100 Tahun Lalu, Kini dan Nanti, dan Cerita 100 Kata Lainnya

By at 4 September, 2010, 03:59

100 Tahun Lalu, Kini dan Nanti

Seandainya cerita ini Anda baca di tahun 2010, maka usiaku saat ini adalah 100 tahun. Karena aku terlahir dan memulai hidupku pada 1910. Seandainya Anda membaca cerita ini di tahun 2110, maka hidupku baru dimulai hari ini di tahun 2010.
Aku telah banyak melihat sejarah, baik yang lurus selurus sajadah, maupun yang buruk seharam jadah. Aku mengikuti Indonesia dengan perasaan harap-harap cemas, sekaligus gemas.
Bagaimana tidak? Aku banyak tahu, tetapi tak bisa berbuat sesuatu. Teman-temanku tak banyak berumur panjang, kalaupun ada, otak mereka telah lupa dan terlupakan. Karena aku hidup 100 tahun bagaikan seekor kura-kura yang berkubang di tepian sungai.
***
Dua Cermin di Rumahku

Ada dua buah cermin di rumahku. Sebuah cermin berada di pojok kamar tidurku dan sebuah lagi tergantung di kamar mandi.
Cermin di dalam kamar tidurku menyatu dengan meja rias, aku bisa melihat paras cantikku, rambut panjangku berwarna hitam berkilau saat aku menyisirnya. Ada lagi yang membahagiakan aku sebagai perempuan, lekuk tubuhku sangat seksi memantul dari cermin itu.
Aku sangat benci dengan cermin yang tergantung di kamar mandi, apabila aku memandang wajahku di cermin itu, kulit mukaku sangat pucat, wajahku tirus, payudaraku melempem seperti kerupuk layu, aku sangat buruk rupa, cermin itu memantulkan diriku sebenarnya.
Cermin itu berkata, “Dasar pelacur murahan!”
***

Menyampaikan Kabar Kematian

Dhani mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Malam ini baru saja ia ditinggal istrinya untuk selamanya. Venti,  istrinya, kini terbujur kaku sebagai mayat. Setelah berjuang selama sepuluh hari, akhirnya Dhani menyerahkan nasib hidup istrinya kepada sang maut.
Kini Dhani harus menyampaikan kabar kematian istrinya kepada tiga anaknya yang masih kecil. Dhani kemudian menemui ketiga anaknya yang sedang tidur-tiduran di sofa ruang tunggu rumah sakit.
“Anak-anak, Papa ingin menyampaikan sesuatu,” kata Dhani tercekat.
Nadira, Nisa dan Widya serempak menghampirinya, kemudian mereka saling berpelukan.
Dengan suara lirih, Dhani berkata,”Mama kalian sudah di surga.”
Tidak ada tangisan. Hanya hening mencekam, lalu senyap.
***

Kado Ulang Tahun untuk Ibu

Aku lupa, hari ini ibuku berulang tahun. Biasanya setiap tanggal ulang tahunnya, aku selalu menjadi anak paling pertama yang mengucapkan selamat untuk beliau. Namun kali ini aku merasa sangat berdosa, aku betul-betul lupa untuk menelepon ibu.
Pagi ini, aku mengantar istriku ke rumah sakit. Sudah dari semalaman, istriku mengeluh tidak enak badan.
“Sepertinya aku sakit Mas,” begitu ujar istriku sepulang kantor semalam.
Aku meraba dahinya. “Iya, badanmu agak hangat,” kataku.
Maka, pagi ini aku bergegas menuju rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, aku segera menelepon ibu dengan perasaan bahagia.
“Ibu, selamat ulang tahun. Aku memberimu kado harapan, seorang cucu!” seruku.
***

