Erotomania
By kakisemut at 1 September, 2010, 01:32
Mungkin aku memang gila, tetapi aku tahu ia mencintaiku, sebagaimana ia seakan inginĀ terus melirikku pada setiap pertemuan kami di tempat umum. Mungkin aku yang tak tahu diri, menerobos keramaian, menggapai tangannya, lalu berkata, “Bu, jangan cemas, sebenarnya aku juga mencintaimu.”
Lalu sebuah tamparan manis yang kuterima. Lucu, bukan? Sungguh lucu kalau kau ditampar oleh seseorang yang mencintaimu. Barangkali cinta tak harus selamanya didefinisikan sebagai keindahan. Ada kalanya seseorang menjadikan cinta sebagai alat kekerasan, atau menggunakan kekerasan sebagai bukti kecintaan. Ia menamparku di keramaian, kemudian menghilang, orang-orang memandangku heran. Tamparan itu seperti isyarat bahwa ia tersiksa karena harus selalu mencintaiku, padahal aku masih seorang pengangguran.
***
Malam menggantung bintang. Aku duduk di teras, memetik gitar, menyanyikan irama kesunyian. Kesendirian ini seperti akar pohon yang tak berair. Tamparan itu masih tersisa, nikmat sekali. Aku membayangkan wanita itu sekarang begitu gelisah di rumahnya, ia duduk di dekat jendela, melepaskan pandangan keluar, ke jalan raya, berharap ada aku yang akan datang dengan sekuncup bunga, atau dengan gitar menyanyikan lagu-lagu asmara. Tetapi baginya, mungkin akulah bunga itu, bunga yang ia nantikan mekar ketika malam beranjak tua dan kami merasa sepenuhnya berdua.
Tenanglah, Sayangku yang manis, akan tiba suatu saat aku mengendap di rumahmu dan kubawa kau lari dengan kereta kencana ke Negeri Musim Semi, di sana kau akan tahu bahwa aku juga mencintaimu, dan kau tak perlu diam-diam menunjukkan cintamu padaku.
Ah. Tidak baik terlalu lama berkhayal.
Aku segera bangkit, ganti baju, lalu bergegas menuju rumahnya. Cukup jauh sebetulnya, kalau berjalan kaki butuh waktu dua jam. Tetapi apalah arti kelelahan dan waktu yang lama itu, kalau demi cinta, dua jam rasanya hanya seperti seratus duapuluh menit.
***
Setibanya di rumah calon kekasihku, aku dibukakan pintu gerbang oleh pembantu, lalu aku memencet bel pintu depan. Tak lama, pintu dibuka. Ada seorang gadis kecil yang agak manis.
“Cari siapa ya?”
“Ibu Ririh ada dik?”
“Oh, tunggu sebentar ya. Mamaaaa…”
Gadis kecil itu berlari ke dalam, membiarkan pintu terbuka, aku melihat perabotan berserakan dalam tatanan yang nyaris sempurna, ada sofa merah mengelilingi meja kaca yang di tengahnya ada bunga tujuh warna, ada guci yang duduk manis di samping sofa, ada televisi layar datar yang bersebelahan dengan akuarium yang ikannya selalu tersenyum ceria, ada lukisan-lukisan bercorak cerah dan tiang-tiang yang melengkung seperti menunjukkan sebuah sajian arsitektur yang layak masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia. Seperti rumah yang tidak pernah ditinggali. Aku jadi ingat acara-acara griya di televisi, semacam rumah idaman, rumah eksotis, rasanya rumah seperti itu justru tidak bisa didiami, ruangannya terlalu sempurna, mau duduk saja bingung.
Eh, kemana gadis kecil itu, barangkali sudah lenyap ditelan ruas tangga. Aku berdiri di sini, di pintu yang kelak akan menjadi pintu rumah kami. O, rumah kami, tidak, kalau kami sudah bersatu dalam ikatan cinta suci yang sederhana, mungkin aku akan mengajaknya pergi dari istana tipuan ini. Aku akan mengajaknya tinggal di sudut kota, di dataran tinggi tempat kami bisa menghayati isyarat matahari pagi, kita akan duduk menghirup
Tiba-tiba suaranya mengagetkanku. Ia, yang mencintaiku, sekarang sudah berdiri di depanku.
