{"id":764,"date":"2010-12-23T08:15:34","date_gmt":"2010-12-23T01:15:34","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=764"},"modified":"2010-12-23T06:24:42","modified_gmt":"2010-12-22T23:24:42","slug":"warung-copet-copet","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2010\/12\/warung-copet-copet\/","title":{"rendered":"Warung Copet-Copet"},"content":{"rendered":"<div id=\"_mcePaste\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: Verdana, Geneva, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 12px; -webkit-border-horizontal-spacing: 5px; -webkit-border-vertical-spacing: 5px;\">Tadi aku bertemu Minah sedang jaga counternya Haji Samsul di Pasar Satelit. Katanya ia kecurian uang, Kak?\u201d sigap Dul mengambil posisi duduk di warung Bi Ano. \u201cKopinya satu, Tin!\u201d\u201cAlaah paling-paling kelupaan naruhnya,\u201d Jami melepaskan topi koboinya dan menaruhnya di meja.<\/p>\n<p>\u201cTopi baru tuh!\u201d Dul melirik topi koboi Jami.<\/p>\n<p>\u201cOoo\u2026 tadi Subuh nemu di pasar. Yah kupakai saja untuk\u2026\u201d<\/p>\n<p>\u201cUntuk apa, Kak?\u201d<\/p>\n<p>\u201cNgg..ngg..nggak untuk apa-apa.\u201d Jami kikuk. \u201cSudahlah, nggak usah dibahas! O ya, siapa yang ngantar kamu ke sini barusan? Tukang ojek baru ya?\u201d<\/p>\n<p>\u201cTakut ada saingan ya, Kak? He..he..he\u2026\u201d Dul nyengir. \u201cItu kawan SMA-ku dari Palembang. Mirip Giring-Nidji, kan?He..he..he\u2026\u201d Dul meraih pisang goreng. \u201cKebetulan dia liburan ke Linggau, trus ketemuan di jalan, jadi aku minta antar ke sini.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAsas manfaat!\u201d<\/p>\n<p>\u201cDari pada naik ojek, 3.000!\u201d<\/p>\n<p>Jami menghirup kopi pahitnya yang mulai dingin.<\/p>\n<p>\u201cO ya Kak, kata Minah tadi ia benar-benar kecurian\u2026\u201d<\/p>\n<p>\u201cDia kenal orang yang nyuri?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKatanya baru kali ini dia ngeliat orang itu di Pasar Satelit. Ceritanya orang itu pura-pura mau ngisi pulsa pagi tadi.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTrus?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMinah ngambil HP yang biasa digunakan untuk transfer pulsa elektrik ke dalam. Eeeh sepeninggalnya ke dalam, dompetnya raib. Lelaki yang mau ngisi pulsa itu entah pergi ke mana!\u201d<\/p>\n<p>\u201cCiri-cirinya?\u201d<\/p>\n<p>\u201cNah, aku lupa nanya, Kak!\u201d Dul menepuk jidatnya.<\/p>\n<p>\u201cSudahlah, Minah memang sering teledor. Untung bukan uang counter yang hilang!\u201d<\/p>\n<p>\u201cKok malah menyalahkan Minah, Kak? Kan kasihan\u2026\u201d<\/p>\n<p>\u201cMinah itu orangnya memang teledoran, Dul. Kamu masih ingat kan, 3 hari yang lalu dia juga ke pasar atas, terus pulang nangis, ngadu dengan ayukmu. Katanya kecopetan, tak tahunya dompetnya masih ada di bawah bantal tempat tidurnya.\u201d Dul manggut-manggut.<\/p>\n<p>\u201cSudahlah tak usah berlebihan. Aku tahu kamu naksir dengan adik iparku itu\u2026.\u201d Muka Dul bersemu merah.<\/p>\n<p>\u201cMakasih, Cantik,\u201d Dul tersenyum dengan tatapan nakal pada Tini yang menghidangkan kopi panas pesanannya.<\/p>\n<p>\u201cDasar mata keranjang!