Duniaku
By admin at 19 March, 2010, 09:03
Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok makhluk yang bisa mencintaiku tanpa menoleh ke belakang, tanpa meneliti dengan cermat segala hal dalam lekuk tubuhku, dalam benak akal sehatku, dalam hati dan perasaanku. Aku adalah aku, makhluk Tuhan yang patut dicintai dan mencintai. Aku tetaplah aku meski semua fatamorgana telah tercipta untukku. Aku akan selalu menghapus air mata yang mengambang lemah di kedua pipiku. Aku akan selalu berkata, oh derita ‘pergi‘ pergilah kau dari sisiku.
Itulah aku. Dan aku tetap seperti aku apa adanya. Aku menerima cibiran dan pandang sinis dengan senyum getir. Karena sesungguhnya aku adalah sosok yang terus berjalan dalam kegetiran itu sendiri. Aku menerima semuanya dengan pasrah, sepasrah wujudku yang dirongrong beragam virus ganas yang perlahan-lahan melemahkan seluruh sendi dan sel-sel di tubuhku. Aku sadar sakratulmaut berjalan perlahan mengikis hari-hari yang setia menemaniku. Aku sadar, aku mengutuk dan menyesali diriku, mengapa‘ mengapa semua ini menimpaku. Virus-virus itu kini entah telah menyebar ke mana, karena sebelum aku tahu dia bersemayam di tubuhku, aku telah mengencani banyak lelaki. Aku tahu dosaku terus menumpuk dan menumpuk. Akan tetapi‘ aku tak kuasa untuk merintanginya.
Dan ketika lelaki bernama Pram itu datang dengan cintanya yang tulus, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuatnya menderita. Dia adalah lelaki terkasih yang membuatku berharga sebagai wanita, sebagai manusia, sebagai makhluk Tuhan yang ingin mencintai dan dicintai. Pram‘ mengenang nama itu, air mata membasahi pipiku. Dia datang dengan setumpuk cinta untukku.
“Aku tidak peduli siapa dirimu, cinta telah menggiringku kepadamu‘ ,” katanya jujur sekaligus naif.
Aku meradang. Ingin kutolak semua keindahan yang telah ia berikan. Namun aku tak kuasa. Tatkala ia melamar dan memintaku untuk menemui orang tuanya, batinku menangis.
“Apa yang membuatmu yakin sehingga kau begitu ingin menjadikanku istrimu, Pram?” tanyaku.
“Kamu cantik, kamu mencintaiku, dan‘ kamu baik,” katanya tulus.
Aku terdiam. Kucari makna di balik kalimat pujiannya. Apakah lelaki ini bodoh? Pikirku. Matanya yang polos tidak menyiratkan beragam dusta, cibiran, atau jebakan. Aku mulai menyukai apa yang ada pada dirinya. Aku merasa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang benar-benar manusiawi. Dia berbeda dengan puluhan laki-laki yang pernah kukencani.
“Aku sungguh mencintaimu. Kita akan hidup bahagia,” katanya meyakinkan.
Aku tertawa getir. Pram. Aku tidak berani berjanji. Aku hanya mampu menikmati saat-saat indah yang kauberikan, meski hanya untuk sesaat saja. Aku tahu kau meradang tatkala kutolak lamaranmu, kau berlalu bagai singa yang terluka. Kenyataan itu memang membuatku merintih pilu.
Di kamarku, aku merenungi takdirku. Kulihat diriku di depan kaca. Inikah aku? Dalam wajah cantikku tersembul sosok asing yang selalu kubenci. Aku selalu berusaha memusnahkan sosok tersebut dalam bentuk apapun. Namun, beratus bahkan beribu kali kulakukan, dia tetap kembali dan kembali lagi.
Aku adalah aku, wajahku cantik. Hidungku bangir. Bibirku seksi. Mataku indah, rambutku hitam, lebat dan panjang bergelombang. Lekuk tubuhku sempurna. Sesempurna dewi malam yang turun dan masuk ke tiap mimpi para lelaki hidung belang. Semuanya indah, seindah sosok wanita yang bersemayam di jiwa dan imajinasiku. Aku adalah aku, aku tak pernah minta dilahirkan seperti adanya aku saat ini.
****
Malam ini, aku kembali melanglang buana. Melenggang di antara remangnya Jakarta. Kupamerkan lekuk indah moleknya tubuhku pada mobil-mobil mewah yang lewat. Aku tertawa, aku melirik genit menunggu lelaki hidung belang turun dari mobilnya dan membawaku pergi. Kucari mangsa baru dalam hiruk-pikuk dan pekatnya udara malam Jakarta. Kubasuh dukaku untuk sejenak membaur dalam hingar-bingarnya euforia sesaat yang kini kurasa
“Selamat malam, sayang. Siapa namamu?” tanya seorang lelaki dari balik kaca mobil mewahnya.
“Namaku Mona.”
“Ayo masuk!”
Kubuka pintu mobil sedan mewah itu dengan elegan. Perjalanan panjang seperti yang sudah pernah kulakukan kembali kulalui.
