, ia merebut kunci dari Ki Ma&#8217;un dan  mencobanya lagi. Tetap tak terbuka. Jawi mengelilingi mesjid, bahkan  sempat melongo ke dalam toilet. Sebentar ia berdiri di samping kanan  masjid sembari mengedarkan pandangannya pada semua benda. Ia merasa  aneh. Tak ada angin, tak ada sesuatu yang bergerak normal. Jika ia  merasakan ada angin, itu karena ia merasa tengkuknya tiba-tiba dingin  seperti diembus. Bulu kuduknya meradang. Ia menghampiri Ki Ma&#8217;un.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Hari  ini kok aneh ya, Ki?&#8221; &#8220;Aneh bagaimana?&#8221; &#8220;Kok ndak ada orang lewat, ndak  ada angin, ndak ada apa gitu Ki. Tenang sekali di sini,&#8221; ucap Mail  mengeluselus tengkuknya yang masih terasa dingin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ki Ma&#8217;un hanya  menoleh, menatapnya sayu, lalu berbalik mengusap wajahnya. Rasa kantuk  sepertinya masih mengganjal Ki Ma&#8217;un, sebab sedari tadi ia terus  mengucek-ucek kedua matanya. Kelopak matanya turun dan sepertinya ia  sangat kelelahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tadi malam aku ngeronda sampai jam dua. Masih  ada beberapa penduduk lewat kok.&#8221; Ucap Ki Ma&#8217;un. Jawi mengangguk setuju,  sebab ia juga sempat mendengar beberapa pemuda di warung samping  rumahnya bernyanyi hingga pukul tiga. Juga terdengar alunan musik  gondang dari rumah Ompu Manitir yang tak jauh dari rumahnya. Ia tahu di  rumah Ompu Manitir sedang diadakan pesta perkawinan anak keduanya. Pesta  itu sendiri sudah berlangsung sejak dua hari lalu. Sebenarnya,  keheranan Jawi sudah berlangsung sejak ia keluar dari pintu rumah.  Bahkan, bunyi kancing kemejanya yang jatuh saja bisa ia dengar saking  sunyinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langit tampak gelap. Sunyi membahana di sekeliling  perkampungan. Ia pun bingung saat melewati rumah Ompu Manitir, tidak ada  ada lagi peralatan pesta bertengger di situ. Sekadar sampah atau  sisa-sisa kayu bekas api unggun saja tidak ia temukan. Biasanya Ompu  Manitir membuat api unggun di depan rumahnya jika ada acara hingga larut  malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal yang paling membuatnya merinding adalah ketika ia  melintas di depan rumah Pakde Suryaman. Rumah lelaki dermawan itu gelap,  sama sekali tak disinari cahaya. Lampu jalan sudah tak berfungsi sejak  dua hari lalu dan tak diganti. Ia sempat berhenti sebentar melihat-lihat  sekeliling rumahnya. Begitu tenang. Seakan ia pun ikut hanyut dalam  ketenangan yang luar biasa itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemarin, Pakde Suryaman baru saja  menggelar wiridan bersama anak-anak yatim. Padahal, kondisinya saat itu  sedang sakit hingga ia mesti duduk di kursi roda, tapi tetap memaksakan  ikut membagi-bagi sembako kepada anak-anak yatim itu. Jawi sendiri ikut  membantu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawi beranjak lagi dari samping Ki Ma&#8217;un. Kali ini ia  mencoba melongo dari lubang ventilasi. Ia mengambil dingklik di samping  tiang dan berusaha memanjangmanjangkan leher demi melihat ke dalam  mesjid. Darahnya terkesiap. Jantungnya berdetak kencang saat ia  menyaksikan di shaf imam terdapat Alquran terbuka di atas dudukannya  dengan mikrofon duduk di depannya. Cahaya di atasnya menyala meski  redup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ki, sampeyan lupa membereskan masjid, ya?&#8221; katanya tanpa  beranjak. &#8220;Ndak mungkin aku lupa. Wong tadi sehabis Isya sudah  kubereskan semua.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ada Alquran di barisan imam, Ki. Masih terbuka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Juga ada mikrofon di situ.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ndak mungkin ah. Aku yakin sekali sudah kubereskan semua Alquran dan mikrofon ke tem patnya.&#8221; Bantah Ki Ma&#8217;un sebal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawi  mengintip ke arah jam dinding. Sudah pukul lima. Seharusnya azan subuh  sudah berku mandang, namun ia tak mendengar azan dari masjid manapun.  Padahal, kampungnya dikelilingi tiga buah masjid yang selalu tepat waktu  mengu mandangkan azan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ki, bawa jam ndak? Sudah jam piro?&#8221; tanya Jawi masih tak beranjak dari tempatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jam limo lewat sikit. Kenapa ndak ada azan, ya?