{"id":780,"date":"2011-02-16T09:02:14","date_gmt":"2011-02-16T02:02:14","guid":{"rendered":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/?p=780"},"modified":"2011-02-16T08:09:50","modified_gmt":"2011-02-16T01:09:50","slug":"pohon-jejawi","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/2011\/02\/pohon-jejawi\/","title":{"rendered":"Pohon Jejawi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Jangan buka peta Surabaya hari ini, tapi, bukalah peta Surabaya pada akhir tahun 1920-an, atau paling muda awal tahun 1930-an, ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Waktu itu, jalan dan kampung bernama \u201dkedung\u201d tidak sebanyak sekarang. Hanya ada satu pada waktu itu, yaitu Kedung Gang Buntu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seolah-olah jatuh dari langit biru, tiba-tiba saja Kedung Gang Buntu  ada di situ, di sebuah kawasan dari sekian banyak kawasan di kota  Surabaya. Dinamakan \u201dkedung\u201d karena di situ ada sebuah \u201dkedung\u201d, yaitu  sumber air jernih, dan dinamakan \u201dbuntu\u201d, karena memang gang ini buntu.  Buntu karena ujung gang ini bertemu dengan sebuah makam kuno, dan di  sebelah makam kuno ada sebuah sumber air bersih, dan di seberang sana  sumber air bersih ada sebuah hutan lebat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk masuk ke Kedung Gang Buntu,  seseorang harus melewati sebuah jalan, Kroepen Straat namanya. Di  tengah-tengah Kroepen Straat, tepat di mulut Gang Kedung Buntu, ada  sebuah pohon jejawi yang asal-usulnya, seperti juga asal-usul Kedung  Gang Buntu, sama sekali tidak jelas. Mungkin di seluruh dunia hanya ada  beberapa pohon yang sama tua, sama besar, sama kokoh, sama tinggi, dan  sama anggun dengan pohon jejawi di hadapan mulut Kedung Gang Buntu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudah beberapa kali pohon jejawi ini memakan korban, semuanya orang  Belanda. Pernah ada seorang pemuda Belanda naik kuda putih besar dan  anggun tiba-tiba raib, konon diisap dan kemudian dikunyah-kunyah oleh  arwah-arwah gaib penghuni pohon jejawi. Ada pula seorang pemuda Belanda  bertubuh gagah, naik sepeda motor besar, melintasi Kroepen Straat dengan  kecepatan setan, tiba-tiba tersandung batu besar yang sebelumnya tidak  ada, lalu tubuhnya melesat ke udara, dengan cekatan didekap akar-akar  pohon jejawi yang bergelantungan di dahan-dahannya, dijepit keras-keras  tanpa ampun, kemudian dibanting ke tanah dengan kecepatan setan pula.  Tercatat pula paling sedikit lima orang Belanda gantung diri, salah  satunya tidak lain adalah seorang perempuan muda yang ketahuan bunting,  entah dibuntingi siapa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemuda penunggang kuda tiba-tiba raib, sebetulnya tidak masuk akal,  demikian pula mengapa ada paling sedikit lima orang Belanda mati gantung  diri. Di bawah pohon jejawi selalu ada orang bergerombol-gerombol,  bukan hanya dari Surabaya, tapi juga dari tempat-tempat jauh, bahkan  dari luar pulau, untuk bersemadi. Pribumi, Cina, Arab, dan entah bangsa  apa lagi pasti ada. Seharusnya ada kesaksian mengenai penunggang kuda,  dan seharusnya bunuh diri dapat dicegah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamis, 31 Maret 1927, pukul 2.47 siang, seorang insinyur Belanda asal  Amsterdam turun di stasiun kereta api Semut, Surabaya, setelah menginap  dua malam di Semarang dalam perjalanannya dari Batavia menuju ke  Surabaya. Wajah insinyur ini tampan tapi sombong, tampak pandai tapi  konyol pula, jalannya digagah-gagahkan, potongan tubuhnya mirip pemain  sepak bola, tapi bukan sepak bola kelas nasional, cukuplah