{"id":777,"date":"2011-01-20T05:50:16","date_gmt":"2011-01-19T22:50:16","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=777"},"modified":"2011-01-20T05:49:43","modified_gmt":"2011-01-19T22:49:43","slug":"mbak","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2011\/01\/mbak\/","title":{"rendered":"Mbak"},"content":{"rendered":"<div id=\"_mcePaste\">\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;JANGAN percaya pada novelis,&#8221; katanya.  &#8220;Jangan pernah yakin, bahwa kita tidak bakal dibawanya ke tempat tidur  pada suatu hari, telanjang, di antara halaman-halaman buku&#8230;.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">DENGAN gembira dan tertawa-tawa ia mengucapkan kata-kata dari  buku yang dia pamer-pamerkan padaku. Buku itu berbahasa Inggris, dan  kutipan tadi terjemahan bebas saya atas apa yang diucapkannya. Dalam  beberapa hal, aku kadang menilai tingkah dia &#8220;yang usianya dua tahun  lebih tua dariku, oleh karenanya aku memanggilnya mbak&#8221;, agak  kekanak-kanakan. Untuk soal terakhir itu, ia tampaknya menangkap  persepsiku terhadapnya, menerimanya secara suka rela, dan kemudian  tingkah yang sering berbau kekanak-kanakan itulah yang memang sengaja  dimunculkannya di depanku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Atau ia lebih merasa aman dengan pola hubungan seperti ini  &#8220;Karena dalam dirinya, sebenarnya berkecamuk dorongan lain, bahwa sangat  mungkin di antara kami berdua bisa terlibat hubungan&#8221; lebih daripada  ini &#8220;Persoalannya Saudara-saudara, sering ada situasi tertentu dalam  hubungan perempuan-lelaki, yang membatasi mereka untuk bisa begitu saja  saling mengekspresikan ketertarikannya, mewujudkan dorongan itu menjadi  &#8220;taruhlah&#8221; bahasa &#8220;eksistensialnya&#8221;: berhubungan seks.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mana mungkin itu aku lakukan bersamanya. Entah apa kata  sekeliling kami &#8220;atau bahkan kata dunia&#8221; kalau hal itu terjadi.  Meskipun, sebenarnya dalam diriku terus terang selalu menggelegak gairah  setiap kali melihatnya, atau bahkan sekadar mengingatnya. Seluruh  penampilan kewanitaannya selalu mengundang berahiku. Betisnya,  pinggangnya yang terpelihara bentuknya, sampai payudaranya &#8220;yang tidak  terlalu besar&#8221; yang sangat mungkin terjaga &#8220;kesopanannya&#8221;, dalam arti  tidak terjamah sembarang tangan, sering tak terhindarkan melintas di  benakku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah dia sebenarnya menangkap juga apa yang berkecamuk di  benakku. Jangan percaya pada novelis&#8230;. Oleh orang-orang tertentu, aku  memang dianggap sebagai &#8220;novelis&#8221;. Anggapan atau sebutan itu selalu  membuatku gamang. Meski pernah menghasilkan dua buku novel yang  diterbitkan penerbit kurang dikenal, aku tidak pernah punya nyali untuk  menyebut diri sebagai novelis. Dua buku itu pun kuanggap gagal. Aku  sendiri malu kalau membacanya. Kulihat-lihat, terlalu banyak cerita dan  adegan seks yang tak berjuntrungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jangan percaya pada novelis&#8230;.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kupegang tangannya untuk mencoba merebut buku yang  dipamer-pamerkannya. Ia makin tertawa kegirangan. Aku menangkap kulit  tangannya yang halus&#8230;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ah Mbak&#8230;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">DIA adalah putri bude alias ayah kakak. Dulu kami dibesarkan  sama-sama di Semarang, karena begitu lulus sekolah dasar, aku dikirim ke  Semarang oleh ayahku, dititipkan kepada bude. Pertimbangannya, di  Bandungan, ayah adalah petani bunga (mawar) di daerah pegunungan bernama  Bandungan di Jawa Tengah itu, belum terdapat sekolah lanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mbak adalah figur kebanyakan siswa di sekolah. Artinya, jejak  hidupnya adalah jejak hidup yang juga dijalani sebagian besar orang. Ia  bukan &#8220;bintang sekolah&#8221;, &#8220;primadona&#8221; yang