- Author: kakisemut
- Filed under: Cerita, Sastra
- Date: 31 December, 2008
Kuceritakan apa yang kulihat. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karena aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian, betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu, daun-daunnya yang kemerahan, butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru, gugusan awan merah muda, bayang-bayang yang putih dan memanjang, juga angin yang pucat kelabu. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku, seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu.
Baiklah, untuk kesekian kali, kuceritakan pada kalian apa yang kusaksikan.
Aku melihatnya di pinggir jalan itu. Seperti malam-malam sebelumnya, ia selalu muncul dengan gaun yang mengundang, kakinya jenjang, berdiri menunggu seseorang datang, dan kau menyebutnya pelacur. Saat pertama kali melihatnya, aku langsung tahu. Namanya Mawar. 28 tahun lebih enam hari. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam sembilan pagi. Sebulan setelah melahirkannya, ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan suaminya. Aku melihat garis pedih dan hitam. Aku bisa melihat semua yang hendak disembunyikannya. Bilur jejak luka di tubuhnya, dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah petak kontrakannya di pinggiran kota sana, masa lalunya yang penuh kesedihan, suaminya yang minggat, dua tahi lalat kecil di punggungnya. Sungguh, tak ada yang tak terlihat olehku yang buta. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. Itulah sebabnya aku menyukainya sejak pertama. Ia seperti dikutuk kecantikannya. Kuceritakan penglihatanku. Tapi ia hanya tertawa.
More.. »
Did i tell you how much i miss
Your sweet kiss?
Did i tell you i didn’t cry?
Well i lied
I lie lie lied
Over real over
When i nearly hit the face i loved
So tired of packaging the anger
Always pushing you away
Did i tell you you’re wonderful?
I miss you yes i do
Did i tell you that i was wrong?
I was wrong
Cos you’re wonderful yeah
More.. »
- Author: kakisemut
- Filed under: Cerita, Sastra
- Date: 18 December, 2008
Pertanyaan pertama: apakah kau perempuan?
Pertanyaan kedua: apakah orientasi seksualmu hetero?
Bila kedua jawaban tersebut adalah ”ya”, maka inilah pertanyaan ketiga: pernahkah berpikir untuk menghitung berapa laki-laki yang berkelindan di dalam hidupmu?
Bila ada salah satu yang terjawab ”tidak”, maka tidak ada pertanyaan lanjutan. Pembacaan ini boleh saja dilanjutkan, atau bisa saya dihentikan. Terserah opsi mana yang terpilih.
Ini sama sekali bukan sebuah uji statistik, bukan pula sebuah pikiran iseng yang mendatangi ketika keadaan diri sedang atau kosong tanpa berkegiatan. Tiba-tiba saja pertanyaan itu menghampiriku suatu ketika –tanpa merasa perlu untuk menjelaskan alasan yang melatarinya– dan menggandengku untuk menelusuri jalur perjalanan masa silam dengan sosok laki-laki di beberapa perhentiannya.
Banyak laki-laki kutemui di sepanjang perjalanan, tidak semuanya mampu membuatku untuk benar-benar berhenti dan singgah dalam kehidupan mereka.
More.. »
- Author: kakisemut
- Filed under: Lyric Music
- Date: 24 November, 2008
I want you to know that I’m happy for you
I wish nothing but the best for you both
An older version of me
Is she perverted like me
Would she go down on you in a theater
Does she speak eloquently
And would she have your baby
I’m sure she’d make a really excellent mother
‘Cause the love that you gave that we made
wasn’t able to make it enough for you to be open wide, no
And every time you speak her name
Does she know how you told me you’d hold me
Until you died, ’til you died
But you’re still alive
And I’m here to remind you
Of the mess you left when you went away
It’s not fair to deny me
Of the cross I bear that you gave to me
You, you, you oughta know
More.. »
- Author: kakisemut
- Filed under: Lyric Music
- Date: 19 November, 2008

I shut and lock the front door.
No way in or out.
I turned and walked the hallway, and pulled the curtains down.
I knelt and emptied the mouth of every plug around.
But nothing’s sound.
Oh, oh. Nothing’s sound.
I stayed where my last step left me.
Ignored all my rounds
Soon I was seeing visions and cracks along the walls.
Oh. They were upside down. Oh. Oh.
I swallow my words to keep from lying.
I swallow my face just to keep from biting. I, I…
I swallowed my breath and went deep, I was diving. Diving.
I surfaced and all of my being was enlightened.
Now I’m…
I’m in hiding.
I’m in hiding.
I’m in hiding.
I’m in hiding.
More.. »