kelas kampung  saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Insinyur Henky van Kopperlyk, inilah wali kota baru Surabaya,  menggantikan wali kota lama, Justin Verhaar, yang masih muda tapi uzur  karena penyakit tuberkulosis. Dalam hati Henky van Kopperlyk berkata  garang: \u201dVini, Vidi, Vici,\u201d dengan lagak Julius Caesar ketika Julius  Caesar pada tahun 47 Sebelum Masehi dengan mudah mengalahkan Raja  Parnaces II di Zile, wilayah Turki sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi ingat, kendati sudah punya istri, Henky van Kopperlyk masih  menyembunyikan istrinya di Batavia. Bukan saja dia tidak bangga mengenai  istrinya, tapi juga, dan inilah yang penting, dia agak malu.  Nanti-nanti sajalah, barang satu dua minggu setelah dia datang, istrinya  akan diselundupkan ke Surabaya, langsung dibawa masuk ke rumah dinas  wali kota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pikiran utama Henky van Kopperlyk terpaku pada, tidak lain dan tidak  bukan, pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu. Mungkin pohon ini sudah  berumur lebih dari empat ratus tahun, pikirnya. Andaikata lima belas  orang berjejer-jejer sambil merentangkan tangan mengelilingi lingkaran  pohon ini, tidak akan cukup. Dua puluh orang pun mungkin masih kurang.  Dan Henky van Kopperlyk tahu, di semua kawasan di Afrika, Asia, dan  Amerika Latin bagian selatan, pohon jejawi dianggap keramat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi, mestikah pohon jejawi itu dibiarkan tegak, menelan korban  orang-orang Belanda, dan siapa tahu. Siapa tahu karena dia sudah  mendengar, banyak orang suka berkumpul di bawah pohon jejawi,  menyembah-nyembah pohon jejawi, meletakkan sesaji dengan penuh khidmat  di bawah pohon jejawi, dan saling berbisik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang berdatangan kemudian berbisik-bisik, itulah yang terjadi  menjelang Perang Diponegoro, sebuah perang dahsyat pada tahun 1825-1830,  pemberontakan Sitti Margopoh di Lubukbasung, Kabupaten Agam,  Minangkabau, pada tahun 1908-1910, serta perkelahian antara  kelasi-kelasi pribumi dan perwira-perwira Belanda di atas kapal perang  Belanda Lucas Roemeltje pada tanggal 4 Februari 1924 di Laut Jawa, tidak  jauh dari Surabaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh lain masih banyak. Semuanya diawali dengan segerombolan orang  datang ke tempat-tempat tertentu, disambung bisik-bisik. Semua merugikan  Belanda. Memang, akhirnya Belanda menang, tapi melalui akal-akal licik,  yang menurut hukum internasional diharamkan. Pangeran Diponegoro,  misalnya, diundang untuk berunding, dan sesuai dengan kesepakatan,  Pangeran Diponegoro datang sendirian, sama sekali tanpa pengawal.  Ternyata Pangeran Diponegoro tidak diajak berunding, tapi langsung  ditangkap, digebuki, dirantai, kemudian dibuang ke Makassar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudah beberapa kali Henky van Kopperlyk membaca laporan mengenai  pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu. Beberapa orang bergantian  datang dan berbisik-bisik. Inilah awal gerakan sebuah komplotan. Dan  yang berbisik-bisik itu datang dari berbagai suku. Inilah awal gerakan  nasional Indonesia, yang menyangkut semua suku bangsa di Indonesia. Beda  dengan Perang Pangeran Diponegoro, yang hanya melibatkan orang-orang  Jawa. Tidak sama pula dengan pemberontakan Sitti Margopoh, sebuah  pemberontakan suku bangsa Minang di Sumatera Barat, dan sama sekali  tidak menyuarakan ke-Indonesia-an.