\u201d Jami menyentil telinga pemuda dua puluhan itu.<\/p>\n<p>Tini bergegas ke belakang warung setelah mendengar Bi Ano berteriak untuk mengangkat gorengan tahu. Sebenarnya tanpa diteriaki ibunya pun, Tini juga akan segera berlalu dari hadapan dua lelaki yang kertas bon-nya sudah menumpuk di dinding warung itu.<\/p>\n<p>\u201cLagi cair, Kak?\u201d Dul menyeruput kopi. Matanya melirik jari jemari Jami yang menghitung beberapa lembar 20 ribuan.<\/p>\n<p>\u201cHussh!\u201d Jami menyalibkan telunjuk di bibir legamnya. \u201cJangan keras-keras nanti didengar Bi Ano. Disuruh bayar Bon. Mati aku!\u201d<\/p>\n<p>Dul terkekeh kecil, \u201cSekalian bayarin bon-nya Dul, Kak!\u201d bisiknya sambil menopangkan sebelah tangannya di dekat telinga Jami.<\/p>\n<p>\u201cNgawur!\u201d Jami menepiskan tangan Dul. \u201cIni sebagian kecil simpananku di bawah lipatan pakaian di almari!\u201d Jami memasukkan uang yang sudah tersusun rapi itu ke dalam dompet kumalnya. Satu lembar 20 ribuan terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya.<\/p>\n<p>\u201cUntuk Dul, Kak?\u201d\u00a0 Dul sumringah. Matanya membelalak.<\/p>\n<p>\u201cEnak aja kamu!\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa bagi-bagilah kalau ada rezeki.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSudah kubilang ini bukan rezeki tapi simpananku. Itu pun ada perlunya. Memangnya kamu nggak tahu kalau kandungan ayukmu sudah 8 bulan-an.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYaaa \u2018kan brojolnya pas 9 bulan-an. Udahlah Kak, tak baik terlalu pelit jadi orang. Apapun itu namanya, yang jelas Kakak megang banyak uang.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHuh! Capek aku ngomong dengan pemalas kayak kamu, Dul! Ya sudah, untuk pagi ini, aku yang bayar sarapanmu!\u201d<\/p>\n<p>\u201cNah gitu dong!\u201d Dul terkekeh renyah. \u201cKakak mau ke mana?\u201d tanya Dul demi melihat Jami yang beringsut dari tempat duduknya.<\/p>\n<p>\u201cYa ngojeklah. Kamu ndiri nggak narik?\u201d<\/p>\n<p>\u201cEntar Kak. Agak siangan dikitlah,\u201d Dul mencangking tahu goreng yang baru dihidangkan.<\/p>\n<p>Tini hanya mengelengkan kepala. \u201cDasar pemalas!\u201d batinnya.<\/p>\n<p>\u201cTin, ini 20 ribu untuk kopiku!\u201d Jami menunjuk gelas kopi yang tinggal ampas. Dul berhenti mengunyah. Matanya melirik Jami.<\/p>\n<p>\u201cIya, iya, Bujang.\u201d Kak Jami menepuk pundak Dul, \u201cKau itung juga sarapannya Dul. Sisanya kamu ambil.\u201d Tini mengambil uang itu. Kak Jami mengegas motornya, berlalu mengibaskan debu di warung gorengan tepi jalan itu.<\/p>\n<p>\u201cHuh, kalau kamu dikasihnya, Tin. Tapi kalau aku\u2026\u201d<\/p>\n<p>\u201cAlah dikasih apanya, Dul,\u201d potong Tini, \u201cuang segini juga nggak ada sisanya kalau ngeliat gorengan-gorengan yang sudah kamu embat!\u201d Dul mesem-mesem.<\/p>\n<p>\u201cLagipula, kalaupun ada lebihnya, juga nggak bakal cukup nombokin utangnya!\u201d Tini nyerocos sambil membereskan gelas kopi Kak Jami.<\/p>\n<p>\u201cJadi, Kak Jami itu banyak bon-nya ya, Tin?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMasih banyakan kamu, Dul!\u201d Dul tersedak.