Sebuah Persalinan

By at 5 November, 2010, 04:10

Dokter itu melepas sarung tangannya dan menepuk-nepuk pundakku.

“Selamat, bayi anda laki-laki, beratnya sekitar tiga kilogram.”

“Tiga kilo?”

“Ya.”

“Seperti tabung gas yang suka meledak itu?”

“Tepat.”

“Wah…” Aku ternganga.

“Kenapa, Pak?”

“Apa anak saya juga bisa meledak?”

“O, tentu tidak, anak anda hanya pecah.”

“Hah?!”

“Hehe, saya cuma bercanda, sekali lagi selamat, proses operasi juga berjalan lancar. Istri anda sangat kooperatif, dan sportif.”

Dokter itu tersenyum, lantas berlalu, menikung ke arah kantin. Aku termangu. Terduduk kembali, pintu ruang bersalin memang belum dibuka. Kaca buram, kenapa harus ada kaca kalau buram dan tak bisa ditembus cahaya? Aku tak bisa melihat, tadi hanya sempat mondar-mandir seperti di film-film. Sekarang aku berharap, semoga istriku juga selamat. Aku ingin mengecup keningnya, memberinya roti, membelai rambutnya. Mengucap selamat dan sukses atas kelahirannya. Ya, ini anak pertama kami, anak yang sudah semestinya lahir ke dunia dalam keadaan selamat. Ini adalah impian terbesar istriku yang terlambat untuk terwujud, bagaimana tidak, setelah pernikahan, rasanya sudah berabad-abad kami belum punya anak, akhirnya sekarang lunas juga, sebab tetangga bilang, rumah tangga tak lengkap kalau tak ada anak, aku heran, kukira rumah tangga tak lengkap kalau tak ada televisi.

Istriku yang awalnya adem ayem, tiba-tiba merengek minta dibuatkan anak, minta agar aku berusaha lebih giat lagi, minta agar aku tak seharian mengayuh becak. “Istirahat dulu to, Mas. becaknya nggak akan pergi. Pikirkan nasib masa depan keluarga kita. Kita harus berusaha dan berdoa.” Begitu nasihatnya sekitar sepuluh bulan yang lalu. Aku menurut. Ia juga menasihatiku agar berhenti merokok. “Daripada membakar mulut, lebih baik membakar dapur,” katanya. Hidup jadi penuh nasihat, aku pun menurut lagi. Setelah memarkir becak secara permanen dan berhenti merokok secara sembunyi-sembunyi, setiap hari kerjaku cuma main kartu di pos ronda. Sambil berdoa tentunya.

Entah mendapat tuah darimana, nasihat istriku berbuah kehamilan juga. Apakah kehamilan bisa dibuat dari nasihat-nasihat? Tetapi waktu itu, ia tak langsung mengabarkannya terang-terangan, melainkan harus berbelit-belit terlebih dahulu.

“Aku ada kabar gembira, Mas.”

“Kabar gembira?”

“Ya.”

“Oo… Pasti hutang kita sama Si Pardi akhirnya dianggap lunas.”

“Bukan.”

“Lho, terus?”

“Ada kabar gembira yang lain.”

“Yang lain? Hmm… Setahuku, satu-satunya kabar gembira cuma kalau hutang-hutang kita lunas.”

“Ih, Mas ini, hutang itu sih malah tambah berbunga, tambah sejuk.”

“Terus apa?”

“Kabar gembiranya adalah…”

Ia diam sejenak.

“Apa?” Tanyaku.

“Apa hayoo… Coba tebak.” Ia mulai memanis-maniskan wajahnya, sebenarnya tak perlu dimanis-maniskan saja ia sudah manis, asal lihatnya dari lubang kunci.

“Apa sih?” Aku tak sabar.

“Ini. Tuing-tuing,” katanya sambil menunjuk ke arah perutnya.

“Oo… Kamu kenyang habis ditraktir makan ayam bakar bumbu Klaten sama temanmu?”

“Bukan.” Wajahnya jadi cemberut, tetapi justru bertambah manis. “Aku hamil mas.” Tambahnya.

“Ha…?”

“Iya, aku hamil! Hamil!”  Ia tertawa cerah, mulai melompat-lompat, seperti anak kecil, lalu memelukku. Aku sebenarnya juga ingin melompat riang, tetapi tiba-tiba saja perutku sakit. Apa aku juga hamil?

***

Itulah awal mula di mana kami hendak merintis sebuah komposisi keluarga yang lengkap: suami istri, si jabang bayi, dan sepotong televisi. Dan karena ini cerita pendek, maka jangan salahkan aku kalau tiba-tiba saja aku dan istriku sudah berada di rumah sakit untuk sebuah persalinan. Tak perlu lah diceritakan bagaimana perjuanganku sebagai suami yang setia selama sembilan bulan kandungannya. Istriku ngidam belasan kali, ingin main kasti, ingin tidur di kolong jembatan layang Lempuyangan, ingin makan kacang dengan kulitnya, ingin naik kereta Logawa tanpa karcis, ingin makan belut goreng di Solo, ingin pecel Madiun, lumpia di stasiun Surabaya Kota, apel Malang, mangga Situbondo, tape Bondowoso, sampai ingin makan ayam bakar bumbu Klaten yang buka cabang di sebelah barat Graha Sabha UGM—dan meski istriku ngidamnya antarkota antarpropinsi, aku  bisa memenuhi semuanya kecuali yang terakhir.