Keluarga Made

Namamu Dewa Made Susanta, tetapi kamu lebih suka memakai Susanta untuk memperkenalkan diri kepada orang. “Agar seperti bukan orang dari Bali,” begitu alasanmu.  Semula aku memanggilmu Made, tetapi begitu banyak Made di Jakarta, akhirnya aku memanggilmu Dewa.
Setahun sudah keluargamu berada di Jakarta, jauh dari indahnya pulau dewata, bergelut dengan hingar bingar Ibu Kota membantu aku dalam sebuah tim kerja yang kompak.
Keluarga Made, akhirnya aku sebut seperti itu, karena istri dan dua anakmu menyandang nama Made. Bulan depan selesai sudah masa penugasanmu di Jakarta, engkau akan kembali ke Bali bersama keluargamu. Aku ucapkan terima kasih dan salam sukses menyertaimu.
***

Di Dalam Kereta Bayi

Hampir setiap hari pasangan suami istri itu berada di taman kota, mereka selalu membawa kereta bayi tertutup tirai berwarna biru tua. Pagi dan sore, setiap cuaca cerah mereka bermain di taman kota dengan sang bayi.
Warna biru tua kereta dorong, serenta usia mereka. Sang suami sudah terbungkuk-bungkuk dan sang istri berambut kelabu dengan raut wajah keriput.
Mereka selalu memandang ke dalam kereta dorong bayi itu sambil tersenyum atau sesekali membunyikan mainan berkerincing. Pasti sang bayi merasa senang dan bahagia selalu disapa setiap hari cerah.
Sejatinya, tidak ada bayi dalam kereta dorong, di dalamnya hanya ada harapan untuk mempunyai buah hati.
***

Pisau Dapur

Shinta menahan isak tangis yang tercekat di tenggorokannya. Pelan-pelan ia merangkak menuju tempat tidur. Dari selangkangnya, darah segar bercucuran di mana-mana. Shinta kembali terisak-isak, bahunya terguncang-guncang menangis. Shinta baru saja diperkosa olehku.
Aku menghampirinya, kemudian kujambak rambut panjangnya yang kusam. Setelah itu aku tempeleng pipinya dengan sangat keras. Ia kini mengerang-erang menahan sakit, sekaligus menahan benci. Benci kepadaku.
Shinta tidak tinggal diam. Mengendap-endap ia meraih pisau dapur bekas mengupas buah apel yang kami makan berdua, sebelum aku memperkosanya. Lalu dengan melompat, ia menyergapku bagai serigala betina lapar.
Shinta seperti menerabas melabrakku, dihujamkannya pisau itu tepat di jantungku. Shinta tertawa puas!
***

Bunyi Sunyi di Lorong Kupingku

Beberapa hari belakangan, aku mendengar kupingku berdenging. Semula kukira ada serangga semacam nyamuk atau jangkrik yang berada di dalam kamarku. Tetapi ternyata suara denging yang kudengar bukanlah suara semacam serangga, tetapi denging itu berasal dari dalam kupingku.
Aku sendiri baru menyadari, bahwa suara itu sangat mengganggu. Suara denging itu kadang berirama pelan, namun terkadang melengking tinggi. Suara denging dalam kupingku, akan berbunyi tatkala kesunyian datang menyergapku.
Apabila malam telah larut, maka suara denging itu bertalu-talu menggedor lorong kupingku.
“Ngiiiiiing. Ngiiiiiiiiiing. Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!”
Sunyi tak bisa kuusir begitu saja, ia datang menyergap serupa macan kelaparan. Dan saat itulah denging menyayat di kupingku.
***
Menatap Harapan, Menelan Keinginan

Lelaki itu menatap nanar memandangi etalase sebuah toko perhiasan. Sesekali dicondongkan badannya ke kaca etalase sambil memanyun-manyunkan bibirnya. Kali yang lain ia mendongak menatap langit yang masih biru karena hari ini adalah pagi yang cerah.
Matanya yang nanar itu kembali menatap kaca etalase. Lelaki itu rupanya sangat tertarik dengan sebuah cincin berkilau keemasan dengan mahkota permata di atasnya.
Lelaki itu membungkuk kembali menatap lekat ke kaca etalase. Kemudian ia menelan ludah, menelan keinginan untuk mendapatkan sebuah cincin keemasan.
Ia tahu diri, tidak mungkin memilikinya. Sejurus kemudian ia duduk sambil menengadah tangannya dan berkata kepada orang-orang yang lewat.
“Sedekahnya Pak, Bu!”
***