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Henky van Kopperlyk juga sudah banyak mendengar mengenai ilmu-ilmu  gaib di berbagai daerah di Indonesia. Ilmu ini diciptakan dengan melalui  berbagai sesajen dan doa-doa yang diucapkan dengan berbisik-bisik pula.  Setengah tahun sebelum Henky van Kopperlyk tiba di Surabaya, misalnya,  ada seorang laki-laki Belanda yang tiba-tiba kehilangan kemaluannya.  Konon laki-laki Belanda ini bertualang di Kalimantan, menginap di tempat  tinggal kepala suku, lalu meminang anak perempuan kepala suku. Malam  itu juga keperawanan anak kepala suku dirusak, kemudian laki-laki  Belanda ini, dengan bantuan serdadu-serdadu Belanda, melarikan diri ke  Surabaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di atas kapal laki-laki ini dengan bangga bercerita mengenai cara dia  memperdaya kepala suku dan anak gadisnya, sambil beberapa kali tertawa  terbahak-bahak. Tidak ada peristiwa apa-apa pada laki-laki Belanda ini  selama perjalanan dari Banjarmasin ke Surabaya. Sampai tiba di Surabaya  pun dia tidak mengalami apa-apa. Malam harinya, ketika dia akan kencing,  barulah dia tahu bahwa kemaluannya telah hilang, tanpa merasa apa-apa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peristiwa laki-laki Belanda kehilangan kemaluan ini makin meyakinkan  Henky van Kopperlyk, bahwa tindakan tegas harus segera diambil:  binasakanlah pohon jejawi itu sampai ke akar-akarnya, sampai tidak ada  sisanya lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di luar dugaan, ketika Henky van Kopperlyk dengan menggebu-gebu  memutuskan untuk membabat habis pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu,  semua anak buahnya, baik langsung maupun menyindir-nyindir, menyatakan  tidak setuju. Berbahaya. Maka, setelah memberanikan diri, beberapa  pembantu Henky van Kopperlyk memberi tahunya terang-terangan. Ada  pembesar yang mati terpatuk ular liar, ada pembesar lain yang tiba-tiba  linglung, ada pula pembesar yang tampak sehat-sehat belaka, tapi  ternyata tanpa alasan jelas anak laki-lakinya lumpuh, dan banyak contoh  lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Henky van Kopperlyk pura-pura dengan sungguh-sungguh mendengarkan  semua peringatan itu, dengan menutup mulutnya rapat-rapat. Selama  beberapa hari dia tidak mau diajak bicara oleh siapa pun, termasuk  pembantu-pembantu dekatnya mengenai masalah-masalah penting di Surabaya.  Dia menutup mulut, dan dengan matanya terbuka, dia sengaja tidak  melihat apa-apa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama beberapa malam berturut-turut dia membaca laporan-laporan  wartawan Belanda, Willem Coorvaben, dan juga surat-menyurat Wille  Coorvaben dengan beberapa orang Belanda di Indonesia, antara lain dengan  Rob Nieuwenhuys, pengarang Indo Belanda kelahiran Semarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Willem Coorvaben sangat jijik dengan orang-orang pribumi, orang-orang  yang menurut dia \u201dinlander\u201d, yaitu orang-orang kawasan pedalaman hutan  belantara dan karenanya sangat primitif, biadab, malas, dan, ini yang  berbahaya, anarkis. Dalam suratnya kepada Rob Nieuwenhuys dia  menyatakan, dalam kedudukannya sebagai wartawan, dia akan berjuang  mati-matian lewat tulisan-tulisannya, agar Belanda, sampai kapan pun,  kalau perlu sampai dengan terompet tanda kiamat ditiup para malaikat,  harus tetap mencengkeram Indonesia. Bangsa inlander ini, tegas Coorvaben  dalam suratnya, akan sangat berbahaya apabila dibiarkan di luar kendali  Belanda. Karena biadab dan malas, kalau dibiarkan, maka bangsa inlander  akan menjadi bangsa yang korup, dan apabila dibiarkan terus, akan  menjadi bangsa anarkis, yang kalau dibiarkan terus-menerus justru akan  