Dan setelah petualangan ngidam yang nyaris tak sudah-sudah itu, ternyata persalinan itu pun menyajikan hal baru bagiku.

“Wah, persalinan istri anda harus melewati operasi cesar.” Ucap sang Dokter.

“Operasi apa?”

“Cesar.”

“Kenapa itu?”

“Karena posisi bayinya tidak pas.”

“Kenapa bisa tidak pas?”

“Ya… Anggap saja, bayi di dalam kandungan itu sangat aktif bergerak, sehingga ketika akan dilahirkan jadi tidak pas.”

Wow, belum lahir saja, anakku sudah berpolah, aktif sekali, kelak bisa jadi aktivis.

“Lalu, operasi cesar itu untuk apa?”

“Wah, anda ini banyak tanya. Apa anda dilahirkan ke dunia hanya untuk bertanya? Begini Pak, gampangnya saja, anak anda tidak akan bisa keluar kalau tidak lewat operasi cesar.”

“Kenapa bisa begitu, Dok? Apa bayi saya tidak mau keluar karena takut hanya lahir untuk bertanya?”

“Aduh, pusing saya. Ini darurat, sebelum proses operasi dan persalinan, sebenarnya Anda cukup tanda tangan beberapa berkas saja, ini, silakan.” Katanya sambil menyodorkan sebuah map. Kami duduk di kursi ruang tunggu, kursinya bercat kelabu dan tampak baru, tiba-tiba aku merasa sedang berada di stasiun Lempuyangan, tempat banyak orang merantau dan hanya meninggalkan kenangan.

“Mm… Dok.”

“Ya?”

“Apa anak saya bisa lahir lewat tanda tangan?” Tanyaku sambil meraih pulpen, lalu menggoreskan beberapa garis lengkung abstrak.

***

Satu jam setelah proses kelahiran selesai, aku diminta memasuki sebuah ruangan, di sana sudah ada seroang perempuan muda yang amat cantik, senyumnya manis membius, namun ia seperti menjelma dewi api ketika menyodorkan selembar kertas berisi rincian biaya persalinan.

“Hah?  Delapan juta tiga ratus limapuluh ribu?”

Resepsionis cantik itu mengangguk, lalu menjawab, “Benar, Pak. Itu sudah dengan biaya obat dan kamar inap.” Suaranya indah sekali.

“Mm, anu… Sebentar ya Mbak, dompet saya ketinggalan di ruangan istri saya.”

Resepsionis itu mengangguk. Aku pun segera keluar dari ruangan. Otakku seperti dililit akar-akar pohon bakau. Gila, belum apa-apa, bayiku sudah bisa menghabiskan uang delapan juta?

Aku terus berjalan, dalam keadaan setengah melamun, di lorong rumah sakit, aku berpapasan dengan dokter yang mengurusi persalinan istriku tadi.

“Mm… Dok, sebentar.” Kataku. Dokter itu berhenti dan tersenyum.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Mm… Begini, Dok. Seandainya ya, seandainya saya belum bisa membayar biaya kelahiran anak saya, solusinya bagaimana, Dok?” Aku bertanya dengan sangat gugup.

“Oo… Hahaha. Itu sudah biasa kok di sini.”

“Sudah biasa?”

“Benar. Begini, coba and lihat, di ujung sana, di dekat kamar mayat, ada ruangan khusus untuk bayi-bayi. Nah, semua orang tua yang tidak bisa membayar biaya persalinan, bayinya akan diletakkan di sana sampai seluruh biaya bisa dibayar.”

Dokter itu berbicara dengan amat lancar, sementara aku merasa seperti ada petir membelah telingaku. Dokter itu kemudian berlalu begitu saja, sepertinya sangat sibuk. Aku terus melangkah gontai, masuk ke ruangan istriku.

Di dalam, kulihat istriku memalingkan mukanya ke samping. Sepertinya ia sudah tahu sermuanya, ah, kenapa wanita selalu sangat peka? Aku beralih ke sisinya, tampak air matanya menetes, membasahi bantal—ini bukan puisi.

Ia menangis sambil menghadap vas bunga dan jendela. Ada kupu-kupu kertas yang baru selesai dibuatnya.

“Tadi aku…” Aku mencoba untuk mulai bicara, tetapi istriku segera memotong,

“Sudah, Mas. Aku sudah tahu.”

Nah. Aku bingung, tak tahu lagi harus berkata apa. Aku hanya diam, memandang cicak di langit-langit.

“Mas..,” tiba-tiba istriku memanggil lirih.

“Ya?”

“Perutku dijahit, kan?”

“Betul.”

Istriku menarik napas pelan-pelan. “Mas, kalau kamu cinta padaku, cepat ambil bayi kita, masukkan kembali ke dalam rahimku. Aku tidak ingin lahir di rumah sakit ini, aku ingin lahir di bawah pohon asam saja, atau di bawah jembatan layang Lempuyangan, seperti gelandangan.”

Mendengar kata-katanya barusan, aku tertunduk lesu. Aku sedikit bangga padanya, di saat-saat begini, istriku masih saja ingin bercanda.***

By. Sungging Raga
Dimuat di Tabloid Nova 17 Oktober 2010

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Categories : Uncategorized


No comments yet.

Leave a comment