menjadi rebutan para cowok,  mayorete drumband yang membikin semua orang berdecap, tukang pesta yang  beredar di mana-mana, dan semacamnya. Bukan. Ia bukan itu semua. Dia  hanya sekolah, belajar dengan tekun seusai sekolah atau pada petang  hari. Kegiatan lain yang dia ikuti seingat saya sebatas pada rombongan  kur gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu dia lulus SMA (waktu pesta perpisahan sekolah pun, bahkan  barangkali tidak mendapati sesuatu yang istimewa, misalnya dicium cowok  yang lantas dikenangnya sebagai kenangan manis). Dia melanjutkan kuliah  di perguruan tinggi dengan ketekunan dan rutinitas hidup yang sama,  lulus pada waktunya, kemudian melamar kerja di sebuah bank di Jakarta,  dan diterima. Sejak itu ia pindah ke Jakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Di bagian apa, Mbak&#8221; tanyaku mengenai pekerjaan yang dijalaninya di Jakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku menjadi <em>teler<\/em>,&#8221; jawabnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">ENTAH mengapa, ketika aku mulai terpengaruh pada berbagai kredo  kepengarangan &#8220;termasuk di antaranya kalau mau mengeksplorasi kehidupan  manusia carilah pada pengalaman sehari-hari yang sederhana, bukannya  pengalaman spektakuler dan spesial yang barangkali tak dialami semua  manusia&#8221; aku suka tergoda untuk menokohkan dirinya. Segi apa darinya&#8221; Ya  tentang kesederhanaan dan semua hal yang bersifat biasa dari hidupnya  itu, Saudara-saudara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku membayangkan, pekerjaannya sebagai <em>teler<\/em>, bagian yang  langsung menghadapi para nasabah bank, untuk urusan menyetor uang,  mengambil uang, mentransfer dana, memindahkan dana antar rekening, dan  seterusnya. Ia hanya menjadi perantara dari instrumen hidup yang rasanya  lebih fungsional, yakni uang. Siapakah akan memerhatikannya, apalagi  dalam urusan penampilan, dia tergolong biasa-biasa saja, bukan  &#8220;katakanlah&#8221; seorang Sophia Latjuba?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu aku mereka-reka cerita, bahwa pada suatu saat ada seorang  pangeran yang cukup sering mendatangi banknya. Sang pangeran diam-diam  suka memperhatikan dirinya, sambil mencari-cari cara, bagaimana bisa  berkomunikasi lebih lanjut dengan pegawai bank di garis depan pelayanan  nasabah ini, yang umumnya sifatnya menjadi seperti uang? berharga tapi  hambar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba sang pangeran menemukan cara. Pada kertas bank yang  isinya selalu cuma kolom-kolom kosong untuk diisi angka-angka, ia  berpura-pura salah menulis isian. Dia minta kertas yang lain lagi.  Sementara pada kertas yang ia akui sebagai telah salah mengisi tadi, ia  tulis kata-kata untuk si Mbak, deformasi sembarangan dari sajak penyair  terkenal Chairil Anwar: &#8220;Hidup terlalu berharga untuk dibekukan dalam  cakrawala angka-angka\/Makin jauh dari cinta sekolah rendah\/Dan tak ada  yang tak terucapkan\/Sebelum kita menyerah&#8230;. Salam dari saya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ini untuk Anda,&#8221; kata sang pangeran mencuri-curi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jantung Mbak terasa copot menerima pesan tak terduga, yang disampaikan dengan cara yang tak biasa itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapakah pangeran yang telah memutus rutinitas hidupku ini?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">ORANG kadang bertanya, mana hal yang sungguh-sungguh terjadi dan  mana yang tidak padaku. Ada juga yang langsung menyimpulkan, bahwa yang  ditulis seorang pengarang sebenarnya adalah pengalaman pribadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak gampang aku menjawab pertanyaan itu. Bukankah semua orang  punya pengalaman pribadi, dan kalau itu dituliskannya dengan demikian  semua orang adalah pengarang? Sebaliknya, ketika seorang pengarang  menulis, dia memang menulis sesuatu dari <em>facet-facet<\/em> pribadinya, mengungkapkan pribadinya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kembali kepada soal Mbak itu misalnya. Apakah dia benar-benar ada  dan punya kaitan hubungan pribadi seperti kuceritakan tadi? Sungguh  pertanyaan yang sukar kujawab. Termasuk, ketika seorang wanita  benar-benar bertanya padaku: &#8220;Apakah yang kamu maksud dalam tulisan itu  diriku&#8221;?