“Begini, Bu. Sepertinya saya masih butuh waktu. Ibu tahu kan, saya masih pengangguran, kerja serabutan, kadang jadi kuli, kadang jadi kernet, kadang tidur di perempatan, kadang tidur di kos teman, kadang menggelandang di Lempuyangan, kadang kesasar di Solo Jebres. Begitulah, Bu. Saya belum punya modal untuk membuat ibu bahagia.”
Hening sejenak.
“Sudah belum?” Ia bertanya.
“Eh, sudah. Itu saja yang perlu Ibu pahami. Makanya, Ibu yang sabar dulu ya.” Ucapku.
Wanita itu tak menjawab, lalu menutup pintu. Nah, biasanya, kalau seorang wanita diam, itu berarti jawabannya “Ya”.
***
Mungkin aku memang gila, tetapi aku tak ingin ia resah karena mencintaiku diam-diam, aku tahu, pasti tidak enak berada di antara anak-anak yang terpaksa dilahirkannya. Mungkin ia sudah tak tahan dengan suaminya. Mungkin suaminya yang telah mengurungnya agar cinta di relung hatinya itu tidak bisa tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Tetapi aku yakin, ia wanita yang kuat, ia bisa bertahan dari halangan apapun untuk terus mencintaiku.
Permasalahan memang ada pada suaminya, aku sering melihat lelaki itu berangkat kerja seperti pangeran dari istana kaca, naik mobil hitam yang bisa membuat silau mata. Jadi, dia menahan wanita yang mencintaiku itu dengan hartanya? Apakah karena aku hanya pengangguran sepanjang masa, lalu aku kalah? O, kekasihku, betapa banyak wanita yang larut dalam harta, dalam mata wanita jaman sekarang selalu ada rumah besar, televisi, mobil, pesawat pribadi. Tetapi di manakah cinta yang sesungguhnya?
Wanita itu pasti tersiksa, pura-pura bahagia. Hmm… Aku harus bertindak semampuku.
Keesokan harinya, aku nekat ke kantor lelaki itu, aku sudah tidak tahan lagi, dia tidak boleh mengganggu wanita yang diam-diam mencintaiku, meskipun itu istrinya sendiri.
Di depan kantor menjulang yang lantainya licin itu, ada sepotong Satpam.
“Maaf, ada perlu apa?” Tanyanya.
“Anu. Saya mau ketemu Pak Brian.”
Satpam itu terkejut.
“Wee lha, berani-beraninya ngajak ketemu Pak Brian.”
“Lho, kenapa memangnya?”
“Wee lha, Anda tidak tahu, ya? Dia itu orang sibuk, dia itu bos, tidak bisa seenaknya diajak bertemu, dia itu, mau ke toilet saja sudah ada jadwalnya.”
“Oo, bilang saja, ini menyangkut istrinya.”
“Wee lha, memangnya anda siapa?”
“Saya calon suami dari seorang wanita yang sebentar lagi akan jadi mantan istrinya Pak Brian.”
Satpam itu tidak menjawab, mungkin dia cuma lulusan SD Inpres, sehingga kata-kataku terlalu tinggi untuk ukuran otaknya.
“Begini Pak Satpam, bilang sama Pak Brian. Jangan lagi melarang-larang kalau istrinya ternyata memang mencintai saya.”
Satpam itu mengangguk-angguk.
“Coba diulang pesan saya, Pak.” Ucapku lagi.
“Saya harus menyampaikan pada Pak Brian, bahwa Pak Brian jangan lagi melarang istrinya kalau memang mencintai anda.”
“Weeee lha! Begitu dong, ini kukasih tip.” Kataku sambil menyerahkan uang seribu rupiah. Lalu pergi.
Keesokan harinya aku datang ke kantor itu lagi untuk menanyakan apakah Satpam itu sudah benar-benar melaksanakan tugasnya, tetapi yang aku lihat berdiri di balik pintu ternyata seorang Satpam lain, mungkin bukan gilirannya bertugas.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Tidak ada tuh.”
“Lalu?”
“Saya cuma mau ketemu Pak Satpam yang kemarin siang.”
“Kemarin siang?”
“Betul.”
“Hmm… Ooo, ya ya. Wah, tapi dia sudah tidak di sini, Pak.”
“Kenapa?”
“Dipecat.”
“Weeee lha!”
***
Mengapa tiba-tiba aku merasa bersalah? Sang suami pasti sekarang justru lebih ketat kepada istrinya karena kejadian itu. Dalam kesendirian malam yang tenang, aku membayangkan wanita itu sekarang sedang bercengkerama dengan suami dan anak-anaknya, mungkin mereka sedang bercakap-cakap.