<\/p>\n<p>\u201cMinum ambil sendiri di belakang,\u201d Tini berlalu membawa gelas dan lap ke belakang. Dul menuju becaknya, berlalu tanpa permisi.<\/p>\n<p>\u201cNgapain sih, Bu? Dari pagi sampai siang begini, nggak ke depan-depan juga? Di belakang aja mendepnya?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKamu capek jaga warung sendirian?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAlah Ibu, tumben sensitif. Ibu juga nggak nganggur di belakang. Tuh, piring, gelas, dan gorengan sudah ibu bereskan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cIbu sedih, Tin. Ibu kecopetan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKecopetan?!\u201d<\/p>\n<p>\u201cIya. Dini hari tadi, Tin. Ibu baru sadar kalau lelaki yang ibu kira tak sengaja menabrak Ibu itu ternyata pencopetnya. Ini semua masih ngutang dengan pedagang-pedagang pasar pagi,\u201d Bi Ano menunjuk tahu, pisang, ubi rambat, ubi kayu, sukun, ketan, dan penganan\u00a0 goreng lainnya. \u201cUntung mereka sudah langganan ibu semua. Jadi, mereka percaya saja.\u201d Tini mengangguk-angguk tanda turut merasakan kesedihan ibunya.<\/p>\n<p>Bi Ano memang berbelanja ke pasar pagi saban pukul empat dini hari untuk membeli macam-macam penganan yang akan diogoreng di subuh harinya. Sementara Tini, membereskan warung, menjerang air panas, mencuci gelas-piring, menderek air dari sumur umum di kampung SS . Baru setelah subuh, Tini membuka warung. Bi Ano juga sudah membawa barang-barang belanjaannya ke belakang. Rutinitas itu sudah berlangsung ba\u2019da kematian suami Bi Ano, 8 tahun yang lalu.<\/p>\n<p>\u201cIbu kenal yang nabrak?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMana tahulah, Tin. Namanya juga pasar, orangnya berdesakan. Lagi pula lelaki itu memakai penutup kepala, jadi wajahnya nggak keliatan. Yang jelas, Ibu hakul yakin kalau lelaki yang nabrak itu adalah copetnya. Yah pokoknya kata orang piling gitu, Tin\u201d<\/p>\n<p>* * *<\/p>\n<p>\u201cAda Bi Ano, Tin?\u201d<\/p>\n<p>\u201cOoo Yuk\u00a0 Ling, Minah. Sebentar, dipanggil dulu. ibu di belakang\u201d Minah dan Ling duduk di kursi panjang warung itu sambil mengelus perutnya yang membesar.<\/p>\n<p>\u201cEeeeh Minah, Ling, tumben. Ada apa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cTadi ada Kak Jami ke sini?\u201d\u00a0 tanya Ling.<\/p>\n<p>\u201cIya. Biasalah ngopi pagi bareng Dul. Ada apa memangnya, Ling?\u201d<\/p>\n<p>\u201cUangku dicuri, Bi!\u201d<\/p>\n<p>\u201cSiapa yang nyuri? Bukan suamimu, kan?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBukan, Bi!\u201d Ling menggeleng, \u201cAku kenal perawakannya Kak Jami!\u201d<\/p>\n<p>\u201cJadi kamu sempat ngeliat pencurinya?\u201d<\/p>\n<p>\u201cIya Bi. Tadi sekitar jam 11-an. Waktu itu aku baru pulang dari counter, jemput pembukuan yang tertinggal. Tak tahunya Yuk Ling sudah nangis di samping almarinya yang acak-acakkan. Semua simpanannya raib. Katanya pencuri itu keburu pergi. Tapi Yuk Ling ingat perawakan dan warna bajunya, Bi,\u201d jelas Minah. Di sampingnya Yuk Ling tampak sangat galau.<\/p>\n<p>\u201cWah susah juga kalau cuma itu yang diingat, Yuk.\u201d ujar Tini lemah.<\/p>\n<p>\u201cItu persiapan ngelahirin nanti\u2026\u201d Ling mulai menangis.