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku tergeragap. Yang mengajukan pertanyaan tersebut teman dekat,  yang karena soal kedekatan dan lain-lain, selalu membuat aku segan  terhadapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Bukankah kamu bukan <em>teller<\/em> sebuah bank&#8221;? ucapku. &#8220;Dan aku tidak memanggilmu Mbak&#8221;?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia menyungging senyum tipis, yang sulit kutangkap maknanya. Apakah dia tersinggung? Ia berbalik, berlalu dari hadapanku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku mengejarnya. &#8220;Apakah aku menyinggungmu&#8221;?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kuharap, jangan ceritakan bagian lainnya. Never, never, never&#8230;&#8221; katanya memutus perbincangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">SEBENARNYA, tulisan mengenai wanita di bank yang bertugas di bagian pelayanan nasabah atau disebut <em>teler<\/em> tadi, ada lanjutannya. Wanita itu tidak berdaya belaka, ketika dalam  kerutinan bahkan kedunguan pekerjaan sehari-hari, pangeran yang entah  datang dari mana itu menjemputnya, memberinya mawar dari kebun  keluarganya di Bandungan, Jawa Tengah, memberinya minum anggur merah  yang tak pernah dirasakannya sebelumnya, dan membawanya ke tempat  tidur&#8230;. (Bagian ini kuhapus).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika Anda bertanya, aku bakal tidak bisa menjawab secara pasti,  wanita (atau wanita-wanita) yang kuceritakan itu benar-benar ada atau  tidak. Soal Mbak, putri bude, sebagaimana orang yang biasa hidup dalam  keluarga besar, aku pasti punya. Teman, dalam suatu relasi yang aku  segani, aku juga punya. <em>Teler<\/em> bank, yang kadang memikat perhatian kita, pasti juga ada, bahkan banyak di kota besar ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terus terang, sebutan sebagai novelis (novelis gagal sekalipun)  sering membuatku gamang. Benarkah novelis suka membawa wanita ke tempat  tidur, telanjang, di halaman-halaman bukunya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kupegang tangan wanita itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tidak, aku tidak akan pernah menceritakannya&#8230;,&#8221; janjiku padanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia tersenyum, tampak lega.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banjarsari, Ciawi, Oktober 2004<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerpen By. Bre Redana<br \/>\nDimuat di Media Indonesia 24 Oktober 2004 <\/strong><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;JANGAN percaya pada novelis,&#8221; katanya. &#8220;Jangan pernah yakin, bahwa kita tidak bakal dibawanya ke tempat tidur pada suatu hari, telanjang, di antara halaman-halaman buku&#8230;.&#8221; DENGAN gembira dan tertawa-tawa ia mengucapkan kata-kata dari buku yang dia pamer-pamerkan padaku. Buku itu berbahasa Inggris, dan kutipan tadi terjemahan bebas saya atas apa yang diucapkannya. Dalam beberapa hal, aku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,29,33,42,9],"class_list":["post-777","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-kakisemut","tag-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/777","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=777"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/777\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":778,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/777\/revisions\/778"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=777"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=777"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=777"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}