menghancurkan bangsa ini sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akan tetapi, Henky van Kopperlyk tidak habis pikir mengapa Willem  Coorvaben justru bukan hanya mengkhianati dirinya sendiri, tapi malahan  menusuk sesama bangsa Belanda dari belakang. Dia menusuk bangsanya  sendiri bukan pada jantungnya, tapi pada punggungnya. Coorvaben justru  jatuh cinta kepada Imih, perempuan pribumi asal Jawa Timur, dan akhirnya  mengawini perempuan hina-dina ini. Kawin resmi, bukan kawin  bohong-bohongan. Kawin resmi, bukan kawin dengan nyai, sebutan resmi  gundik-gundik Belanda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dWillem Coorvaben, binatang terkutuk itu, tidak lain hanyalah calon  penghuni neraka,\u201d pikir Henky van Kopperlyk, bukan sambil bergidik, tapi  justru sambil tersenyum, seolah-olah habis memenangi sebuah  pertandingan berbahaya. Henky van Kopperlyk merasa menang, karena,  sebetulnya, setiap kali dia berhadapan dengan perempuan pribumi,  jantungnya selalu berdegup-degup, dan semangatnya untuk mengawini  pribumi ini hampir-hampir tidak dapat dikendalikan. Dalam kepalanya,  hampir setiap hari, dia membayangkan mempunyai istri pribumi. Karena  setiap kali dia melihat perempuan pribumi, orangnya atau gambarnya,  langsung jatuh cinta dan ingin mengawininya, maka istri dia di kepala  dia hampir setiap hari berganti-ganti pula. Hari ini dia membayangkan  punya istri pribumi asal Krembangan, besok dia membayangkan sedang  bercumbu dengan istri pribumi dari Perak, lusa dia membayangkan sedang  bergulat dengan istri pribumi asal Mojokerto, atau mungkin Jombang, atau  mungkin juga Sidoarjo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua bayangan indah selalu membawanya kembali ke bumi tempat dia  berpijak, yaitu bumi nyata penuh penindasan. Henky van Kopperlyk adalah  suami, tapi istrinya, Anneke von Hubertus, anak saudagar kaya asal  Tilburg, selalu siap menginjak-injak kepala suaminya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai seorang laki-laki yang menurut dirinya sendiri cerdik, tentu  saja Henky van Kopperlyk tidak kehabisan akal. Sekali tempo dia berhasil  memperdaya perempuan pribumi, dan memperlakukannya sebagai kuda  tunggangan. Bagaikan seorang joki gagah perkasa, dia tunggangi perempuan  pribumi itu dengan gaya naik turun, seperti gaya naik turunnya seorang  joki benaran di atas kuda pada pawai festival. Joki benaran pasti  menengok ke kanan dan ke kiri sambil melambaikan-lambaikan tangan, dan  Henky van Kopperlyk menengok ke kanan dan ke kiri dengan bangga, karena,  inilah kebiasaannya, setiap kali dia berhasil menjerat perempuan  pribumi, di kiri kanannya pasti dia pasang cermin ukuran besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pagi itu, ketika cuaca Surabaya benar-benar cerah, Henky van  Kopperlyk datang ke kantor lebih awal, dengan gaya percaya diri, dan  jalan agak digagah-gagahkan. Bahkan, beberapa saksi mata menuturkan,  sambil berjalan menuju ke ke ruang kerjanya, Henky van Kopperlyk sempat  menggumamkan lagu \u201dPenebang Pohon Tua\u201d. Untuk mendirikan kincir-kincir  angin, babat habislah pohon-pohon tua. Kincir angin sumber kemakmuran,  kincir angin sumber ketenangan. Pohon tua hanyalah sarang burung-burung  jahat, pohon tua hanyalah rumah para iblis, pohon tua hanyalah  persinggahan kelelawar-kelelawar besar sebelum menjadi vampir. Babat  habislah pohon tua, babat habislah pohon tua. Gumam Henky van Kopperlyk  benar-benar bersemangat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikianlah, pagi itu juga dia memerintahkan anak buahnya untuk  membabat habis pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu. Alat-alat berat  harus didatangkan. Dalam waktu paling lama lima jam, pohon jejawi  beserta seluruh akar dan udara yang mengelilinginya, serta burung-burung  jahat yang menghuninya, harus sudah selesai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum gergaji raksasa digerakkan, Henky van Kopperlyk naik ke  kendaraan berat, lalu berpidato. Suasana tenang, sunyi, senyap. Hanya  kata-kata lantang Henky van Kopperlyklah yang menyalak-nyalak. Alam  tetap tenang. Tidak ada satu burung pun yang terbang, tidak ada satu  burung pun yang berkicau. Dan juga, tidak ada satu burung pun yang  tampak. Lalu Henky van Kopperlyk turun dari kendaraan berat, memberi  aba-aba: \u201dsatu\u2026 dua\u2026 tiga!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mesin gergaji raksasa mulai meraung-raung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Barulah ketika tangan-tangan raksasa gergaji akan menyentuh pohon  jejawi, dengan sangat mendadak angin berderak-derak ganas, dan sekian  ratus burung yang mula-mula bersembunyi dengan serentak beterbangan,  sambil menjerit-jerit, memuntahkan sumpah serapah. Dalam waktu yang  sangat singkat, hampir semua burung di seluruh Surabaya dan sekitarnya  berdatangan dengan sangat cepat sekali. Langit gelap, bagaikan mendung  yang menggantung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu, bagaikan mendapat komando dari kekuatan gaib, sekian banyak  burung melayap mendekati Henky van Kopperlyk, tidak untuk  memagut-magutnya, tapi hanya untuk mengelilingi tubuhnya, sambil  menjerit-jeritkan sumpah serapah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penebangan pohon jejawi gagal. Gubernur Jenderal di Jakarta  memarahinya, dan Gubernur Pantai Timur Jawa, berkedudukan di Surabaya,  pura-pura memuji-mujinya. Istri Henky van Kopperlyk, yang sudah  didatangkan secara sembunyi-sembunyi, seorang perempuan gendut dan  berwajah berantakan, menertawainya dengan bumbu kata-kata \u201dsejak dulu  saya sudah tahu kamu goblok.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai wali kota yang ingin menunjukkan kepandaian dan wibawa  besarnya, Henky van Kopperlyk berusaha keras untuk menutupi  kelemahannya. Dia bersumpah untuk mengguncang-guncang bumi dan langit  sambil berseru-seru dalam hati: \u201dInilah Henky van Kopperlyk, wali kota  yang namanya akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah kolonialisme  Belanda!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Benar juga. Hanya dalam waktu beberapa bulan Henky van Kopperlyk  sudah siap untuk melaksanakan gagasan besarnya: semua klub sepak bola  Belanda di seluruh Jawa dikumpulkan di Surabaya untuk bertanding  memperebutkan Piala Gubernur Jenderal. Hari dan tanggal pembukaannya  sudah ditentukan, yaitu Minggu, 17 Juli 1927, tepat pada hari ulang  tahun Gubernur Jenderal. Acara pembukaan pun dirancang dengan sangat  teliti: tempat duduk Gubernur Jenderal, para gubernur, para bupati,  pawai drumband, paduan-paduan suara lengkap dengan lagu-lagu marsnya,  penyanyi-penyanyi, penari-penari, dan semuanya sudah siap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seluruh kota Surabaya dihiasi lampu pijar, gedung-gedung pemerintah  dibersihkan dan dicat baru, demikian pula semua sekolah, toko, rumah,  dan bangunan lain. Gedung-gedung klub Belanda, kolam-kolam renang untuk  orang Belanda, ruang tunggu khusus untuk orang Belanda di tiga stasiun  kereta api Surabaya, dipasangi papan dengan huruf-huruf besar: \u201dPribumi  dan Anjing Dilarang Masuk\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak boleh