Kebanyakan Melamun

Akhir-akhir ini aku banyak melamun. Melamun yang tak penting-penting. Seperti rambutku yang tipis ini direbonding. Menarik sekali tentunya, rambutku makin lurus dan langsing, pasti lucu.
Serta merta aku melamun ikut berdemonstrasi di Iran. Namun aku akan membela habis-habisan Ahmadinejad. Tak apalah aku dikecam dunia, kan aku hanya melamun.
Kadang, aku melamun bisa menutup semburan lumpur Lapindo. Tentu dengan telapak tanganku. Bukan kah aku bisa menyumpalnya dengan telapak tanganku yang bisa melebar ini?
Lantas, lamunanku terus menggerus khayalku, seperti lumbung padi yang digerogoti oleh tikus-tikus saban hari lama-lama habis.
Ketika kusadari, aku berada di panggung kampanye pilpres. Ya, aku calon presiden.

***

Pencatat Mimpi

Hampir setiap pagi selalu ada orang yang mengantri di depan rumah Pak Sayuti. Mereka bukan mengantri membeli bubur ayam atau nasi goreng. Karena, Pak Sayuti tidak membuka warung makanan sehingga orang perlu antri mendapatkan menu makan yang diinginkannya.
Pak Sayuti bukan juga agen jasa penjual tiket kereta api atau pesawat terbang. Mereka mengantri di depan rumah Pak Sayuti untuk mendapat giliran agar mimpinya tadi malam dicatat oleh Pak Sayuti. Sebab, Pak Sayuti adalah Si Pencatat Mimpi yang masih hidup.
Percaya atau tidak, Barack Obama pernah antri untuk dicatat mimpinya menjadi Presiden Amerika, sewaktu ia masih tinggal di Menteng Dalam, Jakarta.
***
Aku dan Presiden

Entah mengapa tiba-tiba aku dipanggil oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Seorang utusan pribadinya menemuiku di rumah. Tentu saja aku sangat terkejut, karena sejak beliau menjabat presiden, baru kali ini aku dipanggil untuk menemuinya.
“Bapak ditunggu oleh Presiden saat ini juga,” kata pria berjas hitam parlente itu
“Eh, iya, boleh saya ganti baju dulu?” tergeragap aku menanggapi perkataan utusan presiden itu.
“Sudahlah, tidak perlu. Baju Bapak cukup rapi untuk menemui Presiden,” ujar utusan itu sambil menggamit tangan saya bergegas menuju sebuah mobil yang telah menunggu.
“Pak Presiden lagi pegal-pegal, beliau minta dipijat!” lanjut utusan itu menjelaskan.
“Oh, pantas saya yang dipanggil!”
***

Termangu di Ciliwung

Aku termangu di pinggiran sungai Ciliwung. Memandangi bayangan wajahku yang terpantul dari air sungai keruh kecoklatan, penuh sampah.
Sesekali aku berdiri, berkacak pinggang dan kembali jongkok termangu seperti orang bodoh yang kehilangan kesabaran.
Air sungai mengalir cukup lancar, karena semalam Jakarta diguyur hujan lebat. Sampah-sampah plastik dan limbah buangan lainnya terseret pelan mengikuti air ke hilir.
Aku kembali berdiri, gelisah, peluhku mulai menetes satu-satu.
“Kenapa aku harus selalu seperti ini setiap pagi?” Aku mulai menggerutu. Rasanya beban yang kutahan ingin aku tumpahkan di sungai ini. Tetapi tidak kulakukan.
Karena aku tak biasa buang hajat besar di sungai. Aku butuh WC! ***

Menteng Dalam, 18 Juni 2010

Cerpen By. Bamby Cahyadi
Dimuat di Jurnal Bogor 28 Agustus 2010

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Categories : Cerita | Cerpen | Sastra


No comments yet.

Leave a comment