“Ngapain sih kamu berurusan dengan orang gila itu?” Kubayangkan suaminya bertanya begitu, dengan nada ketus, padahal seharusnya wanita menerima kelembutan. Wanita itu, yang tetap cantik meski sudah ibu-ibu, akan tampak murung.
“Orang gila yang mana?”
“Yang sering datang ke sini, dua hari yang lalu saja dia nekat datang ke kantorku.”
“Lho, aku juga tidak tahu.”
“Jangan-jangan kamu ada main ya? Sudah ikut-ikutan sinting ya? Aku kurang apa coba, sudah tampan begini, kaya, pakai kacamata, bos juga, punya mobil lima.”
“Papa kurang perhatian sih sama Mama.” Kubayangkan gadis kecil itu memotong pembicaraan orangtuanya.
“Hush! Anak kecil tahu apa soal perhatian.”
“Eh, jangan gitu dong Mas, justru kamu itu yang kalah sama Manisha, sini, sini sayang, Mama peluk ya. Uuuu…”
Kubayangkan lelaki itu terdiam, kemudian sadar, dan meminta maaf kepada keluarganya, merekapun saling memaafkan, dan akhirnya berpelukan seperti Teletubies.
“Maafkan aku juga ya, Pa.” ucap istrinya.
“Aku juga, Pa. Aku sayang papa.” tambah anaknya. Mereka pun seperti sinteron yang harus berjilid-jilid belasan kali dan dituntut untuk berakhir bahagia.
Eh, sepertinya sistem khayalanku ada yang tidak beres, wanita itu mencintaiku, kenapa mereka malah semakin mesra? O, mungkin itu demi menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Bukankah wanita adalah makhluk paling andal menyembunyikan perasaan?
Sebaiknya aku mengganti khayalanku. Sebaiknya aku membayangkan keindahan: pada suatu masa, suatu waktu, aku dan wanita itu akan berkejaran di taman yang gerimis, aku mengejar dia yang bersembunyi di balik bunga sambil tersipu-sipu, lalu aku menangkapnya dan kami akan berguling bersama-sama layaknya film India.
Hmmm…
Otakku penuh dengan khayalan. Tetapi aku butuh kenyataan. Sedang apa sih wanita yang mencintaiku itu?
Malam ini juga, untuk kesekian kalinya, aku berangkat ke rumahnya.
***
Aku memilih untuk memanjat pagar bagian samping, ada pohon mangga yang bisa dijadikan pijakan agar terhindar dari tajamnya ujung pagar. Sebenarnya di situ juga ada anjing penjaga yang galak, tetapi sudah kujinakkan dengan sebungkus rokok yang kucampur ganja. Anjing itu sekarang pasti sedang merokok sambil memikirkan anjing pudel tetangga yang selalu menolak cintanya.
Situasi serba aman, aku bersembunyi di balik bunga-bunga. Dari tempat ini, bisa kulihat ruang tengah rumah itu hanya terbatasi oleh kaca tanpa tirai. Wanita itu, wanita yang mencintaiku, sedang duduk berdua dengan suaminya, menonton televisi, sementara anak gadisnya sedang bermain boneka, Si Unyil melawan Spongebob. Aku terus mengamati mereka. Ah, wanita itu baru saja mengecup kening suaminya, suaminya seperti terkejut. Tetapi kemudian membalas kecupannya. Mereka saling merangkul, bersandar ke sofa. Tersenyum.
Mungkin aku memang gila. Tetapi sungguh aku menangkap kecemasan itu setiap kali aku melihat wajahnya. Mungkin sekarang ia sengaja untuk bermesra-mesra dengan suaminya demi menyembunyikan perasaan cintanya kepadaku, agar suaminya tak curiga. Aduh, maafkan aku kekasihku, aku belum bisa berbuat apa-apa. O, betapa menderitanya dirimu, kau terpaksa bersandiwara begini, padahal sebenarnya kau sangat-sangat-sangat-sangat mencintaiku, padahal kau sangat-sangat-sangat-sangat merindukanku.
Ya, ya. Bisa dibayangkan, bukan?
Memang, sungguh kasihan sekali wanita itu. ***
Jogja, 2010
Cerpen By. Sungging Raga
Dimuat di Harian Global 28 Agustus 2010
(Erotomania adalah jenis khayalan di mana orang yang bersangkutan percaya bahwa orang lain jatuh cinta kepadanya)















No comments yet.