“Benar namamu Mona?” tanya lelaki itu.
“Tergantung!”
“Besok namamu apa?”
“Belum bisa kukatakan sekarang.”
Tangan lelaki itu mulai bergentayangan. Kutepis perlahan jemarinya yang kasar. Namun, semakin aku menolak, ia semakin beringas.
“Sudahlah, jangan sok suci. Kamu sama seperti yang lainnya,” katanya sambil menarik bahuku kasar.
Aku diam, kubiarkan dia berbuat sesukanya. Malam jahanam seperti malam-malam yang telah berlalu kembali kujalani. Kini aku menjadi Mona, esok entah aku akan menjadi siapa, aku tak tahu, karena aku belum merancangnya. Di kamarku yang kumuh, kubuka kembali diaryku. Kutulis dengan jelas apa yang kurasakan. Aku kembali menangis. Di sana, di balik kata-kata indah aku sadar, aku bukanlah aku.
Kujalani hari-hariku dengan beragam kejadian, dengan predikat baru yang mengukuhkan diriku menjadi seperti yang kuinginkan. Remangnya malam adalah kehidupanku. Saat seorang pria kaya bersedia memeliharaku dengan imbalan gaji bulanan, aku menerimanya dengan senang hati. Saat virus penyakit mematikan itu datang menghampiriku, aku kembali berteriak dan bertanya pada siapa saja yang mendengarkan, mengapa‘ mengapa ini menimpaku?
Hidupku terus bergulir mengikuti berlalunya waktu. Kadang aku ingin mengubah anomali itu, menjadi manusia normal, bekerja dengan aman di sebuah perusahaan yang biasa-biasa saja, menikah dan memiliki anak, memiliki cucu yang bisa kuajak berkeliling kota, namun semuanya hanya mengendap dalam keinginan sesaat. Aku kembali berhadapan dengan jeritan jiwa yang terus meletup-letup dan terus meradang mempertanyakan, mengapa‘ mengapa‘ aku seperti ini?
Tuhan, aku berdiri menatap-Mu di antara linangan air mataku. Seandainya saja aku bisa meminta, aku ingin mengubah waktu, aku ingin dilahirkan seperti manusia pada umumnya. Itu adalah keinginanku yang terdalam. Tapi aku tetaplah aku, aku selalu meronta dan mempertanyakan ketidakadilan ini.
Kadang aku bernyanyi dari satu bis kota ke bisa kota yang lain. Kadang, aku terjerembab dalam pelukan lelaki ke lelaki lain. Meski hampa, semua kujalani dengan ikhlas. Aku tahu ini salah, tapi aku tetap manusia, manusia yang butuh cinta.
“Terimalah dirimu seperti kau apa adanya,” seolah cermin itu menjawab
kegundahanku.
“Harusnya bukan aku yang berada di dalam raga ini!” bentakku kesal.
“Kalau begitu, lakukanlah apa yang hendak kau lakukan!”
“Percuma. Aku telah melakukan semuanya. Tapi semua orang menganggapku aneh!”
Aku yang berada di dalam cermin, menatap wajahku sendiri dengan bingung.
Kucoba untuk kembali ke wujud asal sebagaimana aku dilahirkan. Aku bertekad untuk memusnahkan semua kenangan masa kecilku. Di dalam nama itu aku telah menjalani hari-hari kelamku yang tak pernah berwarna putih cerah. Di dalam nama itu hidupku abu-abu.
Di dalam nama itu sosok wanita tersembul bagai perempuan sempurna yang selalu menebar pesona, mencari mangsa dalam remangnya Jakarta. Di dalam nama itu aku berusaha mengejawantah menjadi perempuan jelita yang berhak memperoleh cinta. Di dalam itu pula terletak alasan mengapa aku menolak pinangan beberapa lelaki yang mabuk kepayang padaku. Di dalam nama itu kini bersemayam penyakit HIV yang kuperoleh dari beragam lelaki yang mengencaniku. Di dalam nama itu aku telah berbuat banyak kesalahan. Di dalam nama itu pula kelak aku dimakamkan.
***
Itulah aku. Di balik jeruji besi ini kuterima takdirku dengan diam. Aku tak mau membela atau dibela. Aku tetaplah aku, manusia yang terus meradang, yang penuh dosa, yang selalu menangis dan memohon perlindungan pada siapa saja yang mau sejenak diam tak mencela atau menertawakan, yang mau mendengarkan kisahku. Di dalam nama asliku, di sanalah bersemayam jiwa kewanitaanku, di dalam nama itu telah kukuburkan beberapa lelaki yang pernah menjadi pacar-pacarku. Maka sebelum nyawaku melayang menuju awan gemawan, terlebih dahulu kuperkenalkan jati diriku, namaku Ryantono! ***
Depok, Maret 2009
Cerpen By. Fanny Jonathans Poyk
Dimuat Jurnal Nasional 14 Maret 2010











No comments yet.