&#8221; Ki Ma&#8217;un ternyata menyadari hal yang sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku  juga ndak mengerti, Ki. Ono opo tho?&#8221; Jawi menghampiri Ki Ma&#8217;un. Sambil  berjalan ter gopoh-gopoh ia meminta lagi kunci masjid pada lelaki tua  itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sudahlah. Ndak akan bisa dibuka. Wong aku sendiri sudah mencobanya lima kali, tetep ndak iso.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kata Ki Ma&#8217;un urung memberikan kunci pada Jawi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagai  kena mantra sirep, Jawi dan Ki Ma&#8217;un tiba-tiba merasa tak dapat  menggerakkan tubuhnya ketika angin berembus demikian kuat hingga  mengempas kopiah keduanya. Langit tiba-tiba mengeluarkan cahaya  kekuningan demikian perlahan. Mereka dapat melihat bayangan mereka  sendiri diterpa cahaya fajar yang tibatiba saja menyembul dari balik  ufuk. Barulah mereka dapat menggerakkan tubuh secara perlahan ketika  Kades Darmadji datang menghampiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lho, kalian masih di sini  rupanya. Sudah dimatikan kasetnya kan? Lho, pintu masjidnya kok ditutup  lagi,&#8221; ujar Kades Darmadji menepuk pundak Ki Ma&#8217;un.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawi yang  bingung setengah mati bertanya, &#8220;Ada apa ya, Pak?&#8221; Kades Darmadji  tertawa seloroh, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. &#8220;Kamu ini  bagaimana tho, Jawi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lha wong tadi kamu yang ngumumken Pak  Suryaman meninggal. Ya, sudah jangan bercanda. Sudah kamu matikan kan  kaset Yasinnya?&#8221; &#8220;Kaset Yasin opo tho. Wong dari tadi masjidnya ndak iso  dibuka,&#8221; sambung Ki Ma&#8217;un terheran-heran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kades Darmadji kembali  tertawa dan menggelenggelengkan kepala. Ia heran melihat kedua lelaki di  depannya saling pandang dengan wajah kusut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ki Ma&#8217;un ini pintar bercanda ya. Wong suara kaset sekeras geledek begitu kok malah nanya kaset opo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudahlah,  Ki, Jawi, saya tunggu di rumah pak Suryaman ya.&#8221; Kades Darmadji  meninggalkan kedua lelaki yang masih tak mengerti apa-apa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka tetap saling pandang. Tak berkedip sekalipun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mencoba  mengingat-ingat kembali. Mereka yakin tak mendengar suara kaset apa  pun, bahkan tak merasa mengumumkan berita apa pun karena memang sejak  tadi mereka tak bisa masuk masjid.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ki Ma&#8217;un memberikan kunci  masjid pada Jawi. Jawi yang masih tak percaya berjalan agak gontai  menuju pintu masjid. Ia masukkan kunci perlahan, lalu memutar gagang  pintu. Sesaat pintu terbuka setelah Jawi mendorongnya sedikit.  Dilihatnya kain pembatas jamaah terlipat ke atas. Tak ada Alquran dan  mikrofon tergeletak di barisan imam seperti yang ia lihat tadi.***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Miftah Fadhil<br \/>\nDimuat di Republika 5 Desember 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Ki Ma&#8217;un, kenapa pintu masjid belum dibuka?&#8221; tanya Jawi ketika menghampiri Ki Ma&#8217;un yang hanya nongkrong di depan pagar masjid. &#8220;Lha, malah ngendhuk di sini. Kenapa belum dibuka masjidnya, Ki.&#8221; Ki Ma&#8217;un tengadah. Kedua alisnya melorot membentuk kerut. Sambil membetulkan kopiah dan mengusap kerak ludah di ujung bibir, dia memberikan kunci mesjid kepada Jawi dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,29,33,42],"class_list":["post-750","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/750","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=750"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/750\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":753,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/750\/revisions\/753"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=750"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=750"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=750"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}