<\/p>\n<p>Bi Ano dan Tini turut terbawa suasana. Mata mereka mulai berkaca, tak tega melihat wanita yang tengah hamil muda tersebut menanggung masalah yang pelik.<\/p>\n<p>\u201cKalau Kak Jami mampir, sampaikan dengan dia. Aku dan Minah pergi ke rumah emak di Megang. Aku nggak masak, Bi. Nggak ada uang. Mmm\u2026, kalau Bibi ada uang\u2026\u201d<\/p>\n<p>\u201cSabar ya Ling,\u201d Bi Ano mendekati Ling, \u201cBibi juga baru kecopetan Subuh tadi.\u201d Ling mengangguk. Tak disangkanya kalau Bi Ano bernasib serupa dengannya.<\/p>\n<p>Tini beringsut mendekati Ling. \u201cCuma ini, Yuk. Pakai dulu untuk ongkos,\u201d\u00a0 Tini menyesakkan selembar uang 5 ribu ke tangan Ling.<\/p>\n<p>\u201cTerimakasih Tin. Aku pergi dulu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAti-ati, Yuk.\u201d<\/p>\n<p>Tiba-tiba. \u201cTin, aku bayar utang hari ini! Lunas!\u201d seorang pemuda tanggung melemparkan selembar 50 ribuan di atas kaleng kerupuk. Ling terperangah melihat ke pemuda tersebut. Ling memelototinya dengan seksama.<\/p>\n<p>\u201cWah banyak rezeki hari ini, Dul!\u201d Tini mengambil uang tersebut. Dul tak menjawab, ia tertegun mendapati seorang wanita hamil di warung itu.<\/p>\n<p>\u201cKau?!\u201d Ling menunjuk-nunjuk Dul.<\/p>\n<p>\u201cAda apa, Ling?\u201d tanya Bi Ano.<\/p>\n<p>\u201cAku nggak nyangka, kamu yang nyuri uangku di almari, Dul!\u201d Ling mencak-mencak. Bi Ano dan Tini terperangah.<\/p>\n<p>\u201cEh Yuk, jangan asal tuduh! Mentang-mentang aku megang banyak uang dikirain nyuri uang situ!\u201d jawab Dul ketus.<\/p>\n<p>\u201cYa ya ya, kamu. Enggak salah lagi! Perawakan dan bajumu persis dengan yang nyuri!\u201d Dul bergegas hendak keluar warung. Tapi\u2026<\/p>\n<p>\u201cBUG!\u201d Bogem mentah mendarat di wajah Dul. Wanita-wanita di warung itu berteriak. Meja dan kursi kayu goyah. Beberapa nampan gorengan dan kaleng kerupuk jatuh ke tanah.<\/p>\n<p>\u201cKak, K\u2026K..Kak\u2026!\u201d Dul terperajat mendapati kerah bajunya dalam cengkeraman Jami.<\/p>\n<p>\u201cAduh..aduh\u2026, jangan ribut di sini!\u201d Bi Ano panik, mengangkat piring dan gelas yang belum dibereskan ke belakang. \u201cOalah\u2026warungku!\u201d<\/p>\n<p>Jami menyeret Dul keluar warung dan menghempaskannya di tanah kosong berpasir di samping warung. Minah merangkul Yuk Ling. Mereka sama-sama menangis menyaksikan Jami yang mulai terdesak. Entah dari mana datangnya, Dul sudah dibantu seseorang yang tampak dengan beringas menghajar Jami. Sementara itu, Tini dan Bi Ano berteriak minta tolong. Banyak orang berdatangan, tapi mereka tak banyak berperan melerai perkelahian itu. Mereka hanya menonton, seakan-akan perkelahian yang berkabut debu dan pasir itu menjadi tontonan yang menghibur di tengah teriknya hari.<\/p>\n<p>\u201cJangan bergerak!\u201d tiba-tiba 4 orang polisi menodongkan pistolnya ke arena perkelahian.<\/p>\n<p>Orang-orang bersorak kecewa, merasa tontonan mereka begitu cepat berakhir.<\/p>\n<p>\u201cPemuda itu yang mencuri uang saya, Pak Polisi!\u201d Ling menunjuk-nunjuk Dul.<\/p>\n<p>\u201cIbu ikut kami juga ke Kantor Polisi!\u201d<\/p>\n<p>\u201cLho kok?\u201d Ling protes.