ada satu acara pun yang gagal. Jangan sampai Gubernur  Jenderal menganggapnya goblok. Tidak boleh ada satu gubernur pun di  seluruh Indonesia yang tidak memuji-mujinya. Semua bupati harus bertekuk  lutut memberi hormat kepada dia. Henky van Kopperlyk adalah nama yang  tidak boleh dipandang sebelah mata oleh siapa pun, tidak pula oleh  Anneke von Hubertus, istrinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Henky van Kopperlyk sadar perempuan bernama Anneke von Hubertus bukan  hanya berwajah berantakan, tapi juga berhati duri, congkak, selalu  menganggap dirinya benar, dan orang lain hanyalah kera tanpa otak.  Ayahnya, Henricus von Hubertus, di mana-mana berusaha meyakinkan, darah  dalam tubuhnya darah Belanda tulen asal Tilburg, dan sama sekali tidak  ada sangkut pautnya dengan darah Jerman. Hubertus nama Jerman, tapi  dalam darahnya justru mengalir kebencian terhadap Jerman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di ruang tamu dan ruang kerja rumah Henricus von Hubertus  terpampanglah iklan rokok yang sudah dibesarkan, dan dibingkai dengan  lapisan emas. Iklan rokok merek Ogden. Dalam iklan ada gambar kapten JR  Jellicoe RN, seorang kapten kapal perang Inggris yang terkenal berani,  dan terkenal pula sebagai perokok berat. Kapten Jellicoe ini, tidak  lain, adalah nenek moyang Jenderal Angkatan Laut Inggris, yang dengan  kapalnya, His Majesty Ship Centurion, mengobrak-abrik angkatan laut  Jerman dalam Perang Dunia I.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Henky van Kopperlyk insinyur tamatan Universitas Delft, muda,  berambisi, dan merasa tahu jalan paling baik untuk sampai ke puncak. Dia  mengenal nama Henricus von Hubertus sebagai saudagar sombong tapi kaya,  tidak punya saudara, keponakan, dan apa pun juga, kecuali istrinya yang  raut wajahnya seperti orang akan menangis, tapi tahu bagaimana  memuaskan suaminya pada waktu malam. Anneke von Hubertus satu-satunya  anak Henricus von Hubertus, dan karena itu, tidak ada orang lain yang  dibenarkan oleh undang-undang untuk menerima harta karun warisan kecuali  Anneke.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap hari, paling sedikit tiga kali, Henky van Kopperlyk  berkeliling kota mengontrol persiapan acara besar hari ulang tahun  Gubernur Jenderal. Dia sering naik kuda dengan sikap digagah-gagahkan,  diiringi oleh beberapa ajudannya. Di tempat-tempat ramai dia memerintah  kudanya berjalan perlahan-lahan bagaikan dalam sebuah parade, sambil  mengangkat hidungnya tinggi-tinggi dan melambai-lambaikan tangan kepada  khalayak ramai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia selalu kurang puas melihat papan-papan besar \u201dAnjing dan Pribumi  Dilarang Masuk\u201d di tempat-tempat umum. Terlalu kecil, atau hurufnya  kurang mencolok, atau tempatnya terlalu tersembunyi. Maka, atas  perintahnya, papan-papan \u201dAnjing dan Pribumi Dilarang Masuk\u201d menjadi  benar-benar mencolok. Kisah tentang Belanda kehilangan kemaluannya dan  pengalamannya sendiri dikerubuti sekian banyak burung membuat hatinya  terbakar. Pribumi harus dihina, dilecehkan, dan dipermalukan, sebelum  mereka dibakar hidup-hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para bupati adalah pribumi, kendati bangsawan, bagaimanapun mereka  pribumi. Perintah langsung dari Gubernur Jenderal menegaskan, semua  orang Belanda harus berbuat baik kepada para bupati, dan harus mampu  membuat mereka makin setia kepada Belanda dan makin jijik kepada sesama  pribumi. Henky van Kopperlyk akan membuktikan bahwa para bupati nanti  akan bertekuk lutut menghadapinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak hari pertama perkawinannya, Henky van Kopperlyk sudah bertekad  untuk tidak mempertontonkan istrinya di depan umum, kecuali kalau  terpaksa sekali. Dia tahu orang-orang akan mengejek-ejek istrinya dan  menganggap dia goblok karena tidak mampu mencari istri yang pantas. Dan  dia sadar orang-orang mempunyai hak penuh untuk mengolok-olok istrinya  karena memang wajah istrinya berantakan, dan kalau berbicara  kadang-kadang seperti anjing geladak sedang menyalak. Demikianlah, pada  hari ulang tahun Gubernur Jenderal, Henky van Kopperlyk datang ke  lapangan sepak bola, seperti biasanya, tanpa istri. Bagi  pembesar-pembesar Belanda, datang ke acara resmi tanpa istri adalah  perbuatan bejat. Tapi semua tamu sudah mafhum, Henky van Kopperlyk tidak  akan berani mempertontonkan istrinya di depan umum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Upacara pun dimulai. Drumband berjalan keliling lapangan. Anak-anak  sekolah Belanda berjalan dengan semangat membara di belakangnya.  Berangkai-rangkai mercon meledak-ledak di udara. Dua pesawat kecil pun  berkeliaran ke sana kemari, menyebarkan potongan-potongan kertas  beraneka warna. Lalu, pidato-pidato pun dimulai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akhirnya, tibalah acara yang amat penting bagi Henky van Kopperlyk.  Bola dipasang tepat di tengah lapangan. Bunyi terompet dan tambur  menggetarkan udara. Lalu, senyap. Henky van Kopperlyk berdiri dengan  sikap gagah tidak jauh dari bola. Pistol pertama meledak. Senyap. Henky  van Kopperlyk mengambil ancang-ancang untuk menendang bola. Pistol kedua  meledak. Senyap. Henky van Kopperlyk makin siap menendang, menunggu  pistol ketiga meledak. Begitu pistol ketiga meledak, dengan penuh  semangat Henky van Kopperlyk lari menuju ke arah bola.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah, Henky van Kopperlyk makin mendekati bola, kemudian menyepak bola  dengan kekuatan penuh. Karena tali sepatunya entah mengapa kurang  kencang, bukan bolanya yang terkena tendangan. Justru sepatu Henky van  Kopperlyklah yang terlepas, lalu melayang di udara, terus melayang,  seolah-olah ingin menggedor-gedor pintu surga. Bola tetap berada di  tempatnya semula.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>By. Budi Darma 26 Desember 2010<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan buka peta Surabaya hari ini, tapi, bukalah peta Surabaya pada akhir tahun 1920-an, atau paling muda awal tahun 1930-an, ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Waktu itu, jalan dan kampung bernama \u201dkedung\u201d tidak sebanyak sekarang. Hanya ada satu pada waktu itu, yaitu Kedung Gang Buntu. Seolah-olah jatuh dari langit biru, tiba-tiba saja Kedung Gang Buntu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,33,9],"tags":[16,8,29,33,9],"class_list":["post-780","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerita","category-cerpen","category-sastra","tag-budiarto","tag-cerita","tag-cerita-sastra","tag-cerpen","tag-sastra"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/780","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=780"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/780\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":781,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/780\/revisions\/781"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=780"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=780"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.budiarto.org\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=780"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}