<\/p>\n<p>\u201cSebagai saksi,\u201d jawab polisi singkat. Tampaknya ia yang berpangkat paling tinggi di antara rekan-rekannya. \u201cBawa ketiga lelaki itu ke mobil\u201d perintahnya pada yang lain.<\/p>\n<p>\u201cMin, kamu temani ayuk!\u201d Ling menarik tangan Minah.<\/p>\n<p>\u201cTanpa diminta pun, aku juga akan ke sana, Yuk.\u201d Mereka menaiki mobil bak terbuka bersama ketiga lelaki yang lainnya.<\/p>\n<p>\u201cApa maksudmu tadi, Min?\u201d\u00a0 tanya Ling sesaat setelah mobil bak terbuka tersebut melesat.<\/p>\n<p>\u201cLha wong temannya Dul yang ngeroyok suami kakak itu juga pencuri?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMaksudmu?\u201d<\/p>\n<p>\u201cDia itulah yang mencuri uangku di counter tadi, Yuk! Aku memang nggak begitu kenal wajahnya, tapi di Lubuklinggau ini, berapa orang sih yang rambutnya kribo kayak sarang tawon gitu!\u201d<\/p>\n<p>\u201cTadi aku kira artis yang sering muncul di TV itu lho, Min.\u201d<\/p>\n<p>\u201cIya Yuk. Aku juga ketipu, mirip-mirip vokalisnya Nidji\u2026\u201d<\/p>\n<p>\u201cSiapa? Nidji, Siji\u2026\u201d<\/p>\n<p>\u201cSudah Yuk, nggak penting!\u201d<\/p>\n<p>* * *<\/p>\n<p>Tini sibuk membenahi kerusakan kecil di beberapa bagian dinding, meja, dan kursi kayu warungnya. Mereka belum menerima pembeli. Walaupun kerusakan warung itu tidak terlalu parah, namun Bi Ano masih syok. Tubuhnya lemas. Tampaknya darah rendahnya kumat.<\/p>\n<p>\u201cUdah Bu, biar Tini yang beresin.\u201d Tini mencegah ibunya yang hendak membereskan beberapa gorengan yang berserakan di meja.<\/p>\n<p>\u201cIni topi siapa, Tin?\u201d\u00a0 tanya Bi Ano dengan ekspresi terkejut.<\/p>\n<p>\u201cEnggak tahu, Bu. Ada apa memangnya? Kok sepertinya ibu tahu dengan topi itu?\u201d<\/p>\n<p>\u201cIbu ingat, lelaki yang menabrak ibu dini hari tadi memakai topi ini.\u201d Bi Ano mengangkat topi koboi itu.<\/p>\n<p>\u201cJadi, pencopet itu sempat makan gorengan di sini, Bu?\u201d ***<\/p>\n<p><\/span><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Benny Arnas<br \/>\nDimuat di Jurnal Bogor 12 Desember 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tadi aku bertemu Minah sedang jaga counternya Haji Samsul di Pasar Satelit. Katanya ia kecurian uang, Kak?\u201d sigap Dul mengambil posisi duduk di warung Bi Ano. \u201cKopinya satu, Tin!\u201d\u201cAlaah paling-paling kelupaan naruhnya,\u201d Jami melepaskan topi koboinya dan menaruhnya di meja. \u201cTopi baru tuh!\u201d Dul melirik topi koboi Jami. \u201cOoo\u2026 tadi Subuh nemu di pasar. Yah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[95,16,8,29,33,9],"class_list":["post-764","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-benny-arnas","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/764","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=764"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/764\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":766,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/764\/revisions\/766"